MEMPERINGATI Hari Buku Nasional 2017 Rabu lalu Presiden Jokowi di Istana mendongeng Lutung Kesarung di depan 503 murid SD-SMP. Rupanya Presiden ingin mengajak rakyat kembali pada budaya mendongeng yang sudah lama ditinggalkan. Generasi muda sekarang yang kurang membaca lantaran kebanyakan main gadget, dongeng Lutung Kesarung terasa asing bagi mereka. Anak-anak sekarang, tak tertarik lagi pada kisah “Kancil nyolong timun”, karena mereka lebih akrab dengan “Kancil nyolong proyek”.
Karena kesibukan kerja manusia modern, ditambah perkembangan teknologi yang maju pesat, budaya mendongeng terlupakan sudah oleh kalangan orangtua kita. Anak-anak cukup diberi buku bacaan, silakan membaca dongeng-dongeng itu sendiri. Sayangnya, manusia Indonesia di era gombalisasi ini makin kurang nafsu membacanya. Sebuah survei mengatakan, dari 1.000 manusia Indonesia, hanya 1 orang yang gemar membaca.
Jarang buku terbitan Indonesia mengalami best seller. Ironisnya, meski buku tak laku pun pengarang harus mengeluarkan pajak 15 % dari honor yang diterimanya. Katanya penulis buku itu ikut mencerdaskan bangsa, tapi kenapa dari honor yang tak seberapa itu masih digorok pajak? Katanya itu pajak penghasilan. Di Indonesia apakah ada orang bisa hidup dari hanya mengandalkan mengarang?
Karenanya makin sedikit pengarang kita yang menciptakan buku-buku dongeng domestik. Lantaran pengaruh TV, anak-anak sekarang lebih kenal dengan tokoh dongeng seperti Cinderella, ketimbang Cindelaras putra Raden Putra dari Jenggala. Anak sekarang tak kenal Ken Arok, tapi lebih tahu tentang Ken Norton (petinju AS). Begitu juga tokoh silat Jawa Mahesa Jenar (Keris Nagasasra-Sabuk Inten), mereka tidak tahu, karena lebih akrab dengan Desmon Mahesa (politisi Senayan) yang berkepala plontos itu.
Sampai tahun 1960-an, para orangtua sehabis magrib rajin mendongeng buat anak-anaknya. Di Jawa tentang Kancil nyolong timun, Timun Emas. Anak-anak Sunda tentang Sangkuriang dan Lutung Kesarung. Begitu juga orang Sumatra Barat, anak-anak sana dulu akrab dengan Malin Kundang anak durhaka, atau kisah Lancang Kuning bagi anak-anak Riau.
Beberapa hari lalu Presiden Jokowi mengajak anak-anak mendengarkan dongengannya. Dari Istana Presiden mengajak orangtua kembali ingat pada budaya mendongeng warisan ayah ibunya dulu. Sebab dongeng-dongeng itu juga selalu mengajarkan manusia untuk berbudi pekerti mulia, tentang kebenaran dan kebatilan. Lewat dongeng Kancil misalnya, anak-anak akan menjadi tahu bahwa macan yang hanya mengandalkan kekuatan pisiknya, bisa dikalahkan oleh kancil yang mengandalkan kekuatan otak (akal).
Tapi bagi anak-anak sekarang, apakah masih mau mengunyah dongeng Kancil nyolong timun? Dalam keseharian, banyak berita dari koran dan TV bahwa Kancil generasi milenium lebih suka nyolong proyek. Para politisi di Senayan, termasuk yang di DPRD berbagai provinsi dan kabupaten, banyak yang berotak kancil, sehingga berani nyolong atas proyek-proyek negara.
Beberapa waktu lalu politisi Senayan, termasuk salah seorang anaknya, dikandangi KPK karena nyolong proyek pengadaan Alqur’an. DPRD baru mau menyetujui proyek Pemda, asalkan bupati atau gubernurnya mau berbagi uang padanya. Bahkan RAPBD pun dikotak-katik agar para kancil-kancil kepala hitam itu bisa titip anggaran untuk rekanan dan relasinya. (Cantrik Metaran)





