
KEMENTERIAN Pertahanan RI memastikan kapal induk Giuseppe Garibaldi yang bakal memperkuat TNI-AL adalah hibah gratis dari pemerintah Italia dan diharapkan tiba menjelang HUT TNI ke-81 pada 5 Oktober tahun ini.
Karo Info Pertahanan Setjen Kemenhan Brigjen TNI Rico Ricardo seperti dilansir Kompas.com (17/2) menyebutkan, meski gratis, Indonesia harus menyiapkan anggaran untuk sejumlah modifikasi sebelum kapal berusia 40 tahun itu dioperasikan.
“Benar, kapal tersebut diakuisisi dari skema hibah dari Pemerintah Italia, tidak ada biaya pembelian dalam konteks transaksi komersial,” ujar Rico saat dihubungi Kompas.com, Senin (16/2).
Namun meurut Rico, alokasi anggaran tetap dibutuhkan untuk proses retrofit atau penyesuaian sesuai dengan kebutuhan operasi di perairan Indonesia.
Retrofit dan kesiapan operasional, kata Rico, proses penyesuaian retrofit da kesiapan operasional, lanjutnya, akan dilakukan setelah administrasi hibah rampung sesuai ketentuan.
Penyesuaian mencakup sistem kapal, standar keselamatan, hingga kebutuhan operasional TNI AL. Retrofit adalah pemasangan suku cadang baru pada alutsista lama.
Selain itu, Kemhan bersama TNI juga telah menyiapkan personel awal yang akan mengawaki kapal induk tersebut.
“Kemhan bersama TNI juga sudah menyiapkan calon awak kapal untuk membawa dan mengawaki kapal tersebut, termasuk pembinaan dan pelatihan yang diperlukan,” kata Rico, Jumat lalu (13/2).
Kasal Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali diundang oleh AL Italia guna melaksanakan kunjungan di atas Kapal Induk Italia ITS Giuseppe Garibaldi yang sedang melaksanakan latihan pada Mei 2024.
Langkah ini dilakukan agar ketika kapal tiba di Indonesia, unsur sumber daya manusia sudah siap mengoperasikannya.
KSAL berharap kapal induk pertama milik Indonesia itu dapat tiba sebelum peringatan HUT TNI pada 5 Oktober 2026.
“Garibaldi, masih dalam proses. Harapannya bisa sampai di Indonesia sebelum HUT TNI,” kata Ali di Jakarta, Kamis (12/2).
Dia menyebutkan, saat ini Kemhan masih melakukan negosiasi dengan galangan kapal asal Italia, Fincantieri, pembuat tersebut. Negosiasi juga melibatkan AL Italia sebagai pengguna sebelumnya.
Jika proses hibah dan retrofit berjalan sesuai rencana, Giuseppe Garibaldi akan menjadi kapal induk pertama dalam sejarah TNI AL.
Kehadirannya dinilai akan meningkatka kemampuan proyeksi kekuatan, operasi udara laut, serta komando dan kendali dalam operasi gabungan.
Kapal induk dengan panjang 180,2 meter, lebar 30,4 meter dan berbobot 13.850 ton digerakan oleh sistem propulsi turbin gas gabungan berkecepatan 30 knot (56 km per jam) dan berawak 840 orang termasuk sekitar 180 personil untuk pengoperasian pesawat udara.
Selain itu, kapal ini dilengkapi berbagai sistem persenjataan, antara lain peluncur rudal antipesawat Sea Sparrow/Aspide, meriam kembar 40 mm Oto Melara, peluncur torpedo tiga tabung 324 mm, serta rudal antikapal Otomat Mk 2.
Mengutip Naval Technology, Giuseppe Garibaldi dibangun di Genoa dan mulai dioperasikan pada 1985 sebagai kapal utama AL Italia.
Kapal ini mampu membawa hingga 18 helikopter atau satu skuadron pesawat lepas landas dan mendarat vertikal/pendek (VSTOL) seperti AV-8B Harrier II.
Dek penerbangannya memiliki landasan ski jump dengan kemiringan sekitar 4 derajat untuk mendukung operasi pesawat.
Selain fungsi serangan udara, kapal ini juga dapat digunakan untuk peperangan antikapal selam, komando dan kendali operasi laut dan udara, pengawasan wilayah, pengawalan konvoi, pengangkutan pasukan, hingga dukungan logistik armada.
Jika jadi diwujudkan, Indonesia akan masuk klub 12 negara yang mengoperasikan kapal induk selain AS, China, Inggeris, India, Jepang, Prancis, Rusia, Italia, Spanyol,Brazil dan Thailand.
Kapal perang dengan bobot terberat yang pernah dioperasikan TNI-AL adalah penjelajah KRI Irian kelas Sverdov eks- Uni Soviet dengan panjang 118 meter, lebar 18 m, berbobot 13.600 ton dan awak kapal 1.250 orang.
Akibat kekurangan SDM yang mampu menanganinya, kapal tersebut pernah dikembalikan ke Soviet untuk direparasi, namun kemudian palkanya bocor sehingga tergenang air.
Terakhir, KRI Irian konon malah dijadikan rumah tahanan sementara eks-PKI, lalu raib tidak tentu rimbanya, dan ada yang menyebutkan dijual sebagai besi tua.
Sejumlah pengamat memperingatkan kesiapan SDM yang mengawakinya, pangkalan dan juga besarnya biaya operasi kapal induk, kapal pendukung termasuk bahan bakar dan dukungan logistik lainnya. (ns/kompas.com/berbagai sumber)




