Jejak Kerajaan Islam di Mempawah

Istana Amantubillah, Kerajaan Mempawah. (Foto: wikipedia.org)

MEMPAWAH – Malam telah tiba dengan siluet merah jingga yang masih tersisa di atas Istana Amantubillah, Mempawah, Kalimantan Barat. Saat malam tiba dan cahaya lampu yang berpendar, Istana Amantubillah terlihat gagah dengan nuansa warna hijau pekat.

Pada Kamis (9/2/2023), keramaian terlihat di sekitar Istana Amantubillah. Rupanya, kerabat keraton Mempawah menyambut kedatangan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno.

Raja Muda Mempawah, Muhammad Hafidz Adinugraha, juga hadir untuk menyambutnya di singgasana istana.

Setelah prosesi penyambutan, tarian selamat datang dipertunjukkan. Sebelum memasuki Istana Amantubillah, kumandang selawat Nabi Muhammad SAW dikumandangkan oleh kerabat keraton yang diwakili oleh Raja Muda Mempawah, Wirabuana Muhammad Hafidz Adinugraha.

Istana Amantubillah berasal dari bahasa Arab yang berarti “aku beriman kepada Allah”. Ketika mengunjungi istana, pengunjung akan menemukan tulisan “Mempawah Harus Maju, Maju dengan Adat” di gerbang istana.

Seperti halnya kebanyakan kerajaan Islam di sepanjang pesisir Kalimantan Barat, Kesultanan Mempawah pun memiliki hubungan kekerabatan dengan kesultanan Pontianak.

Konon, Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri kesultanan Pontianak, adalah putra ulama dari Kesultanan Mempawah. Kesultanan itu juga masih berkerabat dengan Kesultanan Sambas dan kesultanan di Brunei Darussalam.

Bagi wisatawan, kunjungan ke sejarah kesultanan Islam di Kalimantan Barat tidak sulit dilakukan. Wisatawan dapat menuju ke utara dari Kota Pontianak untuk mengunjungi Kesultanan Mempawah.

Jarak tempuh dari Kota Pontianak menuju Mempawah sekitar 76 km dengan waktu tempuh sekitar dua jam. Wisatawan dapat dengan mudah menemukan ikon wisata kota itu, Istana Amantubillah, yang terletak di Terusan, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Dikutip dari laman Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, istana yang dibangun pada masa Pemerintahan Gusti Jamiril itu merupakan keraton dari Kerajaan Mempawah. Pemerintahan Gusti Jamiril yang memiliki gelar Panembahan Adi Wijaya Kesuma (1761–1787) itu merupakan sultan ke-3 di Kesultanan Mempawah.

Selama kunjungan ke Istana Amantubillah, Sandiaga Uno menyatakan bahwa bangunan itu merupakan potensi wisata berbasis adat, budaya, dan ekonomi kreatif kekinian yang menarik di Kabupaten Mempawah.

“Mempawah memiliki potensi (wisata) berbasis adat, budaya, maupun juga kearifan lokal dan ekonomi kreatif kekinian,” kata Sandiaga, dilansir dari indonesia.go.id.

Pada kesempatan itu, Sandiaga juga diberikan gelar kehormatan oleh Raja Mempawah Pangeran Ratu Mulawangsa, yaitu Pangeran Matayasa Wangsa.

Buka Lapangan Kerja

Berkaitan dengan pengembangan wisata budaya di Mempawah, Sandiaga menyatakan bahwa pengembangan wisata budaya di Mempawah dapat menjadi solusi untuk membangkitkan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja.

Oleh karena itu, ia berjanji akan mendorong pengembangan wisata dan ekonomi kreatif berbasis komunitas di Mempawah.

Sandiaga juga memberikan apresiasi terhadap upaya Pemerintah Provinsi Kalbar, Pemerintah Kabupaten Mempawah, Kesultanan Mempawah, dan pihak-pihak terkait dalam melestarikan nilai tradisi dan budaya sebagai daya tarik wisata di Mempawah.

Ia akan mendorong pengembangan potensi melalui program-program seperti Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), Kabupaten/Kota (KaTa) Kreatif, serta penguatan infrastruktur wisata dengan dana alokasi khusus (DAK).

“Jadi, nanti ini akan kita koordinasikan dengan pemerintah kabupaten dan provinsi,” pungkasnya.