Strategi Kebudayaan Jalan Sendiri-sendiri

Perlu strategi kebudayaan yang komprehensif untuk membentuk karakter bangsa yang kuat dan inklusif

STRATEGI kebudayaan masih bersifat parsial, jalan sendiri-sendiri, padahal dituntut pemikiran komprehensif untuk membentuk masyarakat berkarakter kuat dan inklusif, kata Wakil Rektor Universitas Indonesia Bambang Wibawarta.

Hal itu disampaikan oleh Bambang yang juga menjabat Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI pada temu akbar Mufakat Budaya Indonesia III 2018 bertemakan: “Apa dan Siapa Bangsa Indonesia ini” yang digelar di kampus UI, Depok, Kamis lalu (1/11).

Hadir pula dalam temu akbar tersebut sebagai pembicara a.l. budayawan muslim dan penerbit mizan Haidar Bagir, Ketua Umum Parisada Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia (NSI), Hadi Senjaya serta aktivis Mufakat Budaya Indonesia Olivia Zalianti.

Strategi kebudayaan, menurut Bambang, bukan hanya soal kesenian, tetapi untuk menciptakan pola fikir sama bagi bangsa Indonesia di berbagai lini kehidupan seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi dan ketahanan pangan.

Untuk itu, lanjutnya,perlu dilakukan pemilahan terhadap nilai-nilai yang disepakati bersama seperti gotong royong, kemandirian dan inklusivitas demi mencapai cita-cita bersama bangsa Indonesia.

Menurut Bambang, Indonesia memang memiliki undang undang tentang kemajuan untuk mengelola keberagaman , namun hal itu belum mencakup strategi untuk mengelola keberagaman menjadi kekuatan.

“Jepang dan Korea Selatan sudah lama memiliki strategi kebudayaan yang komprehensif, sehingga tampil sebagai bangsa yang unggul di era globalisasi saat ini, “ ujarnya.

Menurut catatan, Jepang melalui Restorasi Meiji menghapuskan seluruh kekuasaan panglima-panglima perang dan membuka masuknya ilmu pengetahuan dari Barat yang semula dianggap tabu, sedangkan Korsel melancarkan gerakan Saemaeul Undong (hidup baru) di era ’70-an dengan melakukan perombakan tatanan masyarakat.

Baik Jepang mau pun Korsel, membuka diri terhadap perubahan dan melakukan perencanaan yang baik pembentukan karakter masyarakat melalui startegi kebudayaan hingga pada gilirannya menghasilkan manfaat ekonomi yang besar.

Bambang yakin, jika pola pandang yang dibangun melalui strategi kebudayaan bisa diserap dengan baik dan diterapkan masyaraat melalui perilaku sehari-hari, sejumlah persoalan bngsa bisa diatasi.

“Hal itu akan menjadikan individu-individu memahami nilai keindonesiaan serta menumbuhkan kesadaran untuk merawat persatuan dan kebersamaan, “ ujarnya.

Sementara Haidar Bagir berpendapat, berbicara tentang Indonesia berarti juga berbicara tentang pluralisme serta ada rasa kebersamaan dan kesamaan. “Budaya lain bisa menyumbangkan nilai-nilai yang baik, sedangkan budaya asli tidak dinihilkan, “ ujarnya.

Haidar ajauga mendorong agar strategi kebudayaan keagamaan Indonesia diarahkan pada pemahaman keagamaan yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari, bukan keagamaan berjarak.

Sedangkan Olivia menilai, kemajuan teknologi dan globalisasi memang ikut mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara. Jadi, yang penting, bagaimana generasi milenial bisa didorong untuk melahirkan gagasan baru.

Karakter bangsa memang harus dibentuk termasuk melalui strategi kebudayaan, tetapi persoalannya, masih adakah elite yang peduli?

.

Advertisement