Saudaraku, dalam kesenyapan yang menggantung di antara napas dan waktu, aku mendengar detak jam seperti langkah yang perlahan menuntun pulang ke panggung lama tempat hidup pernah berputar. Tubuh ini kian rentan, namun batin justru lebih peka menyimak gema masa silam—seperti penonton yang tinggal seorang diri di teater yang lampunya mulai redup.
Ingatan datang bagai bayang-bayang yang menari di tirai cahaya: suara tawa yang dulu riuh di halaman, tapak kaki yang berkejaran di tanah basah, permainan sederhana yang membuat dunia terasa luas tanpa batas. Betapa polosnya dulu kita bermain—tak takut kalah, tak takut jatuh—seolah waktu hanyalah permainan yang tak pernah usai.
Kini aku mengerti, bahwa hidup pun tak jauh berbeda dari permainan: ada yang berlari cepat, ada yang tersandung; ada yang tertawa lantang, ada yang diam menahan perih. Namun di balik setiap adegan, ada tangan tak terlihat yang menata naskah dengan kebijaksanaan sunyi. Kita sekadar pemain—kadang memerankan peran utama, kadang menjadi figuran di tepi panggung—namun semuanya penting bagi kisah yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Ketika tirai mulai turun dan lampu-lampu padam, aku melihat dengan mata yang lebih jernih:
bahwa pentas kehidupan bukan untuk dimenangkan, melainkan untuk dijalani dengan kehadiran penuh, dengan hati yang mampu tertawa di tengah luka dan mencintai meski tahu segalanya akan berlalu.
Segala yang kita mainkan, segala yang pernah menyentuh hati, akan tetap hidup sebagai jejak halus di ruang waktu. Dan kelak, ketika panggung ini benar-benar sunyi, semoga yang tertinggal hanyalah cahaya lembut kenangan—jejak dari permainan yang tulus, dan kehidupan yang telah dijalani dengan sepenuh hati, setabah darma.



