JAKARTA – Stunting menjadi permasalahan mendasar dalam pembangunan kesehatan terutama dalam peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia di Indonesia. Terlebih dimasa pandemi, kemampuan keluarga dalam asupan gizi seimbang menurun secara drastis.
Prevalensi stunting di Indonesia, berada pada urutan 115 dari 150 negara di Dunia dan berada pada posisi ke 8 dari 10 negara Asean.
Data tahun 2019, angka stunting di Indonesia sebesar 27,7 %. Artinya 1 dari 3 anak Indonesia menderita stunting. Angka ini diperkirakan akan naik dimasa pandemi covid 19.
Utk TBC sendiri, setiap tahun ada 98.000 kematian karena TBC. Indonesia peringkat ke 3 kasus TBC terbanyak di dunia. Pada anak terdapat 60.000 kasus TBC anak di Indonesia per tahun.
Upaya pengobatan TBC perlu disuport dengan perbaikan gizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan keberhasilan pengobatan. Sayangnya banyak diantara keluarga pasien TBC yang tdk mampu memenuhi asupan gizi secara adekuat.
Hal inilah yang melatarbelakangi diskusi awal program peningkatan Asupan Gizi pada balita diwilayah lokus stunting dan TB dilakukan oleh kementrian kesehatan bersama dengan Organisasi masyarakat yg memiliki pengalaman, jejaring kemitraan dan penggerak dimasyarakat sampai tingkat desa.
Upaya ini akan dilakukan secara simultan bersama lintas kementrian, lintas sektor dan berbasis pemberdayaan masyarakat.
Dompet Dhuafa bersama dengan 9 organisasi masyarakat diantaranya PP Muhammadiyah, PP Aisyiah, PBNU, Fatayat NU, Wahana Visi Indonesia, Perdhaki, Pelkesi, Laznas BSM ummat dan Yayasan Rotary Indonesia, hadir dan menyampaikan lesson learn program kesehatan dan Gizi bayi balita dalam upaya percepatan penurunan stunting dan peran penanggulangan TBC dalam memperkecil kesenjangan di masyarakat menuju eliminasi TBC tahun 2030
Perlu koordinasi dan dukungan seluruh stakeholder utk mampu mengintegrasikan program ini menjadi upaya nyata dalam perbaikan gizi anak Stunting dan TBC di Indonesia.




