DI TENGAH perbedaan aliran politik di dalam negeri, Iran mungkin gamang memapak masa depan pasca wafatnya tokoh reformis dan pembaharu yang sangat berpengaruh, mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani, Minggu lalu (8/1) .
Rafsanjani mendampingi Ayatullah Rohullah Khomeini, pemimpin Revolusi Iran 1979 yang melahirkan sistem pemerintah teokrasi dan anti Barat di negeri di kawasan Teluk Persia itu.
Namun demikian, berbeda dengan Khomeini, Rafsanjani menganggap, demi menyejahterakan rakyat, Iran perlu gaul dan menggalang kemitraan dengan negara-negara lain, tidak bisa mengisolasi diri dari pergaulan internasional, termasuk dengan negara-negara Barat khususnya AS.
“Keliru, jika ada orang meyakini, kita bisa hidup di balik pintu tertutup. Iran memang harus independen sewajarnya, tetapi juga membutuhkan mitra dan bala di seluruh dunia, “ tuturnya.
Tidak hanya itu. Di dalam negeri, Rafsanjani berani melakukan gerakan pembaharuan pada persoalan-persoalan sensitif dan dianggap tabu oleh kelompok konservatif yang masih mewarnai panggung politik di negeri itu.
Ia mengenalkan program KB menggunakan alat kontrasepsi – hal mustahil bisa diterima kubu garis keras dan mayoritas publik sebelumnya – dan mengangkat emansipasi wanita, termasuk di lingkungan kerja yang didominasi kaum pria.
Perempuan Iran, di era kepemimpinan Rafsanjani, diperbolehkan lagi memakai “make-up” di depan umum setelah dilarang di era teokrasi kaku yang diberlakukan sepanjang keayatullahan Khomeini. Pria dan wanita dapat berbaur lebih bebas di ruang-ruang publik, sedangkan penerbitan buku, industri film dan theater yang semula dilarang, juga dihidupkan kembali.
Namun layaknya manusia, Rafsanjani tidak luput dari terpaan isu negatif, Ia dicurigai memperkaya diri dan keluarganya saat menjabat presiden dua periode (1989 – 1997) dan menggunakan dinas rahasia untuk menghabisi para pembangkang Iran termasuk yang menyingkir ke Eropa.
Momentum Persatuan
Sisi positifnya, kematian Rafsanjani menjadi momentum kebangkitan kembali semangat persatuan dan solidaritas diantara kubu moderat dan kelompok garis keras atau kaum fundamentalis yang berseberangan selama ini.
Ratusan ribu pelayat, kubu reformis pendukung atau simpatisan Rafsanjani dan kaum kolot yang pro aliran teokrasi dan anti Barat bergabung di tengah suasana duka di lokasi pelepasan jenazah di di halaman Universitas Teheran, Selasa (10/1).
Rafsanjani, dimakamkan berdekatan dengan makam Ayatullah Ruhollah Khomeini, Pemimpin Revolusi Iran 1979 yang mengarsiteki pemerintah teokrasi di Iran.
Tidak saja dikagumi para pengikutnya, Rafsanjani juga dihormati oleh lawan-lawan politiknya, antara lain Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei yang memimpin do’a di depan jenasah tokoh pembaharu Iran itu.
Berseberangan paham politik, kata Khamenei, tidak pernah merusak persahabatan mereka berdua yang telah terjalin selama 60 tahun.
Ketokohan Rafsanjani juga diakui oleh mantan Wakil Presiden Iran Muhammad Ali Abtahi. “Di berbagai keadaan, Rafsanjani menghadapi lawan-lawan, namun mereka semuanya menghormati dan mengakui perannya dalam menangani bermacam-macam persoalan bangsa, “ ujarnya.
Rafsanjani berada di balik terpilihnya dua tokoh reformis lainnya menjadi presiden, Muhammad Khatami (l997 – 2005) dan Hassan Rouhani (2013 – sekarang). Dampaknya, kepergiannya menciptakan ketidakpastian bagi muridnya, Rouhani akan terpilih kembali pada masa jabatan kedua di pilpres, Mei nanti.
Rafsanjani gagal bangkit di panggung politik setelah dikalahkan pada pilpres 2005 oleh tokoh garis keras Mahmoud Ahmadinejad yang dianggap simbul perlawanan terhadap Barat khususnya AS.
Pilihan bagi Iran, meneruskan modernisasi dan membuka diri terhadap negara-negara Barat seperti yang telah dirintis Rafsanjani dan diteruskan Presiden inkumben, Rouhani atau kembali ke sistem teokratis murni yang serba tertutup.
Semua terserah pada kehendak rakyat Iran. Sejarah akan mencatatnya.





