Jadi Sarjana Karena Kambing

Mempunyai anak yang berpendidikan tinggi memang dambaan setiap orang tua. Namun hari ini, kenyataannya pendidikan khususnya tingkat tinggi masih menjadi barang mewah. Siapa punya uang, anaknya bisa kuliah. Seorang sarjana lebih mudah mendapat pekerjaan ketimbang orang yang bukan sarjana.

Seorang anak pada hakekatnya harus lebih baik dari pada orang tua mereka. Itulah contoh regenerasi yang baik. Yuyum Susilawati (40), ibu dar dua anak ini memiliki harapan sangat besar terhadap kedua anaknya. Dirinya selalu bekerja keras untuk membiayai pendidikan anak-anaknua, Luli Yumantili (21), dan Lusi Asminar (15). Baginya, untuk membiayai anaknya hingga jenjang SMA itu sudah sangat sulit. Terlebih lagi Oman Mandala (43) sang suami hanya berprofesi sebagai kuli bangunan serabutan. Pendapatan Oman dalam sehari hanya Rp 80 ribu. Sedangkan tidak setiap hari Oman menerima panggilan sebagai kuli.

Untuk membantu kehidupan sehari-hari Yuyum menjual gorengan. Setiap hari ia jajakan dagangannya keliling Desa Pasirawi, Kecamatan Kalapa Nunggal, Kabupaten Sukabumi dengan cara dipikul. Kemudian untung dari dagangannya tersebut Ia bagi dua, separuh untuk masak, separuh lagi untuk ditabung guna biaya pendidikan kedua anaknya.

Pendidikan SMA sudah dijalani dengan baik dan cukup berprestasi oleh Luli, anak pertama Yuyum. Hati kecil Yuyum berkata ingin rasanya Luli dapat lanjut belajar ke jenjang kuliah. Namun apa daya, hasil dagangan gorengan, pendapatan suaminya sebagai kuli, tidak cukup untuk memasukkan Luli ke perguruan tinggi. Belum lagi masih ada tanggungan untuk biaya sekolah anak keduanya yang saat ini masih SMP.

Di tengah keputusasaannya, Yuyum terus mencari celah bagaimana Luli dapat mengenyam bangku kuliah. Dirinya tidak ingin pendidikan Luli putus ditengah jalan. Sebab hal tersebut yang saat ini Yuyum dan Suaminya rasakan.

“Bagaimanapun, Luli harus kuliah, itu yang selalu saya pikirkan saat itu. Sebab saya dan suami hanya sekolah sampai SMP. Kami tidak ingin anak-anak merasakan yang kami rasakan. Mereka harus lebih baik,” ujar Yuyum.

Pada tahun 2011 datanglah secercah harapan. Harun Arrasyd, Ketua Koperasi Peternak Serba Usaha (KPSU) Riung Mukti datang menghampir Yuyum. Harun menawarkan kesempatan kuliah gratis untuk anaknya. Kesempatan tersebut berdasarkan dari program Tebar Ternak Domba (T2D) yang diusung Yayasan Al-Fath. Dalam program tersebut Luli dapat kuliah dengan gratis dengan syarat Yuyum harus memelihara domba-domba milik Al-Fath.

Tanpa pikir panjang Yuyum mengambil kesempatan tersebut. Belum ada pengalaman sebelumnya untuk memelihara kambing. Namun dirinya meyakini, apabila suatu pekerjaan dikerjakan dengan tekun dan ikhlas akan membuahkan hasil yang baik.

“Saya diberi sepasang kambing. Setiap kambing betina melahirkan anaknya menjadi milik Al-Fath,” jelasnya.

Dikatakan Yuyum, mahasiswa lain selain anaknya harus menyediakan uang Rp 700 ribu tiap bulannya untuk biaya kuliah. Dirinya sangat bersyukur pengeluaran sebesar itu tidah harus Ia tanggung. Selain itu Luli selama berada di asrama mencari uang dengan cara mengajar les private untuk keperluan kuliahnya sehari-hari.

Keseharian Yuyum sejak itu berubah. Aktivitas menjual gorengan sudah tidak Ia lakoni. Dirinya memulai hari sejak pukul 3.00 WIB untuk menyiapkan sarapan serta makan siang bagi suami dan anak bungsunya. Kemudian pada pukul 05.00-14.00 WIB Yuyum mencari rumput untuk kambing. Setelah itu fungsi Yuyum sebagai ibu rumah tangga harus kembali dilakoni. Setelah memberi makan kambing, layaknya ibu rumah tangga lain, Yuyum langsung mencuci piring, membersihkan rumah dan lain-lain.

Hal tersebut dilakukannya setiap hari. Rasa lelah, panas, dan berat mengangkat rumput dari kebun ke rumah yang berjarak 2 km tidak pernah dikeluhkannya. Asalkan anaknya dapat jadi sarjana, Yuyum ikhlas melakukan itu semua.

“Saya percaya apa yang Luli lakukan di asrama. Dia pasti belajar dengan giat. Oleh sebab itu saya juga harus bekerja dengan giat,” ujarnya.

Tidak terasa empat tahun berlalu. Yuyum mendapat kabar bahwa Luli lulus dengan IPK 3,01. Dirinya sangat senang mendengar kabar tersebut. Tak sadar air mata menetes di pipinya, telapak tangan yang kasar akibat berkawan dengan arit dan rumput perlahan mengelap kedua matanya yang bergelinang air mata.

“Tak pernah terbayangkan saya memiliki anak seorang sarjana. Kini mimpi saya jadi kenyataan. Alhamdulillah saya bersyukur sekali atas pertolongan Allah,” pungkasnya.

Advertisement