Israel Cegat Pelayaran GSF dan Deportasi Aktivis

Sebanyak 41 dari sekitar 45 kapal aktivis yang tergabung dalam Global Sumud Flotila (GSF) dicegat AL Israel dan 400-an aktivis diangkut ke pelabuhan Ashdod, Israel untuk dideportasi (foto: istimewa)

AL ISRAEL mencegat sejumlah kapal kelompok Global Sumud Flotilla (GSF) yang berniat membawa bantuan ke Gaza dan menahan para aktivis, termasuk artis Swedia Greta Thunberg.

Selanjutnya, seperti dilaporkan BBC Indonesia, Jumat (3/10), pihak berwenang Israel akan memindahkan para aktivis tersebut ke Pelabuhan Ashdod, 40 km dari tel AViv, Israel untuk dideportasi keluar negara Yahudi itu.

Dilaporkan, sampai Jumat, ada 41 dari 50-an kapal armada pelayaran kemanusiaan GSF ke Gaza yang dicegat oleh kapal-kapal perang Israel sebelum mereka berhasil memasuki peraran Gaza, sementara 400-an aktivis dipindahkan ke pelabuhan Ashdod untuk selanjutnya diproses deportasi dari  negara Yahudi itu.

Para aktivis di kapal kapal GSF sendiri mengaku, mereka berada di perairan internasional saat terjadi penangkapan dan melaporkan sejumlah kapal masih dicegat sampai  Kamis (02/09) pagi.

Sebaliknya, Kemenlu Israel membenarkan, mereka telah mencegat semua kapal kecuali satu di antaranya yang masih “berada di kejauhan”, dan bru akan dicegat jika mendekat.

Sebelumnya, pada pekan lalu, para aktivis melaporkan dugaan serangan terhadap armada tersebut.

“Kami diserang dengan bahan kimia, namun beruntung luput. Kami sedang bermanuver zig-zag saat mendengar suara drone,  kata Youssef Samour, aktivis di salah satu kapal GSF itu.

“(Pesawat nirawak) itu mendarat tepat di luar perahu, menyemprotkan zat kimia yang mengenai wajah saya, menyebabkan iritasi selama 30 detik, tapi saya berhasil membersihkannya dengan air bersih dan baik-baik saja,”

Kapal yang ia tumpangi, Yulara, adalah bagian dari GSF—armada yang terdiri dari sekitar 50 kapal dengan 300 aktivis.

Sejumlah aktivis melaporkan terjadinya  ledakan setelah benda tak dikenal dijatuhkan oleh sebuah drone di dek saat mereka berada di laut selatan P. Kreta, Yunani.

Militer Israel sendiri belum memberikan pernyataan tentang serangan terhadap armada GSF, tetapi pejabat Kemlu, Eden Bar Tal menegaskan, Israel tidak akan mengizinkan kapal mana pun memasuki zona “pertempuran aktif”.

Ia menuduh, tujuan sebenarnya armada GSF  adalah melakukan aksi provokasi dan memberi dukungan bagi  Hamas, bukan misi kemanusiaan.

Sementara itu, dalam langkah yang belum pernah dilakukan pihak Barat, Italia dan Spanyol mengirim kapal AL untuk membantu pelayaran GSF ke Gaza.

Namun baik pihak Italia maupun Spanyol menyatakan kapal-kapal mereka tidak akan berlayar mendekat hingga jarak kurang dari 278 km dari wilayah Israel atau Gaza.

Apa itu GSF?

Sumud dalam bahasa Arab berarti kegigihan atau ketahanan. Global Sumud Flotilla (GSF) adalah koalisi kapal yang memuat pasokan bantuan kemanusiaan dan membawa aktivis dari puluhan negara.

GSF menyatakan bahwa tujuannya adalah untuk “mematahkan pengepungan ilegal di Gaza melalui laut, membuka koridor kemanusiaan, dan mengakhiri genosida yang sedang berlangsung terhadap rakyat Palestina”.

Kapal-kapal GSF berlayar dari pelabuhanSpanyol, Italia, Yunani, dan Tunisia setelah para ahli dari Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) yang didukung PBB mengonfirmasi, benar terjadi kelaparan di Kota Gaza.

Mereka juga memperingatkan, bencana kelaparan dapat menyebar ke Gaza tengah dan selatan dalam beberapa pekan ke depan.

GSF adalah armada ke-38 yang berlayar menuju Gaza yang diawali pada 2008 dengan tujuan mematahkan blokade maritim Israel  yang telah berlangsung jauh sebelum perang di Gaza.

Armada  GSF adalah gabungan Freedom Flotilla Coalition, the Gaza Free Movement dan the Maghreb Sumud Flotilla berupa konvoi dipimpin akitvis negara-negara Afrika Utara dan Sumud Nusantara yang diorganisir oleh Malaysia dan sembilan negara lainnya.

