CIREBON-Pembangunan di sejumlah kota di Indonesia, salah satunya Cirebon membuat cadangan oksigen berkurang. Hal itu ditambah dengan masih rendahnya budaya menanam pohon di tengah masyarakat dan cenderung tidak peduli lingkungan.
Ketua Komunitas Pohon Indonesia (KPI) Kota Cirebon, Abdullah Syukur mengungkapkan, masyarakat cenderung kurang memahami manfaat menanam pohon. Mereka rata-rata tak menyadari, pohon maupun tanaman lain menghasilkan oksigen yang dibutuhkan.
“Manusia membutuhkan sekitar 0,5 kilogram oksigen per hari. Pohon-pohon keras, menghasilkan oksigen besar, seperti trembesi dan bambu,” tuturnya, seperti dilansir PR Online, Selasa (7/6).
Pohon jenis trembesi dan bambu, katanya, merupakan penghasil oksigen terbesar. Dia menyebutkan, satu pohon trembesi atau bambu mampu memproduksi oksigen 1,2 kilogram per hari.
Dengan kata lain, satu pohon dapat memberi oksigen bagi dua orang setiap harinya. Sayangnya, sekalipun dibutuhkan, produksi oksigen menghadapi tantangan berupa rendahnya kesadaran masyarakat menanam pohon. Tantangan itu, menurutnya, semakin berat tatkala menilik pesatnya pembangunan di kawasan perkotaan, khususnya Kota Cirebon.
“Pembangunan yang tinggi terkadang menggusur ruang terbuka hijau. Ditambah lahan kota kerap kali terbatas. Penebangan terhadap pohon dilakukan, ini sama saja dengan menghilangkan oksigen,” beber Syukur.
Pihaknya berupaya menggalakkan budaya menanam pohon. Menurutnya, untuk mengatasi keterbatasan lahan, masyarakat dapat memanfaatkan lahan-lahan tanggung, menanam tanaman gantung, memanfaatkan material bekas seperti botol atau pipa sebagai media tanam, dan lainnya.
“Sempadan sungai misalnya, bisa dimanfaatkan untuk menanam bambu. Namun, untuk ini semua harus ada edukasi, sosialisasi, pelatihan dan pembinaan, kepada publik luas,”tuturnya.
Secara terpisah, Kepala Bidang Pertamanan pada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cirebon, Abing Rijadi mengakui, masih adanya kendala dalam penghijauan di Kota Cirebon. Terutama dalam mewujudkan target RTH 20 persen. Kendala itu tak lain berupa luas wilayah Kota Cirebon yang sempit.
“Yang bisa dilakukan melalui optimalissi lahan-lahan yang ada dengan meningkatkan keteduhan pohon atau lebar kanopi pohon,” katanya.





