IHSG Ditutup Menguat di Tengah Fluktuasi Perdagangan

IHSG Bursa Efek Indonesia memulai perdagangan Jumat (6/3/2026) dengan pergerakan melemah. (Foto: pixabay)

Jakarta, KBKNews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan Rabu (4/2/2026) dengan penguatan, meski sempat bergerak volatil sepanjang hari. Indeks ditutup naik 0,3 persen atau bertambah 24,12 poin ke level 8.146,72. Hal ini menandai kembalinya IHSG ke zona hijau setelah melalui tekanan jual sejak pagi.

Nilai transaksi tercatat cukup aktif dengan total mencapai Rp25,07 triliun. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) berada di kisaran Rp14.706 triliun. Ini mencerminkan masih tingginya minat pelaku pasar meski sentimen belum sepenuhnya stabil.

  • IHSG: naik 0,3% ke level 8.146,72
  • Nilai transaksi: Rp25,07 triliun
  • Volume: 42,05 miliar saham
  • Frekuensi: 2,81 juta transaksi

Volatilitas Tinggi Sejak Pembukaan

Sejak awal perdagangan, IHSG bergerak dengan fluktuasi tajam. Indeks sempat melonjak hingga menyentuh level 8.194,68 atau menguat hampir 0,9 persen. Namun, tekanan jual yang meningkat membuat indeks berbalik arah dan turun ke zona merah.

Sekitar pukul 10.00 WIB, IHSG sempat kembali menguat. Meski demikian, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual kembali mendominasi hingga akhir sesi pertama, dengan IHSG ditutup melemah sekitar 0,53 persen.

Saham Perbankan Jadi Penopang Utama

Kondisi pasar mulai berbalik pada sesi kedua. IHSG perlahan bangkit seiring menguatnya saham-saham berkapitalisasi besar. Khususnya dari sektor perbankan yang tergabung dalam indeks LQ45.

Indeks LQ45 tercatat naik 1,1 persen, mencerminkan kuatnya minat beli pada saham-saham unggulan. Bank Tabungan Negara (BBTN) menjadi sorotan dengan lonjakan harga signifikan, naik 9,39 persen ke level 1.340.

Penguatan juga terjadi secara merata pada saham bank besar lainnya:

  • Bank Mandiri (BMRI): naik 3,52%
  • Bank Rakyat Indonesia (BBRI): naik 1,84%
  • Bank Negara Indonesia (BBNI): naik 0,87%
  • Bank Central Asia (BBCA): naik 1,96%
  • Bank Syariah Indonesia (BRIS): naik 8,11%

Kontribusi Emiten Big Cap ke Pergerakan Indeks

Seiring penguatan sektor perbankan, saham-saham bank menjadi penopang utama IHSG. BMRI memberikan kontribusi terbesar terhadap indeks dengan sumbangan sekitar 15,14 poin. Disusul BBCA sebesar 14,21 poin dan BBRI sekitar 7,86 poin indeks.

Dominasi saham-saham berkapitalisasi besar ini menjadi faktor kunci yang menahan tekanan dan mengangkat IHSG kembali ke zona positif menjelang penutupan perdagangan.

Aliran Dana Asing Fokus ke Saham Bank

Penguatan saham perbankan terjadi seiring derasnya aliran dana asing ke sektor tersebut. Saham BBTN, BMRI, BBRI, dan BBCA tercatat masuk dalam daftar lima besar saham dengan nilai pembelian bersih (net foreign buy) tertinggi pada perdagangan hari ini.

Meski demikian, secara keseluruhan investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih. Sepanjang sesi pertama, asing membukukan nilai beli sekitar Rp3,5 triliun dan jual Rp4,6 triliun, sehingga tercatat net foreign sell sebesar Rp1,1 triliun.

Reformasi Pasar Jadi Perhatian Investor

Di tengah penguatan IHSG, pasar saham domestik masih dibayangi sentimen reformasi struktural. IHSG sebelumnya menjadi sorotan setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) memutuskan membekukan proses rebalancing indeks Indonesia untuk periode Februari 2026.

Menanggapi hal tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyiapkan sejumlah langkah pembenahan guna mengembalikan kepercayaan investor global.

Tiga fokus reformasi pasar saham Indonesia:

  • Peningkatan free float saham dari 7,5% menjadi 15%
  • Pembukaan kepemilikan saham dengan ambang di atas 1%
  • Perluasan klasifikasi pemegang saham dari 9 menjadi 27 tipe investor

Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperkuat transparansi, likuiditas, serta daya tarik pasar saham Indonesia di mata investor global.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here