Istri Wartawan Mogok Makan di Penjara Israel Minta Erdogan Selamatkan Suaminya

Wartawan demo meminta pembebasan rekannya Al Qeq. Foto: presstv.ir

PALESTINA – Wartawati Fiha Shalash, istri wartawan Muhammad al-Qeiq, yang ditawan di penjara Israel dan melakukan aksi mogok makan sejak 61 hari yang lalu, menyerukan Presiden Turki Receb Thayyib Erdoga dan PM Turki Ahmed Davudoglu untuk menyelamatkan suaminya dari kematian di penjara Israel.

Dalam pesan yang disampaikan kepada Presiden Erdogan dan PM Davudoglu, Ahad (24/1/2016), Shalash meminta bantuan demi menyelamatkan suaminya Muhammad al-Qeiq.

“Saya wartawati Palestina Fiha Shalash, istri dari seorang wartawan yang ditawan di penjara Israel Muhammad al-Qeiq, ayah dari dua orang bocah yang baru berusia 3 dan setengah tahun, saya sampaikan kepada Anda berdua penolong orang-orang yang lemah, penolong orang-orang yang terdzalimi, seruan untuk menyelamarkan suami saya dari kematian. Dia adalah seorang wartawan Palestina yang menyampaikan fakta kebenaran dan analisa peristiwa, berpihak kepada rakyat dan bangsanya, kepada agama dan tanah airnya,” ungkap Fiha.

Dia juga menyatakan bahwa penjajah Israel telah menangkap suaminya dan memperlakukannya dengan buruk dan hina, menjebloskannya dalam penjara tanpa tuduhan dan proses pengadilan, hanya karena apa yang disebut Israel sebagai provokasi media, dia sudah melakukan mogok makan selama 61 hari dan hanya minum air, kondisi kesehatannya sangat buruk.

Muhammad al-Qeiq bekerja sebagai koresponden televisi Sausi “al-Majd”, ditangkap pada 21 November 2015 lalu. Empat hari kemudian dia melakukan aksi mogok makan dan terus berlanjut sampai hari ini. Kondisi kesehatannya terus memburuk dan sudah kekurangan 30 kg dari berat badannya.

Shalash mengatakan, “Berdasarkan kabar yang kami terima hari ini, Muhammad sudah dekat dengan kematian. Dia mengirim satu kata kepada kami bahwa dia adalah seorang muslim yang tidak mau dihinakan, dia miminta maaf pada kami. Dia telah menyiapkan dirinya dan kami untuk mati syahid di jalan Allah, di jalan agama-Nya dan kalimat kebebasan.”

“Tuan Erdogan dan PM Davudoglu serta para pemimpin Turki yang agung, kami tahu Anda mencintai kebaikan dan menolak kedzaliman, berusaha untuk melukis senyum di wajah setiap anak muslim di seluruh belahan bumi, tidakkah dua anak saya berhak kembali lagi tersenyum? Senyum yang hilang sejak mereka terbangun tanpa ayah pada 21 November lalu?” di hari penangkapan suaminya dari rumahnya di Ramallah, wilayah tengah Tepi Barat.

Dia melanjutkan, “Tidakkah dua bocah ini berhak kembali mencium ayah mereka berdua setiap pagi sebagaimana yang biasa mereka lakukan, daripada hanya memegang foto saja dan menciumi kertas itu? Saya minta Anda turun tangan segera dan menghubungi pihak-pihak terkait dan diplomatik untuk melindungi nyawa Muhammad dari kematian. Tidak ada kesempatan untuk menunda-nunda sekarang. Karena setiap detik berlalu semakin memperburuk kesehatannya. Barangsiapa memberi hidup satu orang, maka seakan dia memberi hidup seluruh manusia. Infopalestina.com

Advertisement