CIANJUR – Seorang relawan asal Solo, Abdullah, menceritakan pengalamannya menjadi relawan sopir ambulans untuk korban gempa Cianjur.
Dia mengaku langsung beranjak dari Solo, Jawa Tengah usai mendengar kabar adanya gempa bumi dengan magnitudo 5,6 SR yang mengguncang Cianjur, Jawa Barat pada Senin (21/11).
Pria berusia 40 tahun tersebut merasa tergerak untuk ikut membantu proses pencarian dan evakuasi korban gempa Cianjur. Perjalanan ratusan kilometer pun ditempuhnya.
Setibanya di lokasi terdampak pada Selasa (22/11), Abdullah langsung bergabung dengan relawan sebagai sopir ambulans.
“Karena relawan untuk proses pencarian sudah banyak, saya memutuskan bergabung untuk membantu mengemudikan ambulans,” ujarnya,dikutip CNNIndonesia.com.
Abdullah mengaku bahwa tugas sebagai sopir ambulans itu bukanlah perkara mudah. Apalagi banyak masyarakat yang sekarang berbondong-bondong menuju Cianjur, dengan tujuan yang mulia, yakni menyalurkan bantuan logistik bagi mereka yang terdampak.
Namun Abdullah mengatakan, pendistribusian bantuan yang tidak terpusat, justru membuat ruas jalan menjadi sangat riuh dengan kendaraan. Akibatnya, laju kendaraan medis, seperti ambulans yang dibawanya, menjadi tidak optimal.
Kondisi itu menurutnya kian diperparah dengan tingkah ambulans nakal yang ikut menyalakan sirine padahal tidak dalam keadaan bertugas. Hal itu, kata dia, semata-mata hanya untuk dapat tiba di lokasi tujuan lebih cepat.
Celah ini juga yang banyak digunakan para donatur agar penyaluran bantuan yang mereka lakukan menjadi lebih cepat. Alih-alih menggunakan kendaraan pengangkut logistik, mereka justru menggunakan ambulans dan sirinenya.
“Saya tahu niatnya baik, banyak ambulans yang mengantarkan sumbangan. Tapi mereka menyalakan sirine, rotatornya juga, jadi menghambat,” tegasnya.
Abdullah sendiri pernah terkena imbasnya karena sempat diberhentikan oleh petugas kepolisian karena dianggap hanya membawa bantuan.
Padahal, kata dia, saat itu ambulans yang ia bawa tengah memuat korban yang baru berhasil dievakuasi. Abdullah jelas menyalakan sirine agar jenazah cepat dapat tiba di rumah sakit dan segera diidentifikasi.
“Kita benar-benar bawa jenazah, kemarin sempat diberhentiin sama polisi, disuruh ikut antrean [kendaraan]. Saya bilang ini lihat saja, saya bawa jenazah,” jelasnya.
Dia berharap agar para sopir ambulans pembawa bantuan untuk tetap tertib saat berada di jalan raya agar tidak menghambat proses evakuasi korban.
“Kami mengimbau saja, kami tahu maksud mereka baik bawa bantuan. Cuma, tidak perlulah pasang sirine dan rotator kalau enggak urgent sekali,” pungkasnya.





