Jins Sobek dan Sikut Tambalan

Padahal yang tampak kemudian, anak kecil pakai rok panjang jadi seperti wayang golek Sunda. (Cantrik Metaram)

INDONESIA memang bangsa yang lahap mode. Mode apapun asal dari luar negeri langsung “dimakan” mentah-mentah, baik itu yang dari Barat maupun Timur Tengah. Maka kini biasa terlihat, anak balita sudah banyak yang krembat-krembut pakai gamis, sementara budaya berkebaya bagi kaum wanita juga sudah banyak ditinggalkan. Yang dewasa ke mana-mana pakai celana jins sobek tanpa malu, bahkan baju hem bagus-bagus malah ditambal bagian sikutnya. Ini apa kurang bahan apa agar tampil modis dan kekinian?

Jika Bung Karno masih hidup, pasti menangis melihat bangsanya seperti itu sekarang. Melalui ajaran “Trisakti”-nya presiden pertama RI itu itu ingin Indonesia berdaulat di bidang politik, berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) di bidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan. Presiden Jokowi sebagai penerusnya berusaha  melanjutkannya, tetapi gagal total di point ketiga.

Bagaimana tidak? Berkepribadian dalam kebudayaan, bagi Presiden Jokowi sekedar wacana. Sekedar contoh, Bung Karno dulu hampir setiap bulan wayangan di Istana Negara. Sedangkan Jokowi sampai 2 perioda pemerintahannya baru sekali  nanggap wayang. Itupun sekedar menyerahkan wayang pada kidalang, tak lama kemudian pulang. Tapi giliran pentas musik Barat nan cadas, Presiden Jokowi betah menontonnya bersama rakyat. Beda dengan Bung Karno, nonton wayang di Istana sampai tancep kayon (pertunjukan selesai).

Berkaitan dengan berkepribadian dalam budaya, tahun 1960-an rambut sasak dan rok mepet dirazia. Lagu-lagu Barat yang disebut sebagai lagu ngak-ngik-ngok dibasmi. Grup band Koes Bersaudara jadi korbannya, sebab di samping mereka berambut gondrong, juga demen mempromosikan lagu-lagu Barat. Karena ngeyel merekapun sampai masuk penjara.

Setelah Bung Karno jatuh Koes Plus (nama baru Koes Bersaudara) dibebaskan. Mereka jadi pembenci Bung Karno. Celakanya, berangkat dari razia rambut gondrong dan pengguntingan rok mepet di Yogyakarta tahun 1966,  penulis jadi ikutan membenci pula rambut gondrong hingga kini. Karenanya terhadap penyanyi Didi Kempot, dalang Sudjiwo Tedjo, termasuk ustadz Gus Miftah; jadi nggak suka. Bahkan anak-anakpun saya ancam, “Awas jika punya pacar berambut gondrong!”

Meski hanya riak-riak kecil, penulis telah berusaha membawa keluargaku untuk berkepribadian di bidang kebudayaan. Misalnya, sebagai orang Jawa sengaja saya bikin rumah dekat TMII dengan maksud bisa sering nonton wayang karena berjarak dekat. Dari kecil anak-anak saya perkenalkan tontonan wayang, tetapi ngajak pulang melulu. Dikursuskan tari Jawa, hanya sebentar ikut, selanjutnya sudah bosan. Walhasil penulis sebagai orangtua rasanya bagaikan berteriak di padang pasir.

Ketika anak-anak berusia ABG, celana jins belel yang penulis benci, justru dipakai anakku. Saya bilang, jika kamu pakai celana jins sudah sobek dengkulnya, nanti dikira ayah tak mampu membelikan. Tapi tak digubrisnya, karena  sekarang di mana-mana anak muda pakai celana celana jins yang sobek di bagian lututnya. Bahkan pernah kulihat, suami istri dan anaknya dengan bangga dan percaya diri jalan-jalan dengan celana mirip punya gelandangan itu.

Orang dulu malu jika pakai hem panjang dengan ada tambalan di bagian lengannya. Eh, anak dan orang dewasa sekarang, justru banyak memakai hem panjang semacam itu; yang sengaja ditambal bagian sikutnya dengan kain warna lain. Itu mode katanya. Padahal di Inggris sana, para pekerja menggunakan hem semacan itu karena demi keamanan kerja, agar sikut bajunya tidak kotor. Tapi begitulah orang Indonesia, apa yang menjadi produk Barat maunya ngikuuuut saja…….

Ini sama halnya dengan orang Islam Indonesia yang semakin banyak mengenakan jubah, padahal kondisi alam kita beda dengan Arab sana. Maka KH Said Aqil Sirodj ketika masih menjadi Ketum PBNU pernah mengatakan, jubah dan sorbannya itu hanyalah pakaian nasional bangsa Arab. “Jika Nabi Muhammad lahir di AS, mungkin beliau mengenakan jins.” Kata KH Said Aqil Sirodj.

Tapi populasi berjubah orang Indonesia tak secepat ibu-ibu mengenakan gamis dan jilbab. Di tempat kondangan, kini wanita berkebaya ala Putri Solo menjadi makhluk langka yang perlu dilindungi. Bahkan di rumah pun banyak ibu rumahtangga yang tetap krembat-krembut mengenakan gamis. Tadi pagi penulis berkunjung ke RS Polri Kramat Jati Jaktim. Berdasarkan “survey” kecil-kecilan, dari ratusan pasien dan pengunjung di ruang spesialis Penyakit Dalam, ternyata hanya ditemukan 4 wanita yang mengenakan rok.

Bung Karno pernah mengatakan, “Kalau jadi Hindu jangan jadi orang India, kalau jadi orang Islam jangan jadi orang Arab, kalau Kristen jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang nusantara dengan adat-budaya nusantara yang kaya raya ini”. Masihkah seruan Bung Karno itu diperhatikan? Susah…… Yang terjadi anak SD pun kini harus pakai celana panjang untuk lelaki dan rok panjang untuk murid wanita. Padahal yang tampak kemudian, anak kecil pakai rok panjang jadi seperti wayang golek Sunda. (Cantrik Metaram)

 

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here