Industri Senjata “Panen Raya”

Rudal panggul Javelin buatan AS yang jadi momok tank-tank Rusia dalam perang di Ukraina. Perang di sisi lain membuat industri, pedagang dan pialang senjata panen raya .

PERANG di satu sisi merupakan petaka atau kesengsaraan bagi negara atau bangsa yang sedang terlibat, namun di sisi lain menjadi “berkah” bagi industri, penjual atau pialang senjata.

Tidak berlebihan, jika mereka yang terlibat perdagangan atau industri persenjataan dijuluki “merchant of death” atau “penjaja  maut” atau kematian karena yang mereka jual-beli kan adalah alat-alat pembunuh atau pencabut nyawa.

Amerika Serikat misalnya, di tengah kecamuk Perang Rusia vs Ukraina diawali invasi negara Beruang Merah itu pada 24 Feb. lalu, meraup 50 miliar dollar AS (Rp750 triliun) pada tahun fiskal 2022, dibandingkan 35 miliar dollar (Rp525 triliun) pada 2021.

Sampai hari ini, konflik antara kedua negara bekas sempalan Uni Soviet itu alih-alih mereda, malah sebaliknya, makin meluas dan brutal, karena Ukraina yang kalah jauh dari jumlah personil mau pun persenjataan, mampu mengimbangi mesin perang raksasa Rusia.

Penyebabnya, apalagi kalau bukan hasil  dari mengalirnya pasokan alutsista modern dari AS dan negara-negara Barat sekutunya.

AS sendiri, sejak awal Perang Rusia – Ukraina, telah menggelontorkan bantuan persenjataan sekitar 5,6 miliar dollar AS (Rp84 triliun) pada Ukraina a.l 1.400 unit rudal panggul anti pesawat “Stinger”, 6.500 unit rudal antitank “Javelin”, 700 drone serang (UAV) Switchblade dan peluncur roket HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System).

Tentu saja pengiriman alutsista besar-besaran oleh negara-negara Barat terutama AS membuat berang pemerintah Rusia, karena telah menghambat  gerak maju pasukannya di palagan Ukraina.

Tenggelamnya kapal penjelajah kebanggaan Rusia, Moskva April lalu akibat serangan rudal Ukraina dan runtuhnya jembatan Kerch yang menghubungkan wilayah Krimea (dicaploknya pada 2014) dan Ukraina Selatan (Kherson dan Zhaporizhia yang dianeksasi melalui referendum sepihak awal Oktober) merupakan pukulan memalukan bagi Rusia.

Rusia juga terpaksa merekrut 300-ribu pasukan cadagan dn relawan untuk meningkatkan moral pasukannya yang anjlok akibat sejumlah kemunduran di medan tempur setelah pasukan Ukraina makin percaya diri berkat aliran pasokan persenjataan dari AS dan Barat.

 Lomba Persenjataan

Walau pun mahal karena sarat dengan inovasi baru dan hitech, perlombaan persenjataan tidak bisa dihindari, mengingat para pihak yang berseteru selalu ingin lebih unggul dari lawannya.

Institut Riset Perdamaian Sstockholm (SIPRI) pada 2021 melaporkan, anggaran belanja militer global pada 2021 tercatat sekitar2,1 triliun dollar AS (sekitar Rp30.366 triliun), tertinggi AS (801 miliar dollar ), disusul China (293 miliar dollar, India (76,6 miliar dollar) dan Inggeris (65,9 miliar dollar).

Ironis, di ambang resesi global termasuk kesulitan pangan yang mengancam dunia ditandai dengan 28 negara yang meminta dana talangan IMF,  alokasi belanja militer dan industri alat pembunuh terus meningkat. (AP/AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement