Jawa Berpotensi Terancam Bencana Katastropik

Sesar (patahan) Lembang, salah satu sesar yang mengepung pulau Jawa, selain sesar Opak, Cimandiri, Cipamingkis, Baribis dan lainnya yang berpotensi memicu gempa.

KESADARAN dan pemahaman terkait ancaman bencana di Pulau Jawa terutama Jakarta yang padat penduduknya dan menjadi lokasi gedung-gedung tinggi dan pencakar langit perlu terus digaungkan agar para pihak terkait segera tergerak melakukan mitigasi.

Mengutip kajian jurnal internasional, harian Kompas (07/1) menyebutkan, jalur patahan (sesar) aktif di P. Jawa termasuk di sebelah selatan Jakarta dan utara Bandung yang bisa memicu bencana katastropik mengingat banyaknya warga yang berpotensi terdampak.

Sejauh ini, kajian sesar Lembang di Jwa Barat sudah dibuat secara rinci sehingga bisadijadikan acuan perubahan tata ruang, namun untuk sesar Jakarta, diperlukan riset lanjutan.

Ahli geodesi dan gempa bumi Institut Teknologi Bandung Irwan Meilano seperti dikutip Kompas (08/1) mengemukakan, kajian gempa di Jawa yang dimuat dalam jurnal internasional bermutu dan melalui review ketat tidak bisa diabaikan begitu saja.

“Secara saintifik, terutama kajian tentang sesar Lembang sudah menjawab keraguan terkait aktif tidaknya sesar di area ini dan harus segera diikuti aksi mitigasi, “ ujarnya.

Kajian ilmiah aktifnya sesar dekat kota-kota besar di Jawa termasuk Jakarta yang dipublikasikan Endra Gunawan dan Sri Widiyantoro di Journal of Geodynamics, sedangkan kajian terkait sesar Lembang dipublikasikan oleh Mudrik R Daryono bersama Danny H Natadwijaja, Benyamin Sapii dan Phill Cummins di Jurnal Tectonophysics (Kompas, 07/1).

Menurut Irwan, publikasi Mudrik tentang sesar Lembang yang menjadi bagian disertasinya memiliki informasi rinci. Jalur patahannya dipetakan dengan sangat baik dan kekuatan maksimal gempa juga diketahui.

“Dari kajian Mudrik, dapat dimulai mitigasi di sepanjang sesar Lembang, “ ujarnya.
Mudrik, peneliti geologi Pusat Geoteknologi LIPI menyebutkan, peta jalur patahan yang dibuatnya berdasarkan peta “light detection and ranging – LIDAR) resolusi 90 cm. Penulisan disertasi Mudrik bekerjasama dengan Australia yang mendanainya pembelian peta.

Bersama peneliti Pusat Studi Gempa Bumi Nasional Mudrik merinci jalur sesar di Jawa termasuk di Jakarta. Namun ia mengakui, anggaran terbatas. Untuk mencari jalur patahan, digunakan peta gratisan dengan resolusi 30 meter.

Belakangan ada peta BIG (Badan Informasi Geospasial) resolusi 8,5 meter yang bisa digunakan membantu identifikasi di area lain, namun untuk Jakarta belum bisa, karena pergeakan sesar di Jakarta amat kecil sehingga deformasi di permukaan juga kecil.

“Morfologinya sulit dilihat terlihat karena tertutup vegetasi dan padatnya bangunan. Butuh peta resolusi di bawah satu meter, minimal seperti LIDAR, “ ujarnya.

Sementara itu, kajian Endra Gunawan berskala regional dan memerlukan riset lanjutan guna merinci sesar di tiap segmen.

Sulit Peroleh Dana Riset
Mudrik mengemukakan, dukungan pendanaan riset untuk pemetaan rinci jalur patahan aktif di Indonesia, termasuk Jawa, tidaklah mudah.

“Tahun lalu kami mengajukan dana riset melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan untuk meneliti sesar aktif di Semarang, tapi ditolak, “ tuturnya.

Hal itu sangat disayangkan, karena menurut pemodelan yang dibuat Ngoc Nguyen, Phil R Cummins dan Tim Australian National University (ANU) 2015, gempa-gempa besar di Jawa bisa menimbulkan risiko besar.

Jika gempa yang terjadi pada 1699 terulang lagi, korban bisa mencapai 100-ribuan karena kepadatan penduduk dan bangunan, terutama gedung tinggi dan pencakar langit.

Gempa yang mengguncang Batavia pada 5 Januari 1699 akibat letusan Gunung Salak itu menewaskan 28 orang dan merusak 49 bangunan permanen, padahal jumlah penduduk saat itu di bawah 100 ribu orang.

Potensi ancaman bencana sudah di hadapan mata, ayo segenap pemangku kepentingan dan masyarakat, tunggu apalagi untuk bahu-membahu melakukan mitigasi. (Kompas/ns)

Advertisement