Mencapai Gaza

Pada 2008, setidaknya satu kapal berhasil mencapai Gaza tetapi sejak itu semua misi armada serupa tidak berhasil.

Pada 2010, pasukan komando Israel mendarat di kapal Mavi Marmara milik Turki, salah satu dari enam kapal yang berjarak sekitar 130 km dari pantai Israel.

Pasukan komando Israel melepaskan tembakan dengan peluru tajam—mereka mengaku diserang terlebih dahulu dengan pentungan, pisau, dan senjata api, menewaskan 10 aktivis Turki.

Ide untuk misi GSF ini lahir pada pertengahan Juli setelah tiga kapal yang tergabung dalam Freedom Flotilla Coalition—Conscience, Madleen dan Handala—telah mencoba berlayar ke Gaza antara Mei dan Juli tahun ini.

Kapal pertama, Conscience, diduga diserang oleh pesawat tak berawak pada Mei di lepas pantai Malta.

Pemerintah Malta mengonfirmasi bahwa kebakaran di atas kapal telah “dipadamkan” ,

Madleen berlayar pada Juni lalu, membawa 12 orang di dalamnya, termasuk Greta Thunberg, dan menjadi sorotan internasional.

Saat itu, Kemlu  Israel menyebutnya sebagai “kapal pesiar swafoto” yang membawa “kurang dari satu truk penuh bantuan”.

Kapal pesiar itu dicegat pada dini hari oleh pasukan Israel, sekitar 185 km di sebelah barat Gaza, dan dibawa ke pelabuhan Ashdod di Israel. Thunberg dan yang lainnya kemudian dideportasi.

Pada Juli, kapal lain, Handala, berangkat dengan 21 orang di dalamnya, tetapi pasukan Israel mencegat dan menaiki kapal tersebut sekitar 75 km dari Gaza.

Para aktivis di kapal, GSF mengaku, mereka berada di perairan internasional saat itu, tetapi Kemlu Israel mengatakan AL-nya menghentikan kapal “karena memasuki zona maritim pantai Gaza secara ilegal” dan melanggar blokade.

Bukan yang pertama

Serangan pada Rabu (01/10) bukanlah yang pertama, dan menurut GSF, yang mengatakan bahwa kapal mereka juga diserang saat berada di pelabuhan di Tunisia.

Tindakan pencegahan ekstra kini diberlakukan menyusul serangan minggu ini terhadap armada.

Abdel Rahman Ghazal—peserta asal Kuwait di atas kapal Spectre—mengatakan kepada BBC dia hanya berjarak setengah meter dari sebuah perangkat yang dijatuhkan oleh pesawat tak berawak meledak pada Rabu lalu.

“Kami terkena tiga bom. Bom ketiga jatuh di tepi atas kapal lalu jatuh ke laut. Ada gas yang baunya sangat menyesakkan dan saya hampir tidak bisa bernapas selama beberapa menit.”

Ia mengatakan ia bereaksi cepat dan secara naluriah menyiramkan air laut ke zat yang dijatuhkan.

Ghazal dan rekan-rekan relawannya kini mengikuti protokol keselamatan yang lebih ketat di atas kapal, tidak lagi tidur di area terbuka dan selalu membawa rompi pelampung saat beristirahat.

 Yang telibat GSF

Dari politisi hingga selebritas, GSF dikelola oleh relawan dari puluhan negara.Cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela, aktris Amerika Susan Sarandon, aktris Prancis Adele Haenel bersama pejabat terpilih seperti Anggota Parlemen Eropa La France Insoumise Emma Fourreau dan mantan Wali Kota Barcelona Ada Colau semuanya turut ambil bagian.

GSF mengatakan setiap kapal mewakili “sebuah komunitas dan penolakan untuk tetap diam dalam menghadapi genosida.”

Thunberg juga ikut serta dalam armada kali ini. Dalam siaran langsung bersama Francesca Albanese, pelapor khusus PBB untuk wilayah Palestina, Thunberg menyebut serangan itu sebagai “taktik menakut-nakuti”.

“Kami menyadari risiko serangan semacam ini, jadi itu bukan sesuatu yang akan menghentikan kami,” ujarnya.

Di tengah tekanan dilomatik global dan berbagai cara termasuk pelayaran kemanuiaan GSF, Israel tetap bergeming, melanjutkan bombardemen dan blokade  terhadap Gaza.

Sampai hari ini tercatat sekitar 66.000 warga Palestina di Gaza tewas dan 168.000 lainnya mengalami luka-luka serta ratusan ribu yang terancam kelaparan akibat  blokade negara Yahudi itu sejak Maret lalu. (BBC Indonesia/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here