DUNIA perwayangan sedang heboh dan panik. Makhluk dari ngarcapada hingga kahyangan Jonggring Salaka banyak terpapar virus mematikan bernama Corona atau Covid-19. Dampaknya luar biasa, baik secara vertikal maupun horizontal. Komoditas yang disebut bisa menangkal virus tersebut, langsung melangit harganya. Bagaimana mungkin, jahe dan temulawak harga perkilonya sampai Rp 125.000,- Lima kali lipat dari harga normal Rp 25.000,- Itu pun tak selalu ada barangnya.
Banyak dewa yang diopname karena suspect Covid-19. Maka Betara Guru jadi semakin rajin minum jamu temulawak-jahe, sehari 3 kali ukuran gelas es. Begitu juga wayang ngercapada ke mana-mana mulutnya diberi jilbab. Gara-gara semua wayang berebut masker, harga masker perdos sampai Rp 300.000.- Bahkan di internet ditawarkan Rp 31 juta.
“Kakang patih Narada, sebelum ditemukan obatnya, cari apa penyebabnya wabah ini menjalar ke Jonggring Salaka. Bagi masker ke segenap dewa.” Instruksi komandan dewa di kahyangan itu.
“Stok masker habis. Kini dewa dan rakyat ngercapada banyak yang pakai slampek dibentuk segitiga lalu diikatkan ke wajah.” Jawab Patih narada soal kreativitas wayang.
Tak berapa lama masuk laporan bahwa wabah Covid-19 itu merebak berawal dari diterbitkannya buku “Kalimasada” secara liar dan massif. Padahal kertas yang dipakai asal-asalan, mengandung virus mematikan itu. Setiap pembacanya akan terkena, dan kemudian menular pada keluarganya yang lain. Demikianlah, wabah Covid-19 meluas secara deret ukur, berkelipatan dari 5 jadi 25, 625, dan seterusnya.
Selama ini buku Jamus Kalimasada hanya terdiri satu buah, dan dikuasai oleh raja Ngamarta Prabu Puntadewa. Tiba-tiba sekarang tersebar begitu masif. Yang asli terbitan Bale Martjakoendha, Jonggring Salaka, dengan editor Bethara Penyarikan. Adapun edisi abal-abal bikinan Prabu Condroadi dari negara Kalong Gemantung. Wujud memang sama persis, tapi yang jiplakan sudah ejaan baru. Hurup u dan c bukan lagi oe dan tj lagi.
“Bahaya ini kakang Narada. Ketimbang nanti didemo rakyat Ngamarta dan Puntadewa sekalian, buku-buku tersebut sebaiknya dibeslah saja dari toko-toko buku….,” perintah Bethara Guru.
“Wah repot. Di toko buku sudah tak ditemukan, saya dapat satu saja hanya fotokopian.” Jawa patih Narada.
Bethara Panyarikan dipanggil, diperintahkan untuk memeriksa buku tersebut. Ternyata isinya memang merusak mental. Jika Jamus Kalimasada asli memuat segala hal tentang jalan menuju keutamaan, Jamus Kalimasada versi Prabu Condroadi dicampur soal politik dan data-datanya banyak yang ngawur, pemikiran sinting bikin kepala pening. Paling celaka, jika terdapat halaman kosong diganjal cerita humor kutipan lawak Cak Lontong. Kurang ajar, buku suci kok dibuat mainan!
Tentu saja Bethara Penyarikan tersinggung berat. Jamus Kalimasada yang begitu sakral kok dijadikan karya iseng, ini sudah masuk wilayah SARA. Di samping isinya bertentangan dengan moral, Penyarikan juga nggak enak pada keluarga Pandhawa. Salah-salah dituduh Bethara Penyarikan sekedar mengejar royalty (prosentase kauntungan), sehingga berani mengobral Jamus Kalimasada. Oleh karenanya tanpa menunggu perintah Bethara Guru, dia segera mengerahkan prajurit dewa untuk menyerbu negara Kalong Gemantung yang dihuni para kampreter. Mau tidak mau, Prabu Condroadi dipaksa kembali menarik Jamus Kalimasada kembar seribu tersebut.
“Heh Prabu Condroadi, jangan sok-sokan ente! Surat Jamus Kalimasada itu monopoli raja Ngamarta. Kenapa ente berani memproduksi secara masal, punya otak nggak….?” ujar Bethara Penyarikan setiba di Kalong Gumantung sembari mencak-mencak. Mulutnya juga ditutup “jilbab” buatan dari serbet piring.
“Sekarang jaman demokrasi, Oom. Terbitkan buku sudah bebas, tidak perlu SIUP-SIUPAN lagi.”
“Oom, Oom! Kapan gua kawin sama tantemu?”
