DALAM usia 45 tahun dewasa ini, Raden Burisrawa terus saja jomblo, hidup membujang berkepanjangan. Tidur sendiri, makan sendiri, mencuci juga sendiri; macam Rinso. Di rumahnya di kompleks BTN Cindekembang Permai, putra Prabu Salya dari Mandaraka itu kerjanya hanya muter kaset lagu lamanya Kus Plus, “Begini nasib jadi bujangan, ke mana-mana asalkan suka tiada orang yang melarang, ….hati senang walaupun tak punya uang…….”
Wanita cantik bukanlah cuma Wara Sembadra, tapi Raden Burisrawa sudah kadung cinta setengah mati pada putri Mandura yang kini dipersunting Harjuna. Maka meskipun banyak wanita yang mau dipersunting, Burisrawa tetap bergeming. Dia juga curiga, mau dengan dirinya bukan karena cinta, tapi naksir harta dan aset-aset miliknya.
“Mereka semua gadis bau bensin. Kalau aku sudah miskin dan tua, pastilah ditinggalkannya,” kata Burisrawa.
“Calon raja Mandaraka, mana mungkin bisa miskin, Mas?” hibur wartawan yang mewancarainya.
Yang sedih, prihatin dan bisa memahami, tak hanya keluarga dekat, tapi juga Patih Sengkuni dari negeri Ngastina. Jagad ora mung sagodong kelor, katanya. Contoh itu Sarjokesuma putra Prabu Duryudana, meski gagal persunting Pregiwa terus coba-coba melamar putri yang lain. Atau kalau mau lebih elit, tirulah Khofifah Indarparawansa dari negeri tetangga Indonesia, meski dua kali gagal nyagub, masih pengin maju lagi di 2018.
“Atau kamu pengin Putri Solo yang lakune kaya macan luwe? Bilang sama aku, nanti Sengkuni yang siap melamar.” Hibur patih Ngastina tersebut.
“Perempuan lain aku tak lagi bernafsu. Cintaku kadung diborong habis oleh Wara Sembadra, paman.” Jawab Burisrawa tanpa ekspresi.
“Kalau begitu kamu nunggu dia jadi janda? Tapi kapan, kayaknya matinya duluan kamu.” Ledek Patih Sengkuni.
“Jangan begitu, dong Oom. Rejeki orang siapa tahu.”
Begitulah, karena terlalu cintanya pada Wara Sembadra, omongan Burisrawa jadi tak masuk akal dan melawan skenario para dewa. Mana mungkin dia bisa menikmati janda Sumbadra. Sebab dalam skenario Perang Baratayuda yang telah termaktub dalam Kitab Jitapsara, justru Burisrawa mati duluan oleh tangan Haryo Setyaki dari Lesanpura.
Seminggu sejak “dikerjain” Patih Sengkuni, mendadak Raden Burisrawa hilang dari peredaran. Apakah dia diculik karena terlibat proyek e-KTP? Rasanya tidak juga. Sebab sosok wayang macam Burisrawa, mana tertarik jadi anggota dewan. Sebab meski namanya ngetop di jagad perwayangan, dia sama sekali tak tertarik ke jagad politik. Suka dia justru bertapa di tempat kramat, bahkan mandinya pun hanya di bulan Suro, berbarengan dengan keluarnya kebo Kyai Slamet di Kraton Surakarta.
“Paman Sengkuni, saya dapat laporan dari rama Prabu Salya, dimas Burisrawa sudah seminggu menghilang dari kesatriannya.” Kata Prabu Duryudana dalam sidang terbatas di negeri Ngastina.
“Apakah dia begitu penting bagi Ngastina, anak Prabu? Ada atau tidak Burisrawa, sama sekali tidak memberi nilai tambah bagi negeri ini.” Jawab patih Sengkuni angin-anginan, mumpung tak ada Prabu Baladewa, kakak ipar Burisrawa.
Memang iya sih. Tetapi sebagai anak menantu, mana mungkin Prabu Duryudana kehilangan empati atas raibnya sang adik ipar. Bagaimana kata Prabu Salya nanti? Jika Dewi Banowati istrinya ditarik kembali, apa nggak cotho? Maka meskipun hanya buang-buang anggaran percuma, tetap dikeluarkan dana pencarian Raden Burisrawa. Di samping lapor polisi untuk persyaratan berita wayang hilang di koran, juga tak segan-segan Prabu Duryudana pasang iklan di sejumlah media televisi swasta dan internet.
Enam bulan telah berlalu, kabar berita tak ada Burisrawanya, maksudnya: Burisrawa tak ada kabar beritanya! Namun bersamaan dengan itu, didengar kabar bahwa sejumlah begawan masuk panti jompo karena pertapaannya terjual gara-gara dipailitkan pengadilan. Begawan Durna, Begawan Abiyasa, Resi Seta, Resi Bisma; semua dalam kondisi terlantar sekarang. Sedangkan padepokan Sokalima, Saptaharga, Sukohini dan Talkanda kini sudah disulap menjadi rumah mewah bagaikan istana. Tapi siapa pemiliknya juga tidak jelas, karena rumah-rumah itu hanya ditunggui satpam berseragam.
“Siapa pemilik rumah ini sekarang?” tanya Kartomarma dalam sebuah sweping.
“Nggak jelas, Pak. Saya hanya suruh nunggu doang. Kadang-kadang ada ibu muda cantik ke sini, tapi orangnya royal sekali. Untuk ngopi saja saya diberinya Rp 500.000,-“ jawab sang satpam.
Rumah-rumah mewah yang jual belinya tanpa lewat notaris, jelas merugikan bagi pemasukan pajak di Ngastina dan Ngamarta. Lebih dari itu, Prabu Puntadewa dan Prabu Duryudana juga sangat malu bahwa para begawan pepundennya mendadak jatuh miskin dan harus ditampung di rumah milik Dinas Sosial. Padahal kata Bung Karno dulu, bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai para begawannya!
Pendawa dan Kurawa segera membentuk Tim Pencari Fakta Bersama. Tindakan pertama menyita rumah-rumah misterius yang tak jelas pemiliknya tersebut. Ternyata efektif. Begitu rumah itu ditempeli poster DISITA UNTUK NEGARA, seseorang muncul menginformasikan bahwa pemilik bangunan itu Burisrawa dari Cindekembang. Tak ayal Burisrawa yang baru pulang dari luar negri langsung diusut. Ternyata semua rumah mewah eks padepokan itu dia yang membelinya. Bukan itu saja, kini dia juga punya 3 istri sekaligus yang cantik-cantik nan seksi. Ketiga perempuan inilah yang namanya dipakai untuk kepemilikan rumah.
“Kamu beri mahar berapa itu Putri Solo yang seksi menggiurkan,” telisik Prabu Baladewa.
“Cuma Rp 15 miliar, Kangmas.”
“Gila! Daging lokal saja begitu, apa lagi yang impor!” Prabu Baladewa geleng-geleng kepala.
Burisrawa kemudian dipaksa mengembalikan rumah-rumah itu pada bentuk semula dan diberikan kepada Begawan Durna Cs. Ternyata tidak mau, bahkan dia dengan jumawa menantang perang. Semua prajurit Ngastina, bahkan juga Pandawa, tak satupun mampu mengalahkannya. Akhirnya Setyaki tokoh lain jalur pun mencoba membantu, tapi Werkudara tak percaya karena kondisi phisik “sapukawat” Dwarawati yang kecil.
Setelah dites onclang (saling lempar) gada Rujakpolo dan ternyata Setyaki bisa mengimbangi, baru diizinkan melawan Raden Burisrawa. Namun faktanya, lagi-lagi Setyaki kalah. Berdasarkan pengamatan dari Kaca Paesan, Prabu Kresna menilai hanya Kyai Lurah Semar saja yang bisa menyelesaikan.
“Masak tokoh tua begitu didorong-dorong maju, kayak Pilpres saja.” Sindir Werkudara.
“Buktikan dulu, yang jelas ini bukan pencitraan,” bela Kresna.
Kyai Semar segera menghadapi Burisrawa. Ternyata setelah ketemu punakawan senior tersebut, Burisrawa langsung KO sebelum bertanding. Bersamaan dengan itu dari tubuhnya berkelebat keluar Betari Durga dan segera kabur kembali ke Pasetran Gandamayit. Rupanya memang dia yang menjadi aktor intelektual segala kelakuan Raden Burisrawa selama ini.
Burisrawa segera diinterogasi tidak kurang dari 8 jam. Dari mana duitnya sehingga bisa koleksi begitu banyak rumah mewah dan istri, sedangkan BTN-nya di Cindekembang saja eternitnya pada jebol? Ternyata itu dari hasil menjaminkan Jamus Kalimasada di Bank of Ngalengka. Tapi bagaimana mungkin, karena pusaka tersebut hingga kini tetap pada tempatnya.
“Yang itu hanya duplikat, Oom. Aslinya di Ngalengka,” jawab Burisrawa lagi.
“Haa? Otak koruptormu begitu nyata. Gua kepret langsung vertigo, kamu!” Omel Baladewa, sementara Burisrawa hanya nyengir belaka.
Gedong pusaka di Ngamarta segera diperiksa. Secara kasat mata Jamus Kalimasada memang tetap berada dalam kotak kaca. Tapi setelah diperiksa dengan seksama dalam tempo sesingkat-singkatnya, ternyata itu memang tiruan belaka. Mirip pencurian patung kuno di Museum Radyapustaka, Sala.
Sedangkan Begawan Durna Cs dikembalikan ke singgasananya, dan dipulihkan hak dan jabatannya. Mereka kibarkan bendera padepokan dengan megah. Tapi giliran HUT Negara, malah pasang bendera nyempil di pagar rumah. (Ki Guna Watoncarita)



