Jumlah Perokok Terus Meningkat

Jumlah perokok terutama pemula (anak-anak2 dan remaja semakin meningkat di Indonesia sehingga mengancam kesehatan generasi penerus bangsa.

PREVALENSI merokok di Indonesia khususnya di kalangan pemula yakni anak-anak usia 10 tahun dan remaja terus meningkat dari tahun ke tahun sehingga sangat membebani program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sementara pemerintah tidak menaikkan cukai tembakau tahun ini.

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, prevalensi merokok penduduk usia 10 tahun ke atas atau yang dikategorikan sebagai perokok pemula naik dari 28,8 persen pada 3013 menjadi 29,3 persen pada 2018. Sebelumnya dalam waktu sekitar dua dekade antara 1995 sampai 2016, prevalensi merokok di usia tersebut naik 100 persen dari 8,9 menjadi 18 persen.

Dampaknya, prevalensi penyakit kanker juga meningkat dari 1,4 persen pada 2013 menjadi 1,8 persen pada 2018 sedangkan prevalensi terkena stroke bahkan melonjak dari tujuh persen menjadi 10,9 persen akibat pola kehidupan yang buruk, salah satunya kebiasaan merokok.

Presiden Joko Widodo saat membuka pertemuan Kabupaten/Kota Sehat ke-4 di Tangerang, Minggu juga meminta masyaraat mendorong gerakan hidup sehat agar defisit anggaran BPJS dapat ditekan.

Menurut catatan, pengeluaran terbanyak program BPJS Kesehatan adalah untuk melayani pengobatan pasien penyakit jantung (Rp9,5 triliun), kanker (Rp3 triliun) dan gangguan ginjal (Rp2,2 triliun) yang antara lain diakibatkan menjalani pola hidup tidak sehat termasuk mengisap rokok.

Akibatnya, BPJS Kesehatan mengalami defisit Rp10,9 triliun pada tahun ini yang harus ditutup oleh pemerintah, padahal pengeluaran sebanyak itu bisa ditekan dengan gaya hidup sehat seperti mengosumsi makanan sehat dan rutin berolah raga serta menghindari rokok.

Namun di sisi lain, Peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Abdillah Ahsan dak Ketua Pengurus Harian Yayasan Lebaga Konsumen Indonesia Tulus Abadi menilai keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan cukai rokok tahun ini dilatarbelakangi kepentingan politik menjelang Pilpres 2019 padahal hal itu jelas-jelas merugikan konsumen dan kesehatan publik.

Iklan rokok di media elektronika terutama TV walau dilakukan secara terselubung, juga cukup berhasil untuk membangun persepsi di kalangan anak-anak dan remaja seolah-olah merokok merupakan kebiasaan anak-anak gaul, gagah dan trendi.

Tugas berat bagi para orang tua untuk melarang atau menjauhkan nak-anak mereka dari rokok sepanjang peredaran rokok tidak terawasi dengan baik dan tidak ada sanksi tegas terhadap anak-anak di bawah umur yang kedapatan merokok di tempat tempat tertentu,begitu pula penjualnya.

Advertisement