JAKARTA – Indonesia berkomitmen akan terus membantu Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) yang kini sedang menghadapi masalah dana.
UNRWA mengalami defisit sebesar USD217 juta, terlebih saat Amerika Serikat memutuskan untuk menghentikan pendanaan.
“Ada kekurangan dana yang menyulitkan mereka untuk bergerak membantu 5,3 juta pengungsi Palestina. Dari defisit itu ternyata sudah tertutup sebesar 60 persen,” kata Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi.
Retno menambahkan Indonesia menggalang dukungan dari anggota-anggota PBB untuk sisanya 40 persen atau sekitar USD180 juta.
Indonesia tak hanya menggalang dukungan, namun juga berupa dana. Menlu Retno mengatakan, ada dua sistem pendanaan untuk UNRWA, dana dari PBB dan dana kontribusi sukarela.
“Kita akan bantu kontribusi sukarela. Jadi dananya dari pemerintah dan kita akan terus mengajak para filantropis Indonesia untuk membantu UNRWA,” ungkap dia.
Lebih jelas, Retno menerangkan, sebagaimana dilansir metrotvnews, Kamis (27/9/2018), selama tahun 2018, bantuan Indonesia untuk UNRWA, baik yang berasal dari pemerintah, sektor swasta, perguruan tinggi, maupun perorangan (philanthropist) telah mencapai nilai USD1,365 juta.
Saat ini sedang dijajagi rencana peluncuran (launching) kampanye #Dignity is priceless yang akan dilakukan oleh UNRWA bekerja sama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dalam rangka menggalang dukungan dari publik Indonesia untuk membantu pengungsi Palestina.




