Karyawati Protes, Kerja 20 Tahun Tak Diberi Tugas

Laurence van Wisenhov, karyawati perusahaan Prancis Orange, menuntut karena sudah bekerja 20 tahun dan dibayar penuh tapi tidak diberi pekerjaan. foto:Oddiy Central)

“LAIN padang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”,  yang dilakukan seorang karyawati di Prancis yang menuntut perusahaan karena sudah 20 tahun bekerja, tapi tidak melakukantugas apa-apa.

Karyawati bernama Laurence Van Wassenhove (59) tersebut, seperti dilaporkan News 24,  (6/12) mengatakan, makan gaji buta tanpa pekerjaan merupakan mimpi buruk baginya.

Wassenhove pertama kali bergabung dengan France Telecom pada 1993. Sejak bergabung dengan perusahaan,  ia berambisi,  kariernya bakal melesat dan menjadi spesialis sumber daya manusia.

Namun ia ternyata menderita epilepsi dan hemiplegia, kelumpuhan yang memengaruhi satu sisi tubuh sehingga  dia ditawari posisi sekretaris dan bosnya menyesuaikan tempat kerja dengan kebutuhannya.

Pada 2002, France Telecom diambil alih oleh perusahaan lain, Orange dan setelah pengambilalihan tersebut, Wassenhove – ibu dua anak-  meminta agar dia dipindah ke kantor regional lain.

Orange menyetujui pemindahannya, tetapi berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada 2004, ia ditetapkan tidak layak untuk posisi tersebut dan dia ditempatkan dalam posisi siaga.

Wassenhove menuduh pihak perusahaan menghentikan  pemberian tugas padanya, sehingga meninggalkannya dalam ketidakpastian karier.

Seperti orang buangan

Berbicara kepada penyiar FTV, Wassenhove mengatakan dia merasa seperti orang buangan sehingga perlakuan perusahaan berdampak buruk pada kesehatan mentalnya.

“Saya digaji, tapi diperlakukan seperti tidak ada,” kata Wassenhove  kepada media Prancis.

Wassenhove menuding bahwa dia diperintahkan untuk tinggal di rumah dan selama 10 tahun tanpa tugas kerja, kantor, atau rekan kerja sehingga membuatnya merasa terisolasi.

Pada 2015, karena lelah merasa diabaikan, Wassenhove mengajukan laporan kepada otoritas antidiskriminasi Perancis dan dari laporan itu, dia berharap dilakukan mediasi untuk mencarikan solusinya.

Namun ternyata, tidak ada hasilnya. “Dibayar, di rumah, tidak bekerja bukanlah sebuah privilese. Sangat sulit untuk menanggungnya,” tutur Wassenhove.

Wassenhove mengatakan, dia mengalami depresi berat karena ketidakaktifannya yang dipaksakan, namun, Orange membantah klaim Wassenhove.

Perusahaan mengatakan bahwa mereka telah melakukan segalanya untuk memastikan dia bekerja dalam kondisi terbaik, dengan mempertimbangkan kebutuhan pribadinya.

Mereka juga mengatakan bahwa kembali bekerja dengan posisi yang disesuaikan telah direncanakan, tetapi tidak pernah terwujud, karena Wassenhove dilaporkan sering sakit.

Menggugat perusahaan

Wassenhove menggugat perusahaan  Orange. Sedangkan pengacaranya, David Nabet-Martin, mengatakan, kliennya telah menjadi korban diskriminasi sejak 2004 dan menuduh Orange telah memaksanya berhenti bekerja.

“Bekerja, bagi seorang penyandang disabilitas, berarti memiliki tempat di masyarakat. Pengakuan, koneksi sosial juga tercipta,” ujarnya.

Apa yang dituntut Wassenhove berbading terbalik dengan banyak kejadian di Indonesia.

Di negeri ini, (banyak oknum) anggota parlemen, di pusat mau pun daerah yang mendapat gaji, bous dan tunjangan ratusan kali lipat dari upah mimimum, atau PNS di berbagai instansi menikmati berbagai priviledge dengan penugasan alakadarnya atau minim.

Lebih parah lagi, jika mereka malah terlibat atau menjadi makelar proyek ketimbang membawa aspirasi rakyat yang diwakilinya, menghambur-hamburkan uang rakyat atau menumpuk kekayaan dari hasil korupsi.

Perlu perombakan sikap mental dan moral serta pengenaan sanksi hukum yang tegas agar mereka sadar dan berlaku sebagai orang-orang terhormat, bermartabat dan memiliki integritas.   (News 24/Kompas.com/ns)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here