TUNISIA – Sebanyak 48 migran tewas ketika kapal mereka tenggelam di lepas pantai Tunisia dan 67 lainnya diselamatkan oleh penjaga pantai.
KapalĀ jatuh di dekat pulau selatan Kerkenna, sebuah tempat wisata, di Sabtu (2/6/2018) malam hari dan hingga Minggu (3/6/2018) penyelamatan baru dilakukan.
Operasi penyelamatan dihentikan pada Minggu malam tetapi akan dilanjutkan pada Senin pagi.
Para pelaku perdagangan manusia semakin menggunakan Tunisia sebagai landasan peluncuran bagi migran yang menuju ke Eropa sebagai penjaga pantai Libya, dibantu oleh kelompok bersenjata, yang telah memperketat kontrol.
Para pejabat keamanan mengatakan kapal itu dipenuhi sekitar 180 migran, termasuk 80 dari negara-negara Afrika lainnya.
Dilansir Anadolu, seorang yang selamat mengatakan kapten itu telah meninggalkan kapal setelah mulai tenggelam untuk melarikan diri dari penangkapan oleh penjaga pantai.
“Saya selamat dengan berpegang pada kayu selama sembilan jam,” katanya di sebuah rumah sakit di kota selatan Sfax di mana puluhan orang berkumpul untuk mencari orang yang selamat dan mengidentifikasi sanak saudara yang meninggal.
Orang-orang Tunisia yang menganggur dan orang-orang Afrika lainnya sering mencoba untuk berangkat dengan perahu-perahu darurat dari Tunisia ke Sisilia di Italia.
Negara Afrika Utara berada di tengah krisis ekonomi yang mendalam sejak jatuhnya otokrat Zine al-Abidine Ben Ali pada tahun 2011 melemparkan Tunisia ke dalam kekacauan dengan pengangguran dan inflasi meningkat.
Secara terpisah, sembilan orang termasuk enam anak-anak tewas pada hari Minggu setelah sebuah speedboat membawa 15 pengungsi tenggelam di lepas pantai provinsi Antalya di Turki selatan.
Hingga 30 Mei, 32.080 orang telah mencapai Eropa melalui laut sejauh tahun ini, Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan di situsnya. Sekitar 660 orang telah tewas ketika mencoba menyeberang.
Pada bulan Oktober, sebuah kapal penuh migran tenggelam setelah bertabrakan dengan kapal angkatan laut Tunisia, menewaskan sedikitnya 44 orang.





