
IRAN bereaksi keras atas serangan Israel yang dilancarkan terhadap sejumlah sasaran militernya 26 Okt. lalu, sebaliknya Israel mengingatkan, Iran melakukan kesalahan jika memulai eskalasi konflik baru.
Serangan pesawat-pesawat tempur Israel menyasar sejumlah situs radar dan rudal-rudal anti pertahanan udara serta pabrik rudal Iran termasuk di sekitar Teheran, provinsi Khuzestan dan Ilam sebagai aksi balasan atas dua kali serangan ratusan rudal balistik Iran ke wilayah Israel pada 13 April dan 1 Oktober lalu.
Sebaliknya, serangan balik Iran dilancarkan sebagai aksi pembalasan atas tewasnya dua jenderal pasukan Garda Revolusi (IRGC) di Damajus, Suriah dan sejumlah petinggi Hamas serta Hizbullah dalam beberapa bulan terakhir ini.
Pihak Israel dalam sejumlah pernyataan memperingatkan Iran agar tidak melakukan pembalasan, sementara Iran yang menyatakan tidak ingin berperang, bersumpah untuk mengambil reaksi keras atas aksi negara zionis itu.
“Aksi rezim Zionis menyerang negara kami adalah tindakan putus asa. Iran akan meresponsnya dengan keras dan membuatnya penuh sesal,” kata Mohammadi Golpayegani, asisten senior pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei seperti dikutip Kantor Berita Tasnim.
Dia memuji kinerja pertahanan udara Iran dalam mencegah masuknya pesawat tempur Israel ke wilayah negaranya dan kerusakan akibat serangan Israel tersebut hanya “minimal”.
Golpayegani adalah seorang ulama berpengaruh di Iran yang bertindak sebagai kepala kantor Ayatollah Khamenei, yang memiliki keputusan akhir dalam semua masalah negara.
Sebaliknya PM Israel Benjamin Netanyahu mengeklaim, serangan tersebut “menghantam kemampuan pertahanan dan produksi rudal Iran”.
Sedangkan AB Iran mengatakan mengklaim, serangan tersebut menewaskan empat personel militer dan menyebabkan “kerusakan terbatas” pada beberapa sistem radar.
Hal senada juga dilontarkan oleh salah satu Komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang tidak bersedia mengungkapkan identitasnya, memperingatkan Israel akan respons “tak terbayangkan” terhadap Israel.
“Israel telah mencapai tahap kehancuran dan akhir-akhir ini mereka bertindak secara membabi buta dan tanpa mematuhi peraturan apapun, mereka melakukan setiap kejahatan,” tambahnya, menurut Tasnim
Sedangkan Jubir Milter Israel Daniel Hagari menyebutkan: “Iran akan membayar mahal jika memulai babak baru eskalasi konflik kedua negara.
“Pesan kami jelas: Semua orang yang mengancam Negara Israel dan berusaha menyeret kawasan itu ke dalam eskalasi yang lebih luas akan membayar harga yang mahal,” serunya.
Mengutip keterangan dua pejabat Israel, New York Times melaporkan, serangan ket tiga wilayah di Iran berakhir setelah Israel menyerang sekitar 20 lokasi selama beberapa jam di Iran.
Mereka menyebut, serangan tersebut menghantam fasilitas produksi rudal, susunan rudal permukaan-ke-udara, dan kemampuan udara lainnya di beberapa wilayah.
“Berdasarkan informasi intelijen, pesawat IAF (AU Israel) menghantam fasilitas pembuatan rudal yang digunakan untuk memproduksi rudal yang ditembakkan Iran ke Israel selama tahun lalu.
“Secara bersamaan, IDF (militer) menyerang situs-situs peluncur rudal permukaan-ke-udara dan radar Iran bertujuan agar membuat aksi pesawat-pesawat tempur Israel lebih leluasa di koridor udara Iran.
Menimba pengalaman dari berbagai konflk atau perang, biasanya para pihak melontarkan retorika-retorika saling mengalahkan lawan. Nanti dalam perang nyata, semuanya akan teruji.
Dalam kasus Iran vs Israel, Iran unggul dalam kepemilikain rudal-rudal balistik (sekitar 3.500-an pucuk) yang sebagian menjangkau wilayah Israel, sebaliknya Israel dikenal sangat efisien dan melakukan hal tak terduga lawan.
Jika perang terbuka pecah, pertahanan udara berlapis-lapis Israel yakni Iron Dome, David Slings dan Arrow I dan II akan diuji apakah mampu mencegat rudal-rudal Iran, sebaliknya keunggulan udara Israel, apakah juga akan dimanfaatkan lagi untuk melancarkan perang kilat seperti dilakukan pada Perang Enam Hari pada 1967 dan Perang Yom Kippur pada 1973 melawan negara-negara Arab. (Reutes/AFP/ns)




