aInfluenza pada lansia adalah sebuah ancaman yang kerap luput dari perhatian publik, padahal dampaknya bisa sangat serius. Lansia merupakan kelompok usia yang paling rentan terhadap penyakit pernapasan karena sistem imun yang melemah, fungsi organ yang menurun, serta adanya penyakit penyerta seperti hipertensi, diabetes, atau gangguan jantung. Ketika influenza menyerang, risiko komplikasi seperti pneumonia meningkat tajam, dan hal ini dapat berujung pada kematian bila tidak segera ditangani.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan tingginya prevalensi penyakit pada Lansia, seperti hipertensi (63,5%), obesitas (14,1%), diabetes (5,7%), pneumonia (5,6%), dan ISPA (4,6%), yang semuanya memperburuk kerentanan lansia terhadap influenza. Meskipun sebagian besar lansia masih mandiri dalam aktivitas sehari-hari, sekitar 13% sudah mengalami ketergantungan ringan hingga berat, sehingga ketika terserang influenza mereka lebih sulit pulih dan berisiko tinggi mengalami komplikasi. Temuan Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 yang dilakukan pada sekitar 7 juta Lansia menambahkan dimensi lain: hampir semua lansia kurang aktivitas fisik, lebih dari sepertiga mengalami obesitas sentral, dan sepertiga lainnya menghadapi gangguan kognitif. Mengapa lansia lebih rentan? Secara fisiologis, cadangan paru dan jantung mereka sudah menurun sehingga tidak mampu menoleransi stres pernapasan dan kardiovaskular. Beban penyakit kronis yang lebih tinggi memperbesar efek polusi, sementara penggunaan obat tertentu membuat mereka lebih sensitif terhadap perubahan oksigenasi dan tekanan darah. Kombinasi faktor penyakit kronis, keterbatasan fungsional, dan penurunan kognisi ini menjadikan influenza pada lansia bukan sekadar penyakit musiman, tetapi ancaman serius yang dapat menurunkan kualitas hidup dan martabat mereka.
Infeksi saluran nafas atas (ISPA) dan influenza sering dianggap sama, padahal sebenarnya berbeda. ISPA adalah istilah umum untuk infeksi saluran pernapasan akut yang mencakup berbagai penyakit, mulai dari batuk, pilek, faringitis, bronkitis, hingga pneumonia. Penyebabnya beragam: virus seperti influenza, RSV, adenovirus, dan rhinovirus; bakteri seperti Streptococcus pneumoniae; serta faktor lingkungan seperti polusi udara dan asap rokok. Lansia yang memiliki komorbiditas lebih mudah jatuh sakit dan sulit pulih. Secara global, WHO memperkirakan influenza musiman menyebabkan 290.000 hingga 650.000 kematian per tahun, dengan proporsi terbesar terjadi pada lansia.
Influenza, sebaliknya, adalah salah satu jenis ISPA yang khusus disebabkan oleh virus influenza tipe A, B, atau C, dengan gejala khas seperti demam tinggi mendadak, batuk kering, nyeri otot, dan kelelahan. Jadi, influenza termasuk dalam kategori ISPA, tetapi tidak semua ISPA adalah influenza. Influenza lebih menular dan berpotensi fatal, terutama bagi lansia dan kelompok dengan penyakit kronis, sehingga perlu perhatian khusus dalam pencegahan dan penanganannya.
Data nasional Januari hingga Agustus 2026 mencatat lebih dari 2,4 juta kasus ISPA pada Lansia. Polanya jelas: kasus melonjak di awal tahun, menurun pada pertengahan, lalu kembali naik di bulan Agustus. Tren ini sejalan dengan laporan media massa yang menyebutkan adanya lonjakan kasus influenza A, termasuk subtipe H3N2 yang dikenal sebagai “super flu”, pada September 2026. Provinsi padat penduduk seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DKI Jakarta, dan Banten menjadi episentrum kasus, dengan angka mencapai puluhan ribu lansia setiap bulan. Meski jumlah kasus lansia lebih kecil dibanding dewasa, risiko komplikasi jauh lebih besar. Contoh di Aceh Januari 2026, dari 2.902 kasus lansia, 35 di antaranya adalah pneumonia — angka yang tampak kecil, tetapi berpotensi fatal.
Melihat fakta ini, perlindungan terhadap lansia menjadi sangat penting. Vaksinasi influenza tahunan harus diperluas, terutama di wilayah padat penduduk. Skrining rutin di Puskesmas Santun Lansia dan rumah sakit geriatrik dapat membantu deteksi dini. Edukasi keluarga dan caregiver tentang tanda bahaya influenza juga krusial, begitu pula penyediaan ruang sejuk dan hidrasi cukup untuk mencegah komplikasi saat cuaca ekstrem. Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk menciptakan lingkungan ramah lansia, mulai dari akses air bersih, ventilasi rumah yang baik, hingga sistem evakuasi aman saat bencana.
Panjang umur seharusnya berarti panjang pula masa sehat. Influenza pada lansia bukan sekadar penyakit musiman, melainkan ancaman yang dapat menurunkan kualitas hidup dan martabat mereka. Dengan langkah sederhana seperti vaksinasi, perhatian keluarga, dan dukungan komunitas, kita bisa menjaga lansia tetap sehat, mandiri, dan produktif, sehingga mereka dapat terus berkontribusi dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.




