JAKARTA (KBK) – Bagi pedagang kecil, bisa membawa sedikit uang untuk keluarga di rumah adalah sebuah rasa syukur yang sangat besar seperti halnya Dudung (83) penjual lemang Bogor.
Setiap hari kakek renta itu selalu nongkrong di depan Mall Matahari Stasiun Bogor sambil menjajakan lemang hingga larut malam, namun tak banyak yang memperhatikannya. Bahkan para penumpang yang lalu-lalang memilih segera berlalu dibandingkan harus melihat dagangannya.
Berbeda dengan yang dilakukan netizen bernama Novita Anggraini yang sudi membeli lalu memposting kehidupan Dudung pada 6 November lalu. Dalam postingannya tersebut ia mengisahkan bertemu dengan Dudung yang merupakan warga Kahuripan Bogor, Jawa Barat.
Menurut Novita, Dudung telah melakoni profesinya selama 50 tahun. Selain berjualan ternyata Dudung juga memproduksi lemangnya sendiri. Guna mencari pelanggan terkadag Dudung juga mengelilingi daerah yang dianggap ramai dan sesekali mangkal di berbagai tempat.
Namun hari itu, Novita mengamati bahwa tak ada satu pun yang tertarik dengan dagangannya. Padahal lanjut Novita lemang asli Bogor yang dibuat Duduk terasa nikmat, bertekstur kering dan diberi cocolan serundeng.
Kemudian Novita memberitahu netizen lain bahwa harga lemang yang dijajakan Dudung tak mahal, hanya Rp 25 ribu.
Dalam waktu singkat, sontak puluhan netizen merespon postingan Novita dengan positif. Sebagian besar dari mereka mendoakan dan merasa terharu. Sementara yang lainnya merasa penasaran dan ingin bertemu dengan Dudung secara langsung.
Novita berharap dengan mengunggah Dudukke media sosial, setidaknya bisa meringankan beban Dudung agar tidak selalu pulang malam di tengah dinginnya Kota Bogor.
Salah satu netizen bernama Indri Permatasari menulis, “Kayanya belum pernah makam lemang bogor.. hii jadi pingin tumbas lah, pak dudung moga laris dagangnya, tetap sehat selalu. Share ah siapa tahu ada yang baca pas lewat sana dan beli lemangnya.. Aamiin.”
Sementara akun Audrey Nathalia menulis, “Dulu jaman sekolah dan ngekost di jembatan merah, pernah beli juga. Dulu mangkalnya di depan pasar depris.”




