Kangsa Adu Jago

Kangsa hendak menerjang Kakrasana, tapi keduluam dilempar Nenggala, tepat didada. Tewas.

PRABU Basudewa raja negeri Mandura benar-benar terpukul. Istri tercinta, Dewi Maerah, melahirkan bayi dalam bentuk setengah raksasa. Tampang sih lumayan tampan, tapi punya taring di sudut kanan dan kiri bibirnya. Bayi sampai cacat sedemikian rupa, kan pada akhirnya publik akan menyorot kelakuan ayah si bayi. Jangan-jangan Prabu Baasudewa memang demen ke Kalijodo sebelum dibongkar gubernur Ahok dari Jakarta.

“Diajeng, jangan-jangan itu bukan anak saya. Berarti kamu selama ini punya PIL, ya? Ngaku saja kamu!” tuduh Prabu Basudewa mulai emosi.

“Enak saja main tuduh. Berani tidak test DNA macam kasus Mario Teguh – Aryo Kiswinar.” Sergah Dewi Maerah, dia tak mau dipojokkan terus.

Dewi Maerah memang tidak tahu bahwa telah menjadi korban skandal asmara tingkat tinggi. Dia tidak tahu bahwa ada lelaki lain yang selama ini mengincar dirinya. Dia adalah Prabu Gorawangsa raja Sengkapura. Maka ketika Prabu Basudewa sedang berburu di hutan, dia menyelinap ke kamar Maerah dan menyamar sebagai Prabu Basudewa. Dikira suami sedang “minta jatah” maka dilayani saja sampai puas.

Aksi mesum itu baru ketahuan saat Dewi Maerah melahirkan di RSB Kasih Ibu. Setelah diinterogasi Prabu Basudewa dengan menjawab 50 pertanyaan, mengakulah sang istri bahwa pernah selingkuh dengan Prabu Gorawangsa. Tapi suwerrrr, semua itu dilakukan tanpa sengaja. Sebab saat beraksi raja Sengkapura menyamar sama persis dengan Prabu Basudewa.

“Saya sadar saat skore kadung sudah 5-0. Maaf sinuwun….” Aku Dewi Maerah polos.

“Dasar pelacur. Jangan-jangan kamu juga melayani seks online, ya?.” Hardik Prabu Basudewa, marah sekali.

Sebagai sanksinya, Dewi Maerah beserta bayinya dibuang ke tengah hutan dan kemudian ditemukan oleh Prabu Gorawangsa dan dikawin siri. Anak itu diberi nama Kangsadewa. Tapi Gorawangsa tak lama memelihara anak hasil outsorching tersebut, karena keburu meninggal serangan jantung. Walhasil bocah Kangsa sampai usia remaja dan lulus SMA dalam asuhan Patih Suratrimantra yang sekaligus juga Oomnya.

Sekali waktu Kangsa mempertanyakan, kenapa dalam akte kelahirannya nama ayah kok disebut Prabu Basudewa dari Mandura, bukan Gorawangsa dari Sengkapura. Oom Suratimantra bingung bagaimana harus menjawab. Tapi daripada memalsu sejarah, akhirnya dia bercerita bla bla bla….tentang siapa jati diri Kangsadewa itu sesungguhnya.

“Jadi ayahku sesungguhnya pejabat penting di Mandura, negeri yang kaya raya itu?” Kangsadewa menelisik lebih jauh.

“Oh iya. Di sana orang miskin dapat beras “Raskin” 10 Kg sebulan. Prabu Basudewa juga suka bagi-bagi sepeda pada rakyatnya.” Jawab Oom Suratrimantra menjelaskan apa adanya.

Gara-gara masukan Oom Suratrimantra,  Kangsadewa memberanikan diri sowan ke Mandura, pengin ketemu ayah kandungnya. Di ruangan khusus Prabu Basudewa menemui anak muda yang mengaku sebagai anaknya. Jika menilik Akte Kelahirannya, memang berayah kandung Prabu Basudewa. Lihat postur tubuhnya, ada juga kemiripannya. Tapi jika ingat perselingkuhan Dewi Maerah 22 tahun lalu, ingin rasanya dia mengingkari fakta itu.

Celakanya, Kangsa justru mengancam, jika dirinya tak diakui sebagai anak, rahasia ini akan dibeberkan ke Youtube dan diunggah dijejaring sosial lainnya. Terpaksalah Prabu Basudewa mengakuinya, meski hanya diam-diam. Sebagai bukti keseriusannya, raja Mandura ini langsung memasukkan Kangsa dalam bursa Pilkada Serentak.

“Digeber pakai sentiman agama atau SARA, pasti kamu jadi”, bujuk Prabu Basudewa.

“Kalau masih kalah juga, bagaimana Pak?”

“Kamu anak bapak, tak mungkinlah jadi agen pulsa. Nanti tahun 2019 bisa juga ikut nyapres, lewat Partai Karya Peduli Janda.” Prabu Basudewa mencoba meyakinkan.

