KALA MARICA MBALELA

Prabu Dasamuka marah betul ditantang Kala Marica. Dasar raksasa tampang Cakil.

PRABU Dasamuka dari negeri Ngalengka memang gila paripurna; ya gila harta ya gila perempuan. Harta kekayaannya mencapai triliunan, tapi tak punya NPWP karena pernah bayar pajak. Lantaran aset pribadinya tak terhingga, dia dengan mudah koleksi bini hingga lusinan, tapi yang ditampilkan ke publik sebagai ibu negara hanya Dewi Tari. Itupun belum puas juga. Melihat Dewi Sinta di tengah hutan bersama Ramawijaya suaminnya, ukuran celananya mendadak berubah. Dewi Sinta dibawa kabur, dan sejak itu genderang perang Ngalengka-Pancawati mulai dipukul.

Beruntunglah, meskipun pemimpin Ngalengka bermental preman Tanah Abang, mayoritas rakyat Ngalengka masih gandrung kejujuran dan keutamaan. Maka menjadi  keniscayaan ketika LSM dan DPR-nya sekalian tanpa henti membully Prabu Dasamuka yang tanpa malu-malu jadi raja pebinor (perebut bini orang). Sayangnya, meski sudah berulangkali diinterpelasi, tak pernah mau datang ke gedung Wakil Rakyat, kecuali hanya kirim suruhan  Patih Prahastho. Padahal dianya menjadi warangka dalem (patih) sekedar untuk “ban serep”, karenanya omongannya saat RDP pating pecotot tidak keruan.

“Menurut petunjuk Prabu Dasamuka, katanya DPR tak berwenang panggil raja. Jika mau RDP, angkat dulu jadi perdana menteri, naru bersedia hadir.” Jawab  Prahastho singkat, menghemat halaman.

“Lho, bagaimana ta ini? Ini kan sekedar wayang parodi, begitu saja  kok dipikir serius.” ujar Tumenggung Bandaculika, Ketua DPR Ngalengka, gondok sekali.

Sejatinya banyak problem yang menyebabkan Dasamuka meremehkan panggilan DPR. Masalah paling anyar adalah, kaburnya Kala Marica keluar negeri, gara-gara kurang direken di lingkaran Istana. Sebagai loyalis pembantu Prabu Dasamuka, tentunya diberi posisi terhurmat, misalkan jadi Jubir Istana, diberi nama Kala Marica Nyebelin. Jabatan sekarang ini apaan, cuma jadi bendahara kraton. Padahal tanpa jasa dia, khilmusta Dasamuka sukses menggondol Dewi Sinta. Tapi ssst…., sopan sedikit dong! Jangan pakai istilah “gondol”, nanti Dasamuka masuk mesjid bikin geger.

Kala Marica sesungguhnya berkeinginan memperistri Sarpakenaka yang jelek dan giginya berantakan, sekedar untuk meraih posisi di Ngalengka. Tapi kadung kalah set dengan Kaladusana lan Kala Nopati yang berhasil jadi suaminya. Ih, perempuan kok bersuami dua. Bagaimana jika sedang “kebelet”, kok seperti Jl. Thamrin Jakarta saja, three in one. Paling menakutkan, Kala Marica pernah menyaksikan Dewi Sarpakenaka tengah ribut dengan Kaladusana; wihhh…. mrenges, memamerkan deretan giginya yang mirip sinso penebang pohon.

“Pakne Jendul nggak usah macem-macem. Kamu ke sini modal apa? Hanya punya bonggol tanpa benggol kok macem-macem,” omel Sarpakenaka mempermalukan.

“Kalau benggol jaman Belanda ada tuh, nih buat kerikan!” jawab Kaladusana sambil membanting pintu. Kala Marica sebagai saksi mata hanya mampu mengusap dada.

Wayang liver (sakit hati) macam Kala Marica punya seribu cara untuk berbalas dendam. Sadar posisinya tak punya nilai, api kemarahannya diwujudkan dalam bentuk korupsi sebanyak mungkin. Kas kraton dibikin negatif. Padahal raja Dasamuka ini meskipun koruptor agung, juga tak senang jika wayang lain ikut-ikutan korupsi. Jangan sampai ada langit di atas langit. Walhasil Kala Marica yang pernah mengomendani tim sukses Satgas Pencurian Dewi Sinta, dipanggil untuk dipecat.

“Mau pecat gue, silakan saja! Tapi awas, segala permainan paduka akan saya obok-obok sampai jadi bebek lumpuh.” ancam Kala Marica sambil berkacak pinggang macam wayang mau diadu. Lah, memangnya wayang!

“Sialan lu,  malah menantang. Silakan saja buka skandal petinggi Ngalengka, memangnya gua takut? Dasar wayang tampang mirip Cakil!” omel Prabu Dasamuka langsung menyinggung anatomi, sekalian gebrak meja, niru Capres No. 02 tempo hari.

