KBKNews.id – Jagat media sosial tengah dihebohkan oleh unggahan seorang warganet yang menyeret nama vokalis band D’Masiv, Rian Ekky Pradipta, dalam dugaan praktik child grooming. Pengakuan tersebut memantik diskusi luas, sekaligus kembali membuka ruang kesadaran publik tentang bahaya manipulasi psikologis terhadap anak yang kerap luput dikenali.
Akun Threads @uhhh.melia mengklaim pernah menjadi korban ketika masih berusia 12 tahun. Ia menyebut pendekatan dilakukan secara perlahan melalui komunikasi personal dan kedekatan emosional. Dalam unggahannya, ia mengaitkan keberaniannya bersuara dengan meningkatnya perhatian publik terhadap isu child grooming.
“Banyak orang yang aware dengan ‘child grooming’ karena buku Broken Strings-nya Aurelie. Tapi, pasti nggak banyak yang aware kalau Rian D’Masiv juga child grooming,” tulis akun tersebut, dikutip Sabtu, 17 Januari 2026.
Unggahan itu cepat menyebar dan menuai respons beragam, terlebih karena menyangkut figur publik yang selama ini dikenal memiliki citra positif. Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi maupun pernyataan hukum dari pihak-pihak yang disebutkan dalam unggahan tersebut.
Di luar polemik kasus, peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya pemahaman masyarakat mengenai child grooming, terutama dari sudut pandang kesehatan mental anak.
Child Grooming: Manipulasi Psikologis yang Bekerja Senyap
Secara umum, child grooming merupakan proses manipulasi psikologis yang dilakukan orang dewasa terhadap anak atau remaja. Tujuan membangun kepercayaan dan ikatan emosional, sebelum berujung pada eksploitasi atau pelecehan seksual.
Berbeda dengan kekerasan fisik yang terlihat jelas, grooming kerap berlangsung perlahan dan sistematis. Pelaku sering tampil sebagai sosok yang peduli, suportif, dan memahami perasaan anak. Tidak jarang, pelaku juga berusaha mendapatkan kepercayaan keluarga dan lingkungan sekitar agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Dalam banyak kasus, proses ini memanfaatkan kerentanan anak. Misalnya rasa kesepian, konflik keluarga, atau kepercayaan diri yang rendah. Anak dibuat merasa istimewa, dibutuhkan, dan aman bersama pelaku. Hingga akhirnya, batasan-batasan pribadi perlahan runtuh.
Tahapan dan Pola Umum Child Grooming
Para ahli menjelaskan child grooming bukanlah tindakan spontan, melainkan melalui tahapan yang saling berkaitan. Prosesnya biasanya dimulai dari pemilihan korban yang dianggap rentan, lalu dilanjutkan dengan membangun hubungan emosional.
Pelaku kemudian memenuhi kebutuhan psikologis atau material korban. Misalnya dengan memberi perhatian berlebihan atau hadiah. Setelah kepercayaan terbentuk, anak perlahan dijauhkan dari keluarga dan lingkungan sosialnya. Pada tahap lanjut, pelaku mulai menormalkan pembicaraan atau perilaku seksual, hingga akhirnya terjadi eksploitasi.
Grooming dapat berlangsung secara langsung maupun melalui media online, seperti media sosial, pesan pribadi, hingga game daring. Inilah yang membuat praktik ini semakin sulit dikenali di era digital.