JAKARTA, KBKNEWS.id – Keterbatasan fasilitas pendidikan membuat anak-anaj SD Negeri (SDN) Tando, Desa Robo, Kecamatan Welak, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), terpaksa belajar di bawah pohon.
Kegiatan belajar mengajar (KBM) dilakukan di luar ruangan karena jumlah kelas yang tidak mencukupi. Siswa kelas 2 dan kelas 3 harus bergantian mengikuti pelajaran di bawah pohon saat cuaca cerah.
Marta Jaimun, salah satu guru di SDN Tando, mengungkapkan bahwa pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 3 sering dilakukan di luar kelas.
Menurutnya, siswa kelas tersebut sudah cukup lancar membaca sehingga pembelajaran tetap bisa berjalan meski tanpa ruang kelas.
“Pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 sering di luar (di bawah pohon) karena mereka sudah lincah membaca,” ujar Marta, Sabtu (11/4/2026).
Kegiatan belajar biasanya dilakukan di bawah pohon mente atau ketapang. Namun, kondisi tersebut jauh dari ideal karena pohon-pohon tersebut tidak cukup rindang untuk melindungi siswa dari terik matahari.
“Tidak terlalu rindang. Kami pindah-pindah, kadang di bawah ketapang, kadang di bawah pohon mente,” jelasnya.
Akibatnya, para siswa kerap kepanasan, terutama saat matahari mulai terik di siang hari. Meski begitu, semangat belajar mereka tetap tinggi di tengah keterbatasan yang ada.
Kondisi ini menjadi sorotan publik setelah videonya viral di media sosial. Banyak warganet menilai situasi tersebut sebagai ironi, mengingat pendidikan merupakan hak dasar yang seharusnya didukung fasilitas memadai.
Sekolah ini berlokasi sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Labuan Bajo, yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata unggulan Indonesia. Namun, di balik geliat pariwisata tersebut, masih ada realitas keterbatasan akses pendidikan yang dialami sebagian masyarakat.
Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya pemerataan pembangunan, khususnya di sektor pendidikan, agar seluruh anak di Indonesia dapat belajar dengan layak dan nyaman.





