
JAKARTA – (KBKNEWS) – 24/8 – ABSENNYA Menteri Kehutanan Raja Juli Anthony pada kunker Presiden Prabowo Subianto ke kawasan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Riau menuai tanda tanya.
Namun Mensesneg Prasetyo Hadi (24/8) menjelaskan, ketidakhadiran Menhut sebagai orang Nomor 1 instansi yang membidang kehutanan dalam kunker Presiden hanya kebetulan saja.
Raja Juli juga tak tampak batang hidungnya di tengah rakor penanganan karhutla bersama Prabowo di Kalimantan dan Sumatera.
Menhut tak hadir saat Prabowo memimpin rakor dan meninjau titik karhutla di Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng), Sabtu (22/8) dan lagi-lagi absen dalam agenda yang sama di Riau dan Sumatera Selatan (Sumsel), Senin (24/8).
Prasetyo menyebutkan, ketidakhadiran Raja Juli bukan karena alasan tertentu yang spesifik. “Menhut tak tampak bersama presiden karena Raja Juli sebelumnya telah beberapa kali turun ke sejumlah titik karhutla, termasuk Sumsel, ” tuturnya.
“Nggak, ya cuma kebetulan kan karena kan beberapa kali juga Menhut sudah berkunjung ke lapangan, termasuk di Sumatera Selatan, dan kemarin sudah berkunjung juga ke Sumatera Selatan. Jadi ini hanya masalah kebetulan saja,” kilah Prasetyo di Palembang (23/8).
Pras pada bagian lain menjelaskan, kunjungan Prabowo ke Kalimantan dan Sumatera dalam rapat penanganan karhutla lebih difokuskan pada penguatan unsur TNI dan Polri untuk mendukung penanganan di lapangan.
Ia juga menyimpulkan, ketidakhadiran Raja Juli hanya kebetulan semata.
“Jadi ini hanya masalah kebetulan saja,” ujar Prasetyo.
Presiden Inginkan Kepastian DukunganÂ
Mensesneg bercerita, Prabowo dalam rapat di Kalimantan dan Sumatera ingin memastikan dukungan tambahan apabila diperlukan, baik berupa personel maupun peralatan untuk menangani karhutla yang berdampak hingga ke negara tetangga.
“Hari ini kan Bapak Presiden memang fokus mengajak Panglima TNI maupun Kapolri untuk menambah kekuatan kalau dibutuhkan personel maupun dibutuhkan alat-alat, termasuk heli water bombing, kemudian tadi ada permohonan motor trail yang dimodifikasi gitu,” terangnya.
Pras menegaskan bahwa tidak ada masalah khusus terkait ketidakhadiran Menhut dalam rapat yang dipimpin Prabowo di Kalimantan dan Sumatera.
“Jadi hanya masalah kebetulan saja,” tuturrya.
Penanganan karhutla yang terjadi tiap tahun seharusnya dilakukan secara terstruktur, sistematif dan masif serta juga tak kalah pentingnya terkoordinasi atau terpadu dan konsisten, berkelanjutan.
Bagaimana, di pulau dan kawasan hutan yang relatif sama (Kalimantan), pemerintah Malaysia mampu menangani dan mencegah karhutla, tentu harus menjadi bahan introspeksi kita semua. Di mana letak kesalahannya? (detik.com/ns)




