
BENYAMIN Netanyahu, PM Israel 15 tahun ( 1996 – 1999 dan 2009 – 2021) atau pemimpin terlama di negara Yahudi itu harus lengser setelah Knesset (parlemen) memberikan kemenangan pada lawannya, Naftali Bennet yang memimpin Partai Yamina.
Dalam pemungutan suara, Minggu (13/6), 61 dari 120 anggota Knesset memilih kelompok aneka koalisi dipimpin oleh Bennet, bekas “murid” Netanyahu di panggung politik, sehingga ia berhak membentuk pemerintahan baru.
Sidang pemungutan suara juga diwarnai kegaduhan dan baru reda setelah sejumlah anggota Partai Likud pimpinan Netanyahu dan koalisinya, Partai Haredi diusir dan tidak diizinkan mengikuti sidang karena terus berteriak-teriak saat Bennet memberikan sambutan.
Dalam orasinya, Netanyahu selain menyerang Partai Yamina yang berhaulan ultra nasionalis, dan juga menyatakan tekadnya untuk menjatuhkan pemerintah Bennett secepat mungkin.
“Nasib kami (kini) menjadi oposisi, dan itu akan kami lakukan dengan kepala tegak sampai kami berhasil menggulingkan pemerintah buruk ini dan kembali memimpin Israel dengan cara kami, “ tandasnya.
Sebalikya, Bennett menyampaikan terima kasihnya pada pimpinan partai koalisi Yesh Atid, Yair Lipid karena koalisi pemerintahan tidak bakal terbentuk tanpa bantuannya. Bennett dan Lipid akan bergantian menjadi PM selang dua tahun dan giliran pertama untuk Bennett.
Jadi koalisi pemerintahan baru Israel diusung antar lain oleh tiga partai Yakni Parta Yamina (sayap Kanan) , Partai Yesh Atid (kelompok Tengah) dan untuk pertama kalinya Partai Islam Arab Ra’am yang mewakili 21 persen etnis Arab masuk parlemen.
Kekalahan Netanyahu diperkirakan karena ia semakin kompromistis dengan membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab Uni Arab Emirat, Bahrain, Maroko dan Sudan sehingga pendukungnya mencemaskan, hal itu berujung pada pengakuan terhadap Palestina.
Netanyahu menjelang di ujung-ujung pemerintahannya juga didera tudingan korupsi walau mosi tidak percaya yang dilontarkan berhasil ditepisnya.
Terkait Palestina, di era kepemimpinannya, ibukota Israel dipindahkan dari Tel Aviv ke Palestina pada 2017 yang diikuti oleh sejumlah negara lain terutama Amerika Serikat, Brazil, Dominika dan lainnya.
Kemenangan Bennett sendiri ditanggapi skeptis oleh oleh Palestina karena ia termasuk tokoh garis keras yang menentang kemerdekaan Palestina dan mendukung pencaplokan wilayah Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur oleh Israel.
Israel: Netanyahu Belum Mengaku Kalah
BENYAMIN Netanyahu, PM Israel 15 tahun ( 1996 – 1999 dan 2009 – 2021) atau pemimpin terlama di negara Yahudi itu harus lengser setelah Knesset (parlemen) memberikan kemenangan pada lawannya, Naftali Bennet yang memimpin Partai Yamina.
Dalam pemungutan suara, Minggu (13/6), 61 dari 120 anggota Knesset
memilih kelompok aneka koalisi dipimpin oleh Bennet, bekas “murid” Netanyahu di panggung politik, sehingga ia berhak membentuk pemerintahan baru.
Sidang pemungutan suara juga diwarnai kegaduhan dan baru reda setelah sejumlah anggota Partai Likud pimpinan Netanyahu dan koalisinya, Partai Haredi diusir dan tidak diizinkan mengikuti sidang karena terus berteriak-teriak saat Bennet memberikan sambutan.
Dalam orasinya, Netanyahu selain menyerang Partai Yamina yang berhaulan ultra nasionalis, dan jugamenyatakan tekadnya untuk menjatuhkan pemerintah Bennett secepat mungkin.
“Nasib kami (kini) menjadi oposisi, dan itu akan kami lakukan dengan kepala tegak sampai kami berhasil menggulingkan pemerintah buruk ini dan kembali memimpin Israel dengan cara kami, “ tandasnya.
Sebalikya, Bennett menyampaikan terima kasihnya pada pimpinan partai koalisi Yesh Atid, Yair Lipid karena koalisi pemerintahan tidak bakal terbentuk tanpa bantuannya. Bennett dan Lipid akan bergantian menjadi PM selang dua tahun dan giliran pertama untuk Bennett.
Jadi koalisi pemerintahan baru Israel diusung antar lain oleh tiga partai Yakni Parta Yamina (sayap Kanan) , Partai Yesh Atid (kelompok Tengah) dan untuk pertama kalinya Partai Islam Arab Ra’am yang mewakili 21 persen etnis Arab masuk parlemen.
Kekalahan Netanyahu diperkirakan karena ia semakin kompromistis dengan membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara Arab Uni Arab Emirat, Bahrain, Maroko dan Sudan sehingga pendukungnya mencemaskan, hal itu berujung pada pengakuan terhadap Palestina.
Netanyahu menjelang di ujung-ujung pemerintahannya juga didera tudingan korupsi walau mosi tidak percaya yang dilontarkan berhasil ditepisnya.
Terkait Palestina, di era kepemimpinannya, ibukota Israel dipindahkan dari Tel Aviv ke Palestina pada 2017 yang diikuti oleh sejumlah negara lain terutama Amerika Serikat, Brazil, Dominika dan lainnya.
Kemenangan Bennett sendiri ditanggapi skeptis oleh oleh Palestina karena ia termasuk tokoh garis keras yang menentang kemerdekaan Palestina dan mendukung pencaplokan wilayah Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur oleh Israel.




