Kaki Palsu untuk Erizon, Harapan Baru Penderita Diabetes

Kaki Palsu untuk Erizon
Erizon dalam perawatan. Foto:Ist

Karena penyakit Diabetes yang diderita, membuat Erizon, warga Banda Buek, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, harus merelakan kaki kanannya diamputasi. Luka di ujung jarinya tak kunjung sembuh, kakinya jadi membusuk.

Berawal saat ia bekerja sebagai buruh bangunan, sepatu yang dipakainya untuk berkerja terlalu sempit, sehingga menimbulkan luka di bagian ujung jari kaki kanannya.

“Awalnya cuma luka biasa, namun lama ke lamaan, lukanya tidak kunjung sembuh, dan sampai membusuk. Lalu saya bawa berobat ke puskesmas, ternyata kata dokter kadar gula saya tinggi, ya diabetes, hal itulah yang membuat luka saya sulit untuk sembuh,” kata Erizon, sembari menceritakan peristiwa di amputasinya kaki sebelah kanannya itu pada tahun 2014 lalu, Rabu 9 November 2016.

Setelah adanya hasil pemeriksaan tersebut, Erizon disarankan untuk memeriksa lebih lanjut ke rumah sakit. Menurut Erizon, awal ia memeriksa kaki nya itu yakni ke Rumah Sakit Tentara Dr. Reksodiwiryo, hasilnya kaki nya itu harus diamputasi. Mengingat Rumah Sakit Tentara Dr. Reksodiwiryo tidak memiliki alat amputasi kaki yang lengkap ketika itu, ia pun di rujuk ke RSUP. M. Djamil Padang.

“Mendengar hasil pemeriksaan dari dokter, saya tidak pikir banyak, saya berserta istri setuju untuk melakukan amputasi itu. Apalagi biaya operasi dan pengobatan juga ditanggung oleh pemerintah melalui kartu KIS (Kartu Indonesia Sehat – red),” ujar Erizon.

Usai di operasi untuk melakukan amputasi itu, Erizon pun dirawat selama 3 hari di rumah sakit. Setelah itu ia di izinkan untuk rawat jalan, dan harus melakukan kontrol selama 1 kali selama 2 hari. “Memang biaya pengobatan ditanggung KIS, namun mengingat ongkos taksi dari Banda Buek menuju RSUP. M. Djamil Rp 80 ribu pulang balik, rawat jalan pun hanya sanggup ia jalani selama 1 minggu. Hal ini mengingat tidak adanya biaya untuk pergi kontrol.

“Saya memang hidup dalam kondisi yang terbatas, ongkos taksi selama 1 minggu itu, saya dapatkan dari hasil bantuan dan pinjaman dari tetangga dan sahabat,” jelasnya.

Semenjak 1 minggu itu dan hingga sekarang, Erizon tidak lagi melakukan kontrol tergadap di amputasinya kaki sebelah kanannya itu. Namun, ia mengakui kondisi kaki nya itu, dalam kondisi baik, karena bekas amputasi itu sudah mengering.

Agar kondisi tubuh tetap sehat, Erizon pun berinisiatif melakukan olah raga ringan, yakni mengangat barbel berar 10 kg setiap hari di waktu pagi. “Orang penderita diabetes itu kan harus banyak berolahraga, nah yang saya lakukan olahraga angkat barbel,” tegasnya.

Kini, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sewa rumah, ditanggung oleh istrinya Kasmawarni, dan anak sulungnya Al Kandri yang masih berusia 19 tahun.

Kasmawarni bekerja sebagai asisten rumah tangga di salah satu rumah di Simpang Haru. Sementara anak sulungnya Al Kandri bekerja di salah satu usaha Fried Chicken, dengan upah Rp 50 ribu perhari.

“Saya mempunyai 4 orang anak, yang sulung Al Kandri hanya tamat SD kini usai 19 tahun, kedua Imran kini sekolah di SMP 21 Padang di Banda Buek, ketiga Nabila masih duduk di sekolah dasar 03 Banda Buek, sementara si bungsu yakni Ramadhan yang berusia 5 tahun yang sering membantu dan menemani saya di rumah,” katanya.

Erizon tidak menepis soal biaya hidup di zaman sekarang yang butuh biaya yang banyak. Namun, ia masih bersyukur dengan usaha kerja istri dan anak sulungnya, sudah bisa mengisi perut hari demi hari, serta mampu membayarkan sewa rumah Rp400 ribu perbulannya.

“Saya dan keluarga hidup di rumah kontrakan, belum mampu punya rumah sendiri. Syukur masih bisa mengumpulkan sedikit demi sedikit uang untuk membayar sewa rumah,” ujar pria yang berusia 51 tahun itu.

Menurutnya, hidup dengan satu kaki selama 2 tahun, membuatnya tidak tenang melihat istri dan anak sulungnya harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga.

“Dengan kondisi seperti ini, saya pun mencoba meminta bantuan ke LAZ Semen Padang, yakni alat untuk membuat saya bisa berjalan tanpa harus duduk saja,” katanya.

Keinginan Erizon pun direspon positif oleh LAZ Semen Padang. Dari keterangan Ketua Pelaksana LAZ Semen Padang, Muhammad Arif, LAZ Semen Padang membantu Erizon agar bisa beraktifitas. Bantuan yang diberikan ialah membuatkan kaki palsu dengan kualitas yang bagus.

“Pembuatan kaki palsunya itu kini tengah dikerjakan, mungkin sebentar lagi selesai. Kaki palsu yang kita buatkan merupakan kualitas terbaik, mengingat Erizon penderita diabetes sehingga sangat dikhawatirkan apabila mengalami luka,” jelas Arif, saat ditemui di ruang kerjanya petang ini.

Ia mengakui, setelah diberikannya bantuan kaki palsu itu, LAZ Semen Padang juga akan melakukan peninjauan ulang, dan kemungkinan akan ada bantuan untuk usaha, supaya Erizon bisa lebih semangat menjalani hari-harinya, serta juga bisa membantu istri dan anak-anaknya. [ Muhammad Noli Hendra ]

Advertisement