PELALAWAN, KBKNews.id – Peristiwa memilukan terjadi di Dusun Toro Jaya, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, Riau. Sejumlah anak Sekolah Dasar (SD) terpaksa menjalani hari pertama masuk sekolah dengan belajar di kebun sawit, beralaskan plastik dan beratapkan terpal, Senin (14/7/2025).
Dalam video yang beredar dan menjadi viral, terlihat para siswa mengenakan seragam merah putih duduk melingkar di bawah pohon sawit.
Beberapa hanya terlindungi pelepah daun dari sengatan matahari, sementara seorang guru perempuan mengajar mereka. Terlihat juga sejumlah orangtua ikut mendampingi anak-anak mereka di lokasi tersebut.
Kejadian ini terjadi karena anak-anak tersebut tinggal di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), di mana lahan yang mereka tempati, termasuk sekolah, disita oleh pemerintah karena dikategorikan sebagai kawasan hutan.
Akibat penyitaan ini, SD 20 Dusun Toro Jaya tidak diperbolehkan menerima murid baru, meskipun siswa kelas dua hingga enam masih diperbolehkan melanjutkan belajar. Total siswa yang masih belajar di sekolah tersebut ada 455 orang dalam 10 rombongan belajar.
Abdul Aziz, juru bicara warga TNTN, menjelaskan bahwa ada 58 anak yang mestinya menjadi siswa baru di SD tersebut.
“Anak-anak dalam video itu adalah siswa baru sekolah dasar, jumlahnya ada 58 orang. Hari pertama mereka masuk sekolah. Tapi, ya, terpaksa belajar di tanah di dalam kebun sawit seperti yang terlihat dalam video viral itu,” katanya, Selasa (15/7/2025).
Aziz menjelaskan, karena sekolah tidak dapat menerima murid baru, para orang tua membangun tenda darurat di luar kawasan hutan untuk tempat belajar. Seorang guru pun diminta secara sukarela mengajar mereka.
“Sementara siswa kelas dua hingga enam masih diperbolehkan bersekolah, dengan total 455 siswa dalam 10 rombongan belajar,” tuturnya.
Aziz mengungkapkan bahwa sebelumnya SD 20 merupakan kelas jauh dari SD Negeri 003 Desa Lubuk Kembang Bunga dan baru berstatus negeri pada September 2024.
Namun, akibat penyitaan lahan, orang tua diminta menyekolahkan anak-anak ke sekolah induk yang jaraknya sekitar dua jam perjalanan.
“Jarak tempuh dari Dusun Toro Jaya ke sekolah itu sekitar 2 jam. Jadi, tak mungkin orangtua mengantar anaknya sejauh itu,” ujarnya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap pendidikan anak-anak, warga kemudian mendirikan tenda seadanya sebagai tempat belajar darurat di luar kawasan TNTN.
“Jadi, orang tua mereka minta tolong kepada seorang guru untuk mengajar. Anak-anak ini juga tak sabar ingin sekolah karena hari pertama masuk sekolah,” katanya.
Aziz menuturkan, banyak anak dan orang tua yang menangis karena merasa sedih dan tertekan atas kondisi tersebut.
“Ibu-ibu banyak yang menangis, lah, kok, bisa sampai seperti ini. Ini seperti zona perang yang tak ada ampun lagi. Tidak ada toleransi, tidak ada solusi. Masyarakat disuruh mencari solusi sendiri, enggak mengerti lagi lah,” tuka nya.
Pada hari pertama, anak-anak juga diberikan pemahaman oleh guru mengenai situasi yang sedang terjadi, karena mereka bertanya-tanya mengapa tidak belajar di sekolah seperti biasanya.
“Jadi, di awal masuk sekolah ini, anak-anak diberikan pemahaman kenapa tempat belajarnya seperti ini. Mereka, kan, bertanya kenapa sekolahnya begini, dijelasin, lah, sama gurunya,” ungkapnya.
Aziz menilai, pemerintah belum memberikan solusi konkret atas persoalan ini. Untuk hari kedua, warga mengupayakan agar kegiatan belajar bisa dipindahkan ke musala yang berada di luar kawasan hutan, agar anak-anak tetap dapat belajar dengan tenang tanpa melanggar aturan.
“Tadi sudah dapat musala tempat anak-anak belajar. Yang penting tidak dalam kawasan TNTN,” ujarnya.




