Jabodetabek hanya untuk Mengais Rezeki

Alasan utama warga tinggal di jabodetabek adalah untuk bekerja, selain memang kota kelahiran atau ikut keluarga

SUMBER penghidupan yang menjanjikan di wilayah DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) merupakan daya tarik bagi mayoritas warga untuk tinggal di kawasan tersebut.

Hal itu tercermin dalam jajak pendapat yang digelar harian Kompas 24 dan 25 Oktober terhadap 536 responden berdomisili di wilayah Jabodetabek yang berusia minimal 17 tahun (Kompas 4/11).

Sebanyak 31,9 responden menyebutkan, pekerjaan yang layak merupakan alasan utama tinggal di wilayah Jabodetabek, 21,8 persen karena ikut keluarga, 25,4 persen memang lahir di sana dan alasan lain seperti faktor lingkungan dan kehidupan modern (masing-masing 6,7 persen), dan kemudahan transportasi (0,7 persen) dan lainnya.

Selain itu, 34 persen warga Jakarta berasal dari mereka yang sudah tinggal 11 sampai 20 tahun menyatakan ingin pindah,walau pun 32 persen dari mereka tetap ingin tinggal di sekitar wilayah Bodetabek, 31 persen ingin pindah ke kota-kota laian terutama Bandung dan Yogyakarta.

Kepadatan kota dan kemacetan lalu lintas menjadi hal paling tidak disukai lebih separuh (57,1 persen) warga Jakarta, 14,9 persen kerawanan lalulintas, 10,6 persen kondisi lingkungan (banjir, polusi dan sampah), 8,8 persen biaya hidup yang tinggi dan lainnya.

Kajian sebuah lembaga riset ZIpjet berbasis di Eropa juga menempatkan Jakarta sebagai 18 kota teratas paling stress dari 150 kota-kota di dunia yang disurvei. Menurut 60 persen responden, penyebabnya adalah kemacetan lalulintas.

Namun demikian, sekitar separuh responden mengaku betah tinggal di Jakarta karena sudah lebih 30 tahun tinggal, 27 persen karena lahir di Jakarta dan 18 persen karena ikut keluarga.

Indonesia dengan lima pulau besar dan 13.700 pulau-pulau sebenarnya sangat lega untuk dihuni 250 juta penduduknya, jika semua tidak berduyun-duyun mengadu nasib hanya ke Jakarta dan Bodetabek.

Persoalannya, pemerintah tentu harus terus mengmeakselerasi perataan pembangunan, tidak hanya terpusat di Jabodetabek dan Pulau Jawa saja, sehingga tidak ada perbedaan fasilitas, atau kalau ada pun, gap antara satu wilayah atau kota lainnya tidak terlalu lebar.

Taburkan gula, semut-semut pasti datang menghampiri. (Kompas/NS)

Advertisement