SLEMAN—Jumlah kasus deman berdarah dengue (DBD) di Sleman, Yogyakarta bertambah. Hingga pertengah Februari ini, jumlahnya menjadi 60 kasus, naik dari 31 kasus dari Januari lalu.
Kondisi ini dipicu salah satunya oleh curah hujan yang tinggi. Genangan air tempat nyamuk aedes aegepty bertelur semakin banyak. “Maka itu masyarakat perlu waspada,” kata Kepala Dinkes Sleman, Nurulhayah menuturkan seperti dikutip dari Republika.co.id, Senin (13/2/2017).
Dikatakan Nurul, puncak jumlah kasus demam berdarah Januari sampai Maret memang selalu jadi yang tertinggi di sepanjang tahun. Sebab bulan-bulan tersebut merupakan periode puncak musim hujan. Tahun lalu saja, ada 150 kasus DBD selama tiga bulan tersebut.
Sebaran DBD terjadi hampir di seluruh kecamatan. Terutama di wilayah padat penduduk seperti Kecamatan Mlati, Ngaglik, Gamping dan Depok. Dinkes sendiri terus berupaya menekan angka kasus DBD dengan cara meningkatkan kegiatan promosi. “Selain itu, kami selalu lakukan pemberantasan sarang nyamuk dan pemantauan jentik. Petugas juga mulai melakukan pendekatan ke keluarga mengenai pencegahan DBD,” kata Nurul.
Sementara fogging atau pengasapan merupakan upaya terakhir. Karena fogging hanya mampu membunuh nyamuk dewasa dan dinilai berdampak buruk bagi lingkungan.
Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinkes Sleman, Novita Krisnaeni meminta masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. Ini dilakukan untuk mengantisipasi sebaran nyamuk DBD.
Beberapa titik yang berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk juga harus diperhatian. Seperti genangan air, penampungan air, dan dispenser. “Pokoknya air yang menggenang harus segera dibuang agar nyamuk tidak bertelur. Kami sudah sering kali mengingatkan ke warga untuk terus menjaga kebersihan lingkungan,” kata Novita. ROL