Agar tidak mencolok, untuk sementara Kangsadewa diangkat jadi jurubicara Istana, melayani pers dalam dan luar negeri. Kenalannya semakin banyak, termasuk para mentri. Dari yang jujur-jujur, sampai yang terlibat kasus e-KTP. Tapi dari situ pula Kangsa menjadi tahu bahwa sesungguhnya Prabu Basudewa telah menyiapkan putra mahkota untuk penggantinya kelak, yakni Kakrasana. Sayangnya, di mana putra mahkota itu, dia tak pernah tahu. Padahal kalau tahu, pasti langsung akan disantetnya, agar garis penerus tahta Mandura itu jatuh padanya.

Pemilu telah lewat dan Kangsadewa tidak lolos jadi anggota DPR, karena dia memang tokoh baru yang belum dikenal di Mandura. Sampai Perdana Menteri membentuk kabinet pun, nama Kangsadewa tak masuk hitungan. Jadi kapan punya peluang jadi orang gedean? Jubir istana bisa jadi menteri kan hanya ada di Indonesia. Padahal dengan sosok bernama Kakrasana, peluang Kangsadewa menjadi raja Mandura sangatlah kecil.

“Karena tak mungkin jadi raja, mending sampeyan minta bagian warisan negara saja. Negeri Mandura dibagi dua, separo buat sampeyan, separo buat penerus raja Mandura,” saran Togog ajudan Kangsa.

“O, gitu ya. Kalau rama prabu Basudewa menolak, kasusnya kita bongkar saja.” Kangsa memberi kesimpulan sendiri.

Berkat masukan ajudan Togog, Kangsadewa memberanikan bikin proposal pada Prabu Basudewa minta negara Mandura dibagi sesigar semangka (dibelah dua). Sudah barang tentu Prabu Basudewa menolak dengan keras. Tapi gara-gara itu, Kangsa segera menekan raja Mandura ini dengan dua opsi. Pertama, akan dibongkar skandal seks istrinya 23 tahun lalu. Kedua, menyerahkan separo negeri Mandura lewat mengadu jago. Jika jago Kangsa kalah, dia rela kembali ke Sengkapura, nyangkul. Tapi jika menang, negeri Mandura harus dibagi dua.

Prabu Basudewa memilih opsi kedua, sehingga dia segera jago lewat iklan separo halaman koran. Ternyata yang masuk adalah anak muda bernama Jagal Abilawa yang ngaku dari Wirata. Sosoknya memang tinggi besar, sangat meyakinkan. Kumisnya tebal macam siraja kumis.

“Jika kalah bertanding, resikonya mati. Kamu siap?” Prabu Basudewa menguji keseriusan Jagal Abilawa.

“Siap 100 persen. Mati pun aku tak ninggal utang.” Jawab Jagal Abilawa  pendek.

Jago yang akan dipertandingkan memang bukan ayam, tapi manusia. Jago Sengkapura si Suratimantra dan jago Mandura Jagal Abilawa. Pertandingan akan dilaksanakan di alun-alun Mandura. Semua koran dan TV memberitakannya.

Adalah Kakrasana dan Narayana, mereka anak Prabu Basudewa yang selama ini disembunyikan di Widarakandang, kos di rumah Emban Sagopi. Mereka diam-diam pergi ke Mandura untuk nonton adu jago yang spektakuler itu. Karena sangu tidak cukup, masuknya pun mbludhus tanpa karcis.

Pertandingan adu manusia dimulai. Sama-sama kuat, sama-sama tinggi besar. Tapi anehnya, setiap Jagal Abilawa berhasil membunuh Suratrimantra lewat kuku Pancanaka-nya, tahu-tahu hidup lagi. Saking penasarannya, diam-diam punakawan Petruk nyamar dan masuk ke dapur jago Sengkapura. Ternyata yang bikin Suratrimantra selalu bisa hidup kembali itu berkat disiram air cabe bergalon-galon. Pantesan, krisis cabe menghantuai Mandura, sehingga sekali ceplus lombok harus bayar Rp 1.000,-

“Jadi ini biangkeroknya harga cabe menggila.” Gumam Petruk.

Di kala Suratrimantra diadu dengan Jagal Abilawa, diam-diam Petruk membuang isi drum yang penuh air cabe itu. Walhasil, saat Suratrimantra berhasil dibunuh Jagal Abilawa, tak bisa hidup lagi. Kangsadewa panik sekali. Bersamaan dengan itu terlihat Kakrasana musuh politiknya tampak nonton. Segera saja diterjangnya. Tapi Kakrasana lebih sigap, pusaka Nenggala dilemparkan ke dada Kangsa, dan tewaslah seketika.

Gegerlah alun-alun Mandura, tapi Prabu Basudewa sangat puas lantaran negerinya tak jadi dibagi dua, dan musuh politiknya telah sirna. Sebagai imbalan, Jagal Abilawa diterima kerja di Mandura tanpa testing apa lagi nyogok. (Ki Guna Watoncarita)

Advertisement