JAKARTA, (KBK) – Ratusan yayasan filantropi bermunculan, mulai dari yayasan keluarga, yayasan perusahaan, yayasan berbasis keagamaan hingga yayasan komunitas.
Namun menurut Hamid Abidin Direktur Eksekutif Perhimpunan Filantropi Indonesia terdapat beberapa faktor penghambat berkembangnya kegiatan filantropi. Salah satunya para penderma masih salah membedakan filantropi dengan charity.
“Pertama kita bedakan dulu filantropi dengan charity. Filantropi itu untuk jangka panjang sedangkan charity hanya sebentar,” ujar Hamid saat Press Confrence IPfest di Jakarta, Rabu (23/09/16).
Lanjut Hamid, yayasan filantropi harus memiliki lembaga yang memiliki kemampuan membina para kaum marjinal supaya mereka tidak kembali ke “habitat” aslinya.
Penghambat berikutnya menurut Hamid ialah berhubungan dengan pola perilaku penderma yang tidak ingin namanya disebut ketika melakukan kegiatan filantropi.
“Sarat utama menjadi lembaga filantropi yang bagus adalah transparansi data. Nama penyumbang wajib dicantumkan untuk keperluan data base. ini tidak riya karena nama penyumbang tidak diumbar. Kebiasaan masyarakat Indonesia hanya menyematkan nama hamba tuhan. Disini PR kita,” ujarnya.
Terakhir ialah terkait masalah birokrasi dimana untuk mendirikan yayasan seperti yayasan filantropi perizinannya masih sulit didapat.





