KAWASAN Timur Tengah seolah-olah ditakdirkan tidak pernah sepi dari konflik dan kini diwarnai saling gertak antarapemimpin Iran dan Israel.
PM Israel Benyamin Netanyahu mengancam, pihaknya tidak akan ragu menyerang Iran dan sekutu-sekutunya jika melakukan tindakan yang bisa membahayakan keamanan negerinya.
Perang kata diawali dengan ditemukannya rerontokan pesawat nirawak (drone) yang jatuh di wilayah Israel, diduga milik Iran yang dioperasikan dari dalam wilayah Suriah.
Kejadian itu diikuti serangan udara pesawat-pesawat tempur Israel ke sasaran pertahanan udara Suriah dan juga lokasi yang diduga menjadi pangkalan drone Iran.
Sebuah pesawat tempur F-16 Israel berhasil ditembak jatuh, walau dibantah dan dinyatakan pesawat jatuh akibat kerusakan mesin.
Sambil menunjukkan potongan drone, dalam konferensi keamanan di Muenchen, Jerman (18/2), Netanyahu menyindir Menlu Iran Javad Zarif apakah ia tidak mengenali lagi drone miliknya itu.
Sebaliknya, Javad Zarif menanggapi pernyataan Netanyahu dengan menyebutkannya sebagai komedi kartun yang tidak layak dibalas dan menegaskan lagi bahwa pesawat tanpa awak itu bukan milik Iran.
Zarif menilai, jatuhnya pesawat tempur F-16 Israel oleh pasukan pertahanan udara Suriah telah meruntuhkan reputasi negara itu yang seolah-olah tidak terkalahkan.
Dalam Perang Enam hari pada 1967, pesawat-pesawat tempur Israel dengan cepat melumpuhkan kekuatan militer Mesir, Suriah dan Jordania yang mengepungnya, sementara dalam pertempuran udara di atas Lembah Beka’a, Lebanon pada l982, Israel hanya kehilangan dua pesawat dibanding dengan 84 pesawat Suriah.
Eskalasi ketegangan antara kedua negara semakin meningkat dalam bulan-bulan terakhir ini akibat kecemasan negara Yahudi itu terkait kehadiran Iran di Suriah dalam upaya memperluas hegemoninya di Timur Tengah.
Netanyahu menyesalkan sikap Iran pasca takluknya NIIS di Irak dan Suriah yang dituding sedang membangun pengaruh di kawasan dengan melibatkan diri di Irak, Suriah, Lebanon, Gaza dan Yaman.
Dari segi perimbangan militer, Israel walau hanya berkekuatan 187.000 pasukan yang berdinas aktif, didukung alutista modern dan canggih seperti pesawat tempur F-15 dan F-16, helikopter serbu Apache buatan AS dan tank-tank Merkava buatannya sendiri.
Sebaliknya, Iran yang berkekuatan 650.000 pasukan dinas aktif, didukung pesawat-pesawat tempur relatif tua buatan AS seperti F-14 Tomcat, tank-tank T-72 buatan Rusia atau M48 buatan AS karena selama bertahun tahun mengalami embargo senjata.
Walau demikian, di tengah embargo senjata, Iran terus mengembangkan rudal-rudal balistik dan rudal-rudal pertahanan udara, sama juga yang dilakukan Israel. Kelebihan Israel, negara ini juga memiliki kekuatan nuklir.
Jika pecah perang terbuka antara keduanya, tentu mengakibatkan kerugian dan kerusakan dan jumlah korban yang besar. (AP/AFP/Reuters)