Untuk membangun citra bahwa tak berpihak pada koruptor, Prabu Dasamuka bukan sekedar memecat, tapi juga kasih instruksi untuk menangkap Kala Marica setelah semua  bukti-buktine lengkap termasuk posita dan petitumnya. Sayangnya kalah cepat. Baru kemarin sore dikeluarkan Sprindik, Kalamarica sudah kabur duluan ke luar negeri lewat bandara Sukarno-Hatta. Prabu Dasamuka langsung vertigo, gara-gara pusing dibikin sendiri. Awalnya kan hanya urusan Dewi Sinta, kok sekarang melebar ke masalah korupsi menggurita di Ngalengka? Ini ini namanya kan membuka borok gara-gara urusan  dalamnya rok! Hmm, Kala Marica memang kurang ajar, bikin rusak citra Ngalengka.

Tak menunggu waktu lama, Prabu Dasamuka telah mendengar info yang beredar di medsos bahwa Kala Marica telah memasuki wilayah negara Pancawati, melapor kepada Gunawan Wibisono mengenai kondisi terakhir negara Ngalengka. Tentu saja laporannya penuh rekayasa, A dibilang B, B dibilang A. Memutarbalikkan fakta.

“Kaladusana, ente harus menyamar ke Pancawati. Cari sampai ketemu kutu kupret Kala Marica.”

“Lalu Anggaran Perjalanan Dinasnya bagaimana boss?” Kaladusana bertanya.

“Pakai uangmu dulu, ya.” jawab Prabu Dasamuka sambil ngeloyor pergi.

Tuh kan, kalau soal pengeluaran Dasamuka pasti menghindar. Meskipun berat akhirnya berangkat juga. Sebetulnya misi yang diembannya ganda, selain mencari kepastian keberadaan Kala Marica, apa benar bergabung ing Pancawati, sekaligus cari info sampai di mana kekuatan Pancawati. Yang bikin Kaladusana tambah semangat, katanya jika sukses mengekstradisi Kala Marica, posisi di Istana akan ditingkatkan lagi menjadi Kepala Staf Kerajaan.

Dengan menyamar sebagai monyet, Kaladusana berhasil lolos dari pemeriksaan imigrasi Pancawati. Diam-diam dia  terus mencari info Kala Marica, apa benar telah bergabung dalam barisan Pancawati. Tapi celaka tigabelas, baru berjalan beberapa meter sudah ketahuan Satpam. Kontan digeledah.

“Saya Kapidusana dari pasukan A,” ujar Kaladusana.

“Ah, monyet kok nggak punya buntut. Yang bener aja.” mas Satpam menyelidik.

“Kecelakaan, Pak. Ekorku putus kejepit pintu angkot..”

Satpam tak percaya juga, sehingga “Kapidusana” diserahkan kepada si killer Jaya Anggada, dia digebuki. Setelah ditelanjangi, tenyata berwujud raksasa asli bahkan simpan pula KTP pendukung Dasamuka-Prahastho, maka langsung diteruskan kepada Raden Gunawan Wibisono. Ternyata dibenarkan, jika dia memang mata-mata dari Ngalengka, nama aslinya Kaladusana. Andaikan tak dicegah Prabu Rama, sudah remek digebuki dia.

Maunya Patih Sugriwa dan Jaya Anggada, Kaladusana sebaiknya dihukum mati saja, dengan dipancung. Jika tidak, Ngalengk harus bayar tebusan Rp 4 miliar. Tapi Prabu Rama tak mengizinkan, bukan tipikal negara Pancawati mata duitan seperti itu. Akhirnya Kaladusana malah dibebaskan, disuruh pulang ke Ngalengka dengan diberi hadiah macam-macam.

“Terima kasih Gusti Prabu. Paduka memang raja yang dicintai rakyat.”

“Sudah, sudah, pulang cepat. Jangan memuji-muji aku,  nggaka da uang kecil.”      Kaladusana keluar istana dengan tersipu, dan langsung kembali ke Ngalengka, lupa bahwa harus mencari dan bawa pulang Kala Marica. Tentu saja Prabu Dasamuka jadi naik pitam. Diorbikan sebagai duta bangsa, kok tak menyelesaikan masalah. Namun demikian hanya ditahan di hati, sehingga Kaladusana tak merasa sedang kena marah.

“Wah, Prabu Ramawijaya itu hebat, lho. Saya tak dihukum mati, malah diberi hadiah macem-macem.” ujar Kaladusana tanpa nyadar juga.

“Bagus itu. Mana hadiahnya, coba saya mau lihat.” ujar Prabu Dasamuka sambil berpura-pura senyum pepsodent.

Kaladusana langsung memberikan sebilah keris tanpa curiga. Padahal begitu terpegang Prabu Dasamuka, keris itu langsung ditusukkan ke dada Kaladusana. Dalam hidungan detik suami Sarpakenaka mati seketika. Dewi Sarpakenaka menangis meraung-raung di atas mayat Kaladusana. Untung masih ada suami cadangan  Kala Nopati. Kalau tidak pasti langsung jadi anggota Partai Karya Peduli Janda. (Ki Gunawatoncarita)

Advertisement