Sleman Kuatkan Mitigasi Bencana dengan Sister School

Foto Ilustrasi

JAKARTA – Penguatan mitigasi bencana di sektor pendidikan masih terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Sleman. Di antaranya dengan merintis sekolah penyangga atau sister school.

Melalui kegiatan pengurangan resiko bencana berbasis masyarakat ini, sekolah terdampak dipersaudarakan melalui MOU dengan sekolah yang berada di wilayah yang relatif aman.

Dengan demikian, saat terjadi kondisi darurat, seluruh komponen sekolah yang terdampak bencana akan dipindahkan ke sekolah penyangga supaya kegiatan belajar mengajar tetap berjalan. Adapun saat ini, telah terbentuk 20 sister school serta 8 sekolah siaga bencana.

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun mengatakan, karakteristik wilayah Sleman yang beragam memiliki potensi bencana yang berbeda. Meski tak diharapkan terjadi, resiko bencana tetap harus diperhatikan dengan kesiapan dan kewaspadaan segenap masyarakat.

Dalam hal mitigasi bencana, Pemkab tidak hanya berupaya meminimalisir jumlah korban namun juga memastikan proses belajar mengajar anak didik tidak terhambat akibat terjadinya bencana.

“Maka itu, dikembangkan sister school atau paseduluran sekolah,” kata Sri saat menyaksikan gladi lapang bencana dan penandatanganan MoU sister school di SMP Santo Asloysius Donokerto Turi, seperti dilansir Tribun Jogja, Selasa (08/11/16).

Kunto Riyadi, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman menyebutkan, penerapan sister school saat ini difasilitasi di 4 sekolah sebagai sasaran. Yakni, SD Tarakanita Ngrembesan Turi dengan sekolah persaudaraannya SMP Alosius Turi, serta SD Pandanpuro II dengan sekolah persaudaraannya SD Muh Pakem.

Kegiatan ini dilakukan agar sekolah yang masuk dalam KRB III bila suatu saat terjadi bencana tidak terganggu dalam belajar mengajarnya serta sekolah sasaran siap menerima siswa yang terkena dampak erupsi merapi.

 

Advertisement