Jamuan Makan Siang

Jamuan makan siang di jaman Belanda, antara pejabat pribumi dan Belanda.

MAKAN siang bersama pejabat adalah hal biasa. Yang tidak biasa justru yang diajak makan siang tersebut. Dia punya kebanggaan tersendiri. Jika ada fotonya, akan dipamer-pamerkan pada relasi atau temannya. Tujuannya untuk menunjukkan dirinya termasuk orang penting, setidaknya dekat dengan orang penting. Tentu saja ini tak berlaku bagi kalangan wartawan. Bagi mereka makan siang atau makam malam bersama presiden dan menteri, sudah terlalu biasa.

Beberapa hari lalu terjadi makan siang politik, ketika Presiden Jokowi di Istana mengajak 3 orang bakal Capres, yakni: Ganjar Pranowo, Prabowo dan Anies Baswedan. Tujuannya adalah, agar para Capres itu bersama para pendukungnya bisa menjaga Pilpres tetap kondusif, dan Presiden sekaligus menunjukkan bahwa dirinya bersikap netral, tidak condong atau berat ke sebelah mana.

Presiden Jokowi memang paling terkenal menggunakan politik makan siang untuk mencapai tujuan kebijakannya. Beliaunya ketika menjadi Walikota Solo, pernah mengajak pedagang di Banjarsari makan siang sampai 50 kali  untuk menyadarkan mereka agar bersedia dipindahkan ke Semanggi demi penataaan kota. Walikota Jokowi tahu persis, orang Jawa jika sudah kepotangan budi atau kasarnya klebon upa, takkan berkutik lagi untuk mengikuti kebijakannya. Dan itu benar adanya, sebab para pedagang tersebut pada akhirnya berhasil dipindahkan tanpa gejolak.

Makan malam bersama, sangat dianjurkan pada setiap keluarga. Sebab di sana bisa menjadi ajang berkomunikasi antar anggota keluarga. Tetapi karena ritme pekerjaan setiap anggota keluarga tidak selalu sama, jaman sekarang tidak mudah lagi untuk bisa menghadirkan kegiatan makan bersama. Bahkan banyak keluarg yang cara makannya sendiri-sendiri, tidak harus pukul 20:00 tit makan di meja yang sama.

Jika orang Barat punya tradisi menghormati tamunya dengan minum teh bersama, orang Indonesia khususnya orang Jawa, juga memiliki tradisi menghormati tamunya dengan makan siang bersama. Di Jawa Tengah sebelum tahun 1970-an, orang menyebutnya sebagai ngampirke. Ketika ada kenalan lama pulang kampung, keluarga itu akan masak istimewa, dan  tamu orang kota akan diundang untuk bersantap bersama sambil cerita macam-macam termasuk nostalgianan.

Orangtua penulis sebelum tahun 1970 sering sekali melakukan hal itu, ngampirke tamu agung dari Jakarta, Surabaya, Bandung, Semarang, Palembang bahkan Malang. Bagi penulis yang masih bocah, memiliki kebahagiaan ganda. Di samping  bisa makan enak hari itu, setidaknya berlaukkan bumbu rujak ayam atau gulai kambing, para tamu itu ketika pulang tak lupa kasih sangu pada kami, anak-anak bapak. Sayangnya, tradisi itu kini sudah mulai menghilang, sebab orang kota kembali ke kampung biasa terjadi setiap hari.

Makan siang ataupun makan malam bersama priyayi, punya aturan tidak tertulis di mana siapapun yang diajak makan bersama harus tahu. Misalkan, mulut tidak boleh sampai berbunyi ketika mengunyah (kecap), hindari timbulnya suara ketika piring beradu dengan sendok. Si tamu jangan sampai “agresi” mengambil makanan yang terlalu jauh dari posisi duduknya, kecuali tuan rumah menyodorkan atau mendekatkan obyek makanan itu. Jangan pula bersendawa, posisi kaki juga harus dalam posisi duduk manis tak boleh bersilang sebagaimana dalang. Ambil lauk dan makanan secukupnya, jangan sampai bersisa di piring. Selesai makan sendok dan garpu harus diletakkan sejajar dalam piring.

Dalam buku Serat Subasita (buku tatakrama) karya Ki Padmosusastro  (Balai Pustaka 1925) banyak dibahas soal ini. Adakah orang sekarang masih memahami? Pada majalah wanita Kartini atau Femina di tahun 1980-an, pernah dimuat tentang romantika kehidupan makan bersama priyayi. Meski anak menantu sendiri, gara-gara kentut ketika makan malam bersama, langsung putrinya diminta bercerai dengan si mantu yang jugul tidak punya sopan santun tersebut.

Wartawan tiga jaman H. Soebagijo IN dari LKBN Antara pernah bercerita, bagaimana almarhum di tahun 1960-an diajak makan Presiden Sukarno bersama sejumlah wartawan di Istana. Karena ada berita sangat penting yang harus dikonfirmasi, pagi-pagi mereka mendatangi Istana. Bung Karno kebetulan hendak sarapan pagi, langsung saja para wartawan itu diajak sarapan pagi sekalian. Ternyata, bagian dapur tidak, siap karena nasi memang tinggal sedikit. Terpaksalah para wartawan itu hanya kebagian masing-masing satu sendok nasi. Tapi itu kenangan indah makan bersama Presiden RI.

Penulis meskipun wartawan tapi bukan wartawan Istana, sehingga belum pernah makan bersama Presiden. Paling-paling bersama para menteri, misalnya Menag Maftuh Basyuni, atau juga dengan mantan Wakasad Jendral Ahmad Yani, Haryo Ketjik. Paling sering dengan Menpen Harmoko. Sebab selain dia mentri, juga pemilik Harian Pos Kota tempat penulis glidik (bekerja). Secara periodik beliaunya mengajak makan sing bersama Pemred dan para Redpel. Sambil makan Harmoko selalu bercerita tentang kebijakan pemerintah, mana yang boleh ditulis dan mana yang tidak. Jika Pos Kota menulis berita yang nyrempet-nyrempet bahaya, Pemred dan Redpel yang diajak makan bersama harus siap diomeli: taik kucing, wartawan memamah biak dan sebagainya.

Penulis pun jadi ingat pengalaman rekan yang kini menjadi MC. Di masa mudanya dia pernah ngewula (bekerja) pada orang kaya di bilangan Kebayoran Baru. Karena dia mahir menggambar wayang, dimintanya melukis wayang pada kelapa gading untuk prosesi 7 bulan anaknya yang sedang hamil. Selesai mengerjakan pesanan, sobatku yang masih berusia ABG itu diberi makan dengan piring seng yang sudah geripis. Yang bikin dia kaget, di saat yang sama anjing piaraan si Bruno dikasih pula makanan dengan ajang piring seng yang yang sama. Selera makannya langsung hilang, bahkan dalam hati misuh (memaki), “Asu…..!: (Cantrik Metaram).

 

Advertisement