JAKARTA, KBKNews.id – Pesawat tempur Israel kembali melancarkan serangan ke Jalur Gaza pada Minggu (13/4/2025) dini hari. Kali ini menargetkan Rumah Sakit Baptis Al-Ahli yang terletak di Kota Gaza.
Serangan tersebut menghantam bagian unit gawat darurat dan area resepsionis rumah sakit. Kerusakan parah serta kebakaran melanda sejumlah fasilitas penting seperti ruang UGD, laboratorium, dan apotek. Akibatnya, layanan medis di rumah sakit tersebut terpaksa dihentikan.
Menurut informasi dari sumber lokal, serangan dilakukan dengan dua rudal dan diawali dengan ancaman dari militer Israel. Mereka memberikan waktu hanya 18 menit bagi pasien, tenaga medis, dan korban luka untuk segera meninggalkan lokasi.
Situasi ini mengakibatkan banyak pasien terlantar. Bahkan, sebagian tampak tergeletak di jalan sekitar rumah sakit dalam kondisi cuaca yang buruk.
Rumah Sakit Baptis Al-Ahli dikenal sebagai salah satu fasilitas kesehatan penting di Gaza, khususnya untuk wilayah Kota Gaza dan Distrik Gaza Utara, yang melayani lebih dari satu juta penduduk.
Hancurnya fasilitas ini semakin memperburuk krisis layanan kesehatan di Gaza yang telah kewalahan sejak serangan militer Israel dimulai pada 7 Oktober 2023.
Sejak awal agresi tersebut, lebih dari 34 rumah sakit serta puluhan pusat layanan kesehatan di Gaza telah hancur dan tak lagi beroperasi.
Banyak kelompok hak asasi manusia mengecam serangan-serangan ini sebagai bentuk pelanggaran terhadap hukum internasional, khususnya Konvensi Jenewa yang menegaskan perlindungan terhadap fasilitas medis di masa konflik.
Ini bukan kali pertama RS Baptis Al-Ahli diserang. Sebelumnya, pada 17 Oktober 2023, serangan udara Israel menewaskan 471 warga sipil yang tengah berlindung di rumah sakit tersebut, termasuk pasien dan pengungsi.
Rumah Sakit Baptis Al-Ahli, yang didirikan pada 1882 dan dikelola oleh Gereja Episkopal Anglikan Yerusalem, merupakan salah satu rumah sakit tertua di Gaza.
Setelah hancurnya beberapa fasilitas besar seperti RS Al-Shifa, RS Indonesia, dan RS Kamal Adwan, rumah sakit ini menjadi salah satu pusat utama layanan kesehatan di Gaza bagian utara.
Sejak berakhirnya gencatan senjata pada 18 Maret 2025, rumah sakit ini telah menerima puluhan korban luka setiap harinya akibat serangan udara Israel.