Intinya Prabu Condroadi harus menarik dokumen tersebut dari ngarcapada, karena isinya merusak iman umat perwayangan. Jika menolak, negara Kalong Gemantung akan dibumi-hanguskan, atau bayar denda Rp 500 triliun sesuai potensi kehilangan pendapatan kahyangan. Ternyata ratu sabrangan dari Kalong Gamantung itu menolak. Bahkan dia minta bukti, bab berapa dan halaman mana yang isinya berbau SARA dan merusak iman para wayang. Tapi baru saja Bethara Penyarikan hendak ambil kacamata, tiba-tiba Prabu Condroadi menghantamkan buku Jamus Kalimasada itu ke mukanya, splakkk! Tentu saja sekretaris perdewaan itu naik pitam. Bagaimana mungkin, pejabat penting kahyangan kok dikepret buku di depan publik, ini kan memperbesar kemaluan petinggi kahyangan?
Pertempuran besar segera terjadi di Kalong Gemantung. Prabu Condroadi melawan Bethara Penyarikan, prajurit kadewan melawan prajurit Kalong Gemantung. Tapi karena para dewa-dewa masih mengantuk habis piket “tanggap Corona”, kehilangan semangat perang dan kalah. Demikian juga Bethara Penyarikan, harus tinggal gelanggang menghindari serangan Prabu Condroadi. Mau bersembunyi ke hutan tak bisa lagi, gara-gara hutan banyak dialihfungsikan oleh para bupati. Tahu sendiri kan, kini banyak bupati diudak-udak KPK.
Bethara Penyarikan kembali ke Bale Marcakundha, menghadap Bethara Guru. Ternyata betul, di sana Prabu Puntadewa raja Ngamarta telah tiba lebih dulu. Seperti dugaan sebelumnya, dia menggugat penguasa kahyangan, kenapa Jamus Kalimasada kini tak lagi eksklusif. Oleh karenanya dia meminta, siapa saja dewa yang terlibat pembajakan Jamus Kalimasada harus diseret ke peradilan Tipikor versi kahyangan.
“Nah kebetulan sekali Bethara Penyarikan sudah tiba. Ente bisa bertanya padanya, karena gue nggak tahu apa-apa.” Bethara Guru cuci tangan.
“Kaki Puntadewa, jangan kamu risau. Kamu lihat sendiri, tubuhku masih mandi keringat, sepatu sampai jebol, ini semua gara-gara berperang melawan Prabu Condroadi. Dialah pembajak Jamus Kalimasada!” penjelasan Bethara Penyarikan panjang lebar.
Puntadewa malah ketempuhan, diminta menaklukkan raja Kalong Gemantung. Dengan menggunakan aji Diyu Bramantya, raja Ngamarta telah berubah menjadi raksasa super jumbo Dewa Amral, lalu melabrak Prabu Condroadi. Ternyata Prabu Condroadi tak mau kalah. Dia segera menjelma sebagai raksasa jumbi pula, mirip Brahala-nya Bethara Kresna. Akhirnya Puntadewa terkalahkan dan minta bantuan raja Dwarawati.
“Wah, ini memang bukan musuhmu. Yayi Janaka, carilah Kyai Semar. Cuma dia yang bisa menyelesaikan masalah.” perintah Bethara Kresna.
“Kyai Semar baru datang dari desa, berburu temulawak-jahe penangkal Corona,” jawab Harjuna.
Kyai Semar lalu di-SMS. Kaget juga sih, tapi yang namanya tugas dia tak bisa menolak. Dia langsung menuju Kalong Gemantung lewat tol Jakarta-Surabaya. Tiba di tempat tujuan terlihat Prabu Condroadi tengah asyik merevisi buku Jamus Kalimasada, gara-gara diprotes sana-sini. Tapi sudah terlambat, sebab Semar tanpa ba bi bu lagi langsung menghajarnya, dibanting ke ubin keramik KW-1.
“Begini ya kelakuanmu? Dari dulu nggak ada kapoknya bikin onar. Ayo, mau pulang ke kos-kosanmu nggak? Apa mau gue “bom atom” lagi?” ancam Kyai Semar.
“Ampun Kyai Semar, ampun. Gue udah nyerah….!”
Belum juga Kyai Semar mengeluarkan “bom atum”, Prabu Condroadi telah berubah ke wujud aslinya: Bethari Durga dari Pasetran Gandamayit. Dia dipaksa bikin surat perjanjian di depan notaris Murdani Alisarap SH, dengan isi supaya segera menarik kembali 1.000 buku Jamus Kalimasada palsu. Setelah meneken perjanjian di atas meterai Rp 6.000,- Bethari Durga segera kabur dengan dikawal ajudan Jaramaya. (Ki Guna Watoncarito)



