
SETELAH berdamai sekitar dua bulan, kedua negara bertetangga anggota ASEAN: Thailand dan Kamboja kembali terlibat konflik militer di area perbatasan.
Empat warga sipil Kamboja tewas akibat serangan udara pesawat-pesawat tempur F-16 AU Thailand (buatan AS), membalas serangan roket multi laras BM-21 (eks-Uni Soviet), Senin (8/12) waktu setempat.
Militer Kamboja sebelumnya dilaporkan menembakkan roket-roket dari peluncur multi laras BM-21 ke daerah permukiman Thailand di Ban Sai Tho 10, distrik Ban Kruat, Buri Ram.
Thailand melaporkan seorang tentaranya tewas akibat serangan roket Kamboja tersebut, dan sedikitnya empat warga sipil Kamboja tewas akibat serangan udara Thailand.
The Nation Thailand melaporkan bentrokan pertempuran saat ini meletus di sepanjang perbatasan, di Chong An Ma, Hill 677, Huai Tamalia, daerah Khna, dan Prasat Ta Muen Thom.
Setelah peristiwa itu militer Thailand menginstruksikan seluruh satuan untuk menggunakan seluruh kekuatan guna melindungi rakyat dan kedaulatan Thailand.
Dalam laporan lainnya, jubir AD Thailand Mayjen Winthai Suvaree mengatakan Thailand telah mulai menggunakan jet tempur untuk menyerang target-target di Kamboja.
Target serangan udara awal yang sudah diidentifikasi, yakni Chong An Ma, Prasat Khana, dan wilayah Preah Vihear yang diyakini sebagai pos komando dan posisi dukungan tembakan yang digunakan untuk menyerang wilayah Thailand.
PM Malaysia minta than diri
PM Malaysia Anwar Ibrahim menyerukan Thailand dan Kamboja untuk menahan diri secara maksimal mungkin menghentikan serangan di sepanjang perbatasan kedua negara itu.
Anwar melalui unggahan Facebook (9/12) menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi konflik serta menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang tewas maupun terluka.
Dalam pernyataannya, Anwar menegaskan pentingnya menjaga jalur komunikasi terbuka, serta memanfaatkan sepenuhnya mekanisme yang selama ini disepakati kedua negara untuk mencegah eskalasi konflik.
“Pertempuran yang kembali pecah berisiko menggagalkan kerja keras yang telah dilakukan untuk menstabilkan hubungan kedua negara bertetangga,” ujarnya.
Anwar menambahkan bahwa Malaysia siap mendukung langkah apa pun yang dapat membantu memulihkan ketenangan dan mencegah insiden lebih jauh.
PM Malaysia itu menekankan, Thailand dan Kamboja merupakan mitra dekat Malaysia serta anggota kunci ASEAN.
“Prioritas langsung adalah menghentikan pertempuran, melindungi warga sipil, dan kembali ke jalur diplomasi yang didukung hukum internasional serta semangat bertetangga yang menjadi landasan ASEAN,” kata Anwar.
Indeks dan Peringkat Kekuatan Militer
Skor Indeks Kekuatan (PwrIndx) 2,0752, berada di peringkat ke-95 dari 145 negara, sedangkan Thailand dalam posisi lebih kuat dengan (PwrIndx 0,4536), peringkat ke-25 global.
Personel
Kamboja berkekuatan 221.000 personel aktif dan 10.000 anggota paramiliter, nol personil cadangan, sementara Thailand 360.850 personel aktif, 200.000 personel cadangan dan 25.000 paramiliter.
Anggaran pertahanan Kamboja tercatat $860 juta (sekitar Rp14 triliun), sedangkan Thailand jauh lebih besar yakni $5,89 miliar (sekitar Rp95 triliun).
Konflik antara kedua negara bertetangga itu sudah berlangsung lama terkait ketidakjelasan peta di perbatasan dan saling klaim budaya.
Kekuatan Udara
AU Thailand adalah salah satu yang paling tangguh dan terlatih di Asia Tenggara, dengan perkiraan 46.000 awak pesawat dan personel pendukung.
Skadron udaranya terdiri dari 112 pesawat siap tempur, a.l. 47 unit jet ragam seri tempur Fighting Falcon F-16 (buatan AS) dan 12 pesawat tempur SAAB Gripen buatan Swedia, dan sejumlah helikopter.
Sementara AU Kamboja, jauh lebih kecil, terdiri dari sekitar 1.500 personel dan inventaris pesawat terbatas yang mencakup 10 pesawat angkut dan 10 helikopter angkut.
Negara ini tidak mengoperasikan jet tempur tetapi memiliki 16 helikopter multi-peran, seperti enam Mi-17 era Soviet dan 10 Z-9 Cina.
Matra Darat
AD Kamboja juga jauh tertinggal dari segi persenjataan dengan 644 tank (T-54/T-55) eks-Soviat dan T-58 eks-China, 17 artleri PCL-9 155mm ks China, 400- peluncur roket multiple (BM-13, BM-14 dan BM-21) eks Soviet.
Sebaliknya, AD Thailand a.l. mengoperasikan 635 tank tempur utama (a.l. 178 unit M-60 eks AS, 49 unit T-84 Oplot eks- Polandia dan 63 unit-VT4 eks China serta 16.935 unit kendaraan lapis baja, 589 pucuk artileri tarik dan 50 unit artileri swagerak serta 26 unit peluncur roket bergerak.
Matra Laut
AL Thailand didukung hampir 70.000 personel, termasuk unit penerbangan angkatan laut, marinir, pasukan pertahanan pesisir, dan pelaut wajib militer.
Armadanya mencakup satu kapal induk, tujuh fregat, dan 68 kapal patroli dan tempur pesisir. AL Thailand juga memilik kapal amfibi dan pendarat yang mampu mengangkut beberapa ratus pasukan secara bersamaan, beserta 14 kapal pendarat yang lebih kecil dan lima kapal penyapu ranjau.
Penerbangan angkatan lautnya didukung oleh helikopter dan UAV, sementara korps marinir memiliki 23.000 pasukan yang didukung oleh berbagai kendaraan tempur;
Sebaliknya, AL Kamboja jauh lebih kecil, hanya didukung n 2.800 personel, termasuk pasukan infanteri angkatan laut yang berjumlah sekitar 1.500 personel.
AL Kamboja terdiri dari 20 kapal patroli dan tempur pesisir serta satu kapal pendarat amfibi.
Konflik militer antara Kamboja Thailand terjadi hilang-timbul dalam waktu mendadak dan pendek sejak seabad lalu akibat ketidakjelasan pembagian peta wilayah dan saling klaim budaya yang diwariskan oleh penjajah Perancis.
Perang selain merugikan kedua negara, juga merusak citra terkait kekompakan ASEAN sesuai dengan semangat Kesepakatan Bermitra dan Tak Saling Serang (Treaty of Amity and Cooperation). (AFP/ns)




