Kasus Difteri di Kamp Rohingya Bisa Meluas

Ilustrasi kamp pengungsi Rohingya di Cox Bazar dalam kondisi tidak sehat/ AFP

MYANMAR – Para petugas kesehatan di kamp pengungsi Rohingya khawatir dengan wabah penyakit di pengungsian yang menampung lebih dari 650.000 orang.

Kamp yang sempit, kekurangan gizi dan kondisi kesehatan buruk yang sudah terjadi sebelumnya menambah kekhawatiran karena muncul kasus difteri yang mengkhawatirkan pekerja bantuan.

“Difteri adalah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin. Ini adalah gambaran bagaimana penduduk Rohingya yang tinggal di pemukiman ini, dan mereka memiliki sedikit akses ke perawatan kesehatan di tempat asal mereka di Myanmar,” kata Kate Nolan dari ‘Doctor without Borders’.

Sektor kesehatan Myanmar termasuk di antara yang terburuk di dunia, terutama di daerah dimana konflik etnik dan kemiskinan membatasi perawatan medis.

Sekarang, pembawa difteri yang berpotensi harus mendapat antitoksin dan antibiotik untuk mencegah penyebaran bakteri lebih lanjut di dalam tubuh dan membunuhnya.

“Temukan semua kasus yang dicurigai di kamp dan bawa semuanya ke sini untuk mulai perawatan antibiotik dan tetap mengisolasi mereka selama 48 jam,” ujar Dr. Thomas Hansen, dikutip VOA, Jumat (5/1/2018).

Organisasi Dokter Tanpa Batas dan mitra kesehatan lainnya seperti Federasi Palang Merah Internasional mengisolasi pasien campak dan difteria untuk membantu mencegah wabah memburuk. Tetapi salah satu tantangan terbesar bagi petugas kesehatan adalah sampai ke lokasi terpencil di mana potensi wabah dapat terjadi.

“Mereka tinggal di daerah-daerah yang sulit dijangkau, kita tidak bisa menjangkau mereka dengan mobil atau Tom Toms (kendaraan roda tiga) karena tidak ada jalan, hanya jalan tanah, jadi mereka harus membawa pasien ke tempat di mana mereka bisa mendapat perawatan,” tukas Dagne Hordvei dari Palang Merah Norwegia.

 

Advertisement