
TEL AVIV – Israel telah mengatur standar baru penjara yang sangat ketat bagi narapidana Palestina, dan kemungkinan akan memicu gelombang protes baru baik di dalam maupun di luar penjara Israel.
Sebuah komite yang dibentuk oleh Menteri Keamanan Publik Israel Gilad Erdan mengeksplorasi cara-cara untuk menurunkan kualitas hidup bagi tahanan Palestina menjadi seminimal mungkin.
Setelah membentuk komite pada bulan Juni, Erdan mengatakan tujuannya adalah untuk menekan Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya untuk menyerahkan sisa-sisa tentara Israel yang mereka pegang di Jalur Gaza.
Komite akan merekomendasikan pengurangan drastis dalam jumlah kunjungan keluarga untuk tahanan dan mencabut izin mereka untuk membeli daging, ikan, buah-buahan dan sayuran dari luar penjara.
Para narapidana juga akan kehilangan hak mereka untuk memasak makanan di dalam sel penjara sementara pihak berwenang juga akan mengambil penggiling makanan dan blender mereka.
Petugas penjara Israel juga akan merekomendasikan dalam laporan bahwa Tel Aviv membatasi jumlah saluran televisi yang bisa dipilih oleh narapidana.
Sementara itu, Knesset Israel berharap untuk meloloskan RUU yang dapat meningkatkan hukuman penjara minimal 40 tahun hingga lebih dari 60 tahun untuk dugaan “tersangka teror,” sebagaimana dilaporkan media Israel pada Kamis (11/10/2018).
Perlakuan kejam Israel terhadap tahanan Palestina dalam beberapa tahun terakhir telah menyebabkan mogok makan massal oleh narapidana sebagai upaya terakhir untuk meningkatkan kesadaran internasional dan memaksa pejabat Israel untuk mengubah kondisi.
Sekitar 6.500 warga Palestina saat ini ditahan di penjara-penjara Israel, lebih dari 500 dari mereka ditahan secara sewenang-wenang, demikian dihimpun Press TV.




