Iran Kecam Normalisasi Hubungan Maroko dan Israel dan Sebut Sebagai Pengkhianatan Islam

Ilustrasi UEA dan Bahrain Resmi Tandatangani Perjanjian Normalisasi dengan Israel/ VOA

TEHERAN – Seorang penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei,  mengecam normalisasi hubungan Maroko dengan Israel, dan mengatakan perjanjian itu sebagai pengkhianatan Islam.

Diketahui  kerajaan itu pada Kamis (10/12/2020) menjadi negara Arab keempat tahun ini yang menormalisasi hubungan dengan Israel.

Sebagai imbal balik, AS mengakui kedaulatan Maroko atas Sahara Barat yang disengketakan, sesuatu yang telah menjadi keinginan Rabat selama puluhan tahun.

“Perjanjian antara segitiga Amerika, Maroko dan rezim Zionis itu dilakukan dengan meminta pengkhianatan Maroko atas Islam (dan) Palestina, menjual kehormatan Muslim kepada Zionisme internasional,” kata penasihat kebijakan luar negeri Ali Akbar Velayati di situs resminya Jumat (11/12/2020), seperti dilaporkan AFP.

Dia menambahkan bahwa normalisasi hubungan dengan Israel “bukan hal baru” karena kerajaan itu pernah mempertahankan kantor perwakilan di Israel di masa lalu.

Maroko mengikuti langkah Uni Emirat Arab, Bahrain dan Sudan dalam apa yang disebut oleh pemerintahan Trump sebagai Perjanjian Abraham.

Mengecam keempatnya, Velayati mengatakan mereka akan “menyaksikan pergolakan populer di dalam waktu dekat” sementara para pemimpin mereka yang “ketergantungan, tunduk dan otoriter,” terbongkar.

Maroko, yang memiliki hubungan dekat dengan saingan regional Iran, Arab Saudi, memutus hubungan diplomatik dengan Teheran pada 2018, menuduhnya mendukung Polisario, tuduhan yang telah dibantah Iran.

Advertisement