“Harum madu di mawar merah//Mentari di tengah-tengah//Berbelit jalan ke gunung kapur//Antara Bandung dan Cianjur.”
Gambaran seperti yang dituliskan Ramadhan KH dalam puisi Priangan Si Jelita yang ditulis pada tahun 1956 itu susah kita bayangkan saat ini. Demikian pula lukisan Affandi tahun 1979 berjudul “Gunung Kapur Padalarang.” Entah di mana obyek yang pernah dilukis Affandi itu. Semua sudah berubah, hampir musnah, menyisakan kenangan pedih, tinggal tunggu waktu sampai hancur total.
Debu mengepul di pegunungan kapur Citatah, Bandung Barat. Truk-truk besar hilir mudik mengangkut hasil tambang. Pekerja tambang menutupi sekujur tubuh dengan baju lengan panjang, celana panjang, dan sepatu boot. Mereka menggunakan kaos sebagai masker yang menutupi rambut, mulut, hidung dan mata dari pedihnya debu kapur. Dua sisi yang terluka dalam proses ini: alam yang makin tergerus, dan kondisi sosial ekonomi warga sekitar yang bertahan di bawah garis kemiskinan, berprofesi sebagai buruh kasar penambang.
Kawasan karst Citatah, Rajamandala, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, lain dulu lain sekarang. Bukit-bukit kapur yang dulu tegak kokoh, kini sebagian besar sudah rata dengan tanah. Di sana terlihat bukit kapur yang botak, bopeng, dan terbelah menyisakan puing-puing kepedihan dan kekhawatiran akan datangnya bencana.
Secara geohidrologi, sebagian besar daerahnya merupakan daerah resapan air. Namun akibat pemanfaatan ruang, terutama untuk pertambangan yang berlebihan yang kurang memerhatikan asas konservasi dan kelestarian lingkungan hidup, kawasan itu rusak dengan cepat.
Gejala rusaknya kawasan ditunjukkan oleh hilangnya beberapa mata air, kini tinggal menyisakan satu mata air di Pasir Pawon. Ditambah musnahnya beberapa perbukitan kapur yang indah, terancamnya situs Gua Pawon, dan berkembangnya benih konflik sosial di masyarakat.
Lain Padalarang, lain pula Bangka Belitung. Selain menyimpan keindahan alam, terutama pantai, daerah penghasil timah ini juga memiliki cerita kelam dari sisa penambangan. Cekungan tanah yang menganga sisa penambangan ada di mana-mana. Lubang besar itu menjadi danau yang menguncang bahaya bagi siapa saja. Demikian pula lahan-lahan tandus nan gersang bekas tambang.
Kubangan tanah rusak itu sangat luas, bahkan dapat berupa situ karena terisi air hujan. Parahnya, tidak ada ikan yang hidup di sana. Kandungan racun sisa tambang membuat ikan-ikan terkapar. Potret kerusakan alam yang sempurna.
***
Dua daerah di atas hanyalah contoh bagaimana kondisi alam kita yang kian hari semakin merana. Belum lagi alih fungsi lahan, pembalakan, dan pembakaran hutan. Jika tidak dihentikan segera, kita hanya bisa pasrah saat alam berbalik marah kepada kita. Jangan sampai bencana datang, menghancurkan rumah dan harta benda yang kita miliki karena tangan-tangan kita sendiri.
Harus ada upaya yang sistematis untuk menjaga ala mini, sehingga ia bisa tetap hijau dan lestari. Jika alam tetap asri, maka ia bisa menghidupi kita yang mendiami. Itu mengapa Dompet Dhuafa menggulirkan program yang fokus terhadap isu lingkungan. Karena kerusakan lingkungan juga berkelindan dengan kesejahteraan dan kemiskinan. Melalui Semesta Hijau (SEMAI), Dompet Dhuafa berikhtiar menjaga alam dan lingkungan.
Di bumi Cipatat yang makin lumpuh inilah, SEMAI menggelar aksi Sedekah Pohon. Saat ini telah ada sekitar dua ribu bibit pohon bambu hitam yang ditanam di beberapa titik area bekas tambang yang telah rusak. Lahan yang digunakan untuk penanaman seluas kurang lebih tujuh hektare. Ada 10 titik penanaman di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Bandung Barat. Penerima manfaat program ini sebanyak 20 kepala keluarga, masing-masing berkewajiban merawat 200 bibit pohon bambu hitam.
