PALEMBANG – Ketidakmerataan distribusi bawang dari sentra produksi ke daerah lain menjadi penyebab utama naiknya harga di pasaran.
Penyebab kenaikan harga bawang tersebut diungkapkan Sekretaris Kementerian Perdagangan, Sri Agustina di Palembang, Sabtu (14/5/2016).
“Sebenarnya jika dibandingkan antara produksi dan konsumsi, bawang justru surplus, tapi persoalannya distribusinya tidak merata, sehingga untuk daerah yang tidak kebagian atau tersendat pengirimannya dipastikan harganya melambung seperti terjadi pada bulan lalu,” ujarnya.
Menurutnya, menjaga stabilitas harga bawang juga tidak mudah karena komoditas ini tergolong tidak bisa distok lama sehingga harus segera dilepas di pasar. Selain itu, kebutuhan petani yang tinggi terhadap uang tunai kerap membuat mereka telah menjual bawang justru sebelum dipanen (saat panen sudah milik tengkulak).
“Terkait ini, pemerintah berupaya mengeliminasinya dengan pembelian oleh Bulog, sehingga harga yang terbentuk di tingkat petani menjadi sesuai,” kata dia.
Pasokan bawang di Jawa seharusnya bisa tercukuppi karena Bulog telah melakukan pembelian di sentra bawang di Cirebon, Tumanggung, Brebes, dari 23 sentra yang ada di Jawa.
“Hanya daerah Indonesia Timur saja yang masih rawan, tapi tidak bisa juga divonis seperti itu karena ini sedang proses dan Bulog menargetkan bisa melakukan banyak pembelian di sentra produksi bawang,” ungkapnya.
Saat ini harga bawang yang terbentuk di pasaran secara rata-rata nasional Rp34 ribu per kg, atau masih jauh dari harga acuan Rp 25.600. Ke depan, untuk lebih menstabilkan harga bawang yang menjadi salah satu komoditas penyumbang inflasi, pemerintah akan memerintahkan Bulog untuk lebih aktif dalam pembelian bawang di sentra produksi. (Sumber: Antara)





