Israel “Kangkangi” Dataran Tinggi Golan

Presiden AS Donald Trump di tengah protes internasional, menandatangani dokumen pengakuan kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan yang de jure milik Suriah.

CENGKERAMAN Israel terhadap Dataran Tinggi Golan yang direbutnya dari Suriah dalam Perang 1967 semakin kuat setelah Amerika Serikat mengakui kedaulatan negara Yahudi tersebut di wilayah itu.

Di tengah protes internasional, Presiden AS Donald Trump bergeming dan bersikukuh menandatangani dokumen pengakuan AS terhadap Dataran Tinggi Golan yang direbut Israel pada 1967 dan kemudian menganeksasinya pada 1981.

Penandatanganan pengakuan kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan (de jure milik Suriah) dilakukan oleh Presiden Trump disaksikan PM Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, Washington DC, Senin (25/3).

Pengakuan Trump atas kedaulatan Israel di Dataran Tinggi Golan menunjukkan keterpihakan Trump pada negara Jahudi itu tanpa tedeng aling-aling setelah sebelumnya mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel (Des. 2017).

Selain tampil beda dibanding para pendauhulunya, mulai dari Presiden Lyndon Johnson (1963 – 1969) hingga Presiden Barrack Obama (2009 – 2017), keputusan sepihak Trump ditentang banyak pihak.

Selain PBB, Uni Eropa, Liga Arab (Arab Saudi, Bahrain, UEA dan lainnya), begitu pula Iran dan anggota DK PBB seperti China, Inggeris, Perancis dan Rusia mengecam aksi sepihak Trump tersebut.

DK PBB sendiri tidak kurang sudah mengeluarkan tiga resolusi terkait desakan penarikan mundur pasukan Israel dari Dataran Tinggi Golan (nomor 242, 1967, no. 338, 1973 dan no. 497, 1981) namun semuanya tidak digubris Israel.

Sekjen Liga Arab Ahmed Aboul Gheit menyatakan, pengakuan Trump atas kedaulatan Israel di wilayah itu tidak sah dan melanggar hukum internasional, sementara Jubir Menlu Rusia Mari Zakharova mengingatkan, tindakan Trump bakal memicu ketegangan baru.

Mata Israel
Dataran Tinggi Golan termasuk Bukit Hermon dan Bukit Booster yang dicaploknya dari Suriah pada Perang 1967 bernilai strategis secara militer sehingga dijuluki sebagai “eye of Israel” dan juga ekonomi.

Betapa tidak, dari ketinggian di wilayah yang hanya berjarak 60 Km dari ibukota Suriah, Damaskus itu, seluruh kegiatan di sekitarnya mudah dipantau, termasuk musuh yang coba-coba mendekat.

Begitu strategisnya Dataran Tinggi Golan dengan ketinggian sampai 2.800 meter, sehingga ada anekdot menyebutkan: “semut beriringan pun bisa diamati dari sana”, apalagi gerakan tank-tank atau pasukan lawan.

Semula Suriah menjadikan wilayah Golan sebagai benteng utama dengan menempatkan berbagai persenjataan berat bantuan Uni Soviet sehingga wilayah Israel yang hanya berjarak “sepelemparan batu” menjadi bulan-bulanan serangan artileri dan roket.

Dataran Tinggi Golan merupakan salah satu wilayah yang direbut Israel dalam “Blitzkrieg” atau perang kilat yang dilancarkan melawan Mesir, Suriah dan Jordania pada “Perang Enam Hari” 1967 selain Sinai (Mesir), Jerusalem Timur dan Tepi Barat (Jordania).

Berbagai karya telaahan militer dihasilkan terkait perebutan Dataran Tinggi Golan antara Israel dan Suriah, termasuk kisah mata-mata legendaris Israel, Eli Cohen yang berhasil menyusup dan melaporkan informasi militer ke Tel Aviv.

Cohen yang dekat dengan sejumlah petinggi militer Suriah, bahkan ikut “menginspeksi” kesiapan dan kekuatan pasukan Suriah di Dataran Tinggi Golan sehingga disebut-sebut memberikan andil penting bagi keberhasilan Israel merebut lokasi amat strategis itu.

Penyamaran Cohen berakhir setelah berhasil diungkapkan oleh intelijen Soviet dan Suriah, dan ia kemudian dieksekusi hukuman gantung.

Kini, Israel dengan berbagai cara, pasti terus berupaya mengangkangi Dataran Tinggi Golan walau jelas-jelas melanggar hukum internasional, apalagi setelah AS dibawah Trump terang-terangan mendukungnya. (Reuters/ns/berbagai sumber)

Advertisement