Penanaman bambu hitam di kawasan karst Cipatat itu, berkat kerjasama SEMAI dengan Yayasan Saung Angklung Udjo (YSAU), Bandung. Saung Angklung Udjo yang terkenal sebagai industri kreatif, memfasilitasi warga agar bersedia menanam bambu hitam. Selanjutnya, bila bambu telah siap panen dan bisa dibuat kerajinan angklung, akan dibeli Saung Angklung Udjo dari warga Cipatat. Itulah salah satu pola konservasi alam plus peningkatan pendapatan kaum dhuafa. Kemitraan yang indah.
Sedekah Pohon menjadi andalan program SEMAI di samping program lingkungan lainnya. Diinisiasi pada tahun 2010, ratusan ribu pohon telah ditanam Dompet Dhuafa bersama mitra.
Program Sedekah Pohon memiliki keunggulan dibanding program tanam pohon yang kerap dilakukan instansi pemerintah atau perusahaan swasta. Pohon yang ditanam diikuti program pemeliharaan selama lima tahun. Pohon yang ditanam pun dipilih yang berjenis pohon produktif sehingga secara ekonomi pertumbuhan dan perkembangbiakan pohon berimbas pada ekonomi. Nah, Dompet Dhuafa mengupayakan penanaman pohon itu dilakukan oleh dhuafa. Dengan demikian, mereka bisa mendapatkan hasil ekonomi dari pohon yang mereka tanam dan rawat.
Lahirnya program Sedekah Pohon ini dilatari banyak pemikiran. Sebelum resmi menjadi sebuah aktivitas Dompet Dhuafa, program Sedekah Pohon telah mengalami pematangan konsep di internal organisasi amal sosial ini. Konsep yang melatari program itu adalah: (1) paradigma Islam tentang lingkungan yang saat ini dikenal sebagai fiqh al-bi’ah, (2) peta bumi yang makin rusak karena deforestasi dan pemanasan global (global warming), (3) keprihatinan dunia akan kerusakan alam dan lahirnya beberapa regulasi internasional dan nasional untuk mengantisipasi lumpuhnya bumi, dan (4) potensi tanaman produktif, baik konsumsi lokal maupun untuk diimpor.
Sedekah Pohon
Bagaimana bersedekah dengan pohon? Dalam pandangan Dompet Dhuafa, pohon yang disedekahkan oleh aghniya (orang kaya berkemampuan), akan disalurkan kepada dhuafa yang bersedia merawat hingga berbuah dan menghasilkan pendapatan tambahan. Secara mudah, dua sisi sekaligus dalam sedekah pohon ini: manusianya dan alam semesta. Bersedekah kepada insan mustahik dan kepada alam.
Sedekah Pohon juga bertujuan merespon isu global terkait masalah lingkungan hidup yang saat ini berkembang pesat. Ada empat komponen isu dalam penanganan sedekah pohon, yaitu mustahik, pemberdayaan, lahan dan proses program. Dalam konteks sosial, program sedekah pohon akan memberikan manfaat kepada mustahik untuk mendapatkan insentif pemeliharaan, penambahan aset kelola dan bagi hasil.
Sedekah Pohon berangkat dari Dompet Dhuafa yang sangat konsen terhadap mustahik, maka program ini harus berbasis mustahik dengan profil penerima manfaat berkategori miskin baik perorangan maupun kelompok, sudah menikah atau hidup dalam kelompok—misalnya pesantren. Terkait dengan aspek lahan, program ini harus jelas dari sisi penggunaan lahan, secara akad baik berstatus milik perorangan, yayasan, pemerintah maupun swasta. Sehingga kemungkinan konflik dapat dihindari.
Sekilas program Sedekah Pohon hampir mirip dengan konsep penghijauan lainnya, namun secara spirit konsep Dompet Dhuafa ini berbeda, ditinjau dari fokus obyek penanganannya. Kalau program penghijauan titik fokusnya lebih pada aspek tanaman (pohon), sehingga kadang kurang memperhatikan masyarakatnya. Sementara titik perhatian Sedekah Pohon justru pada masyarakatnya sebagai proses pemberdayaan. Jadi pohon atau tanaman hanya sebatas instrumen (wasilah) bagi proses pemberdayaan yang akan dilakukan.
Alam semesta ada untuk dinikmati manusia. Namun, bukan melindungi alam secara fanatis dengan menyingkirkan manusia di sekitarnya. Ibaratnya, jangan sampai karena kita ingin menyelamatkan satu keluarga panda, kita harus mengusir ratusan keluarga manusia miskin yang menempati hutan secara tak legal. Harus ada solusi bagi alam dan manusianya. Wallahu A’lam [Amirul Hasan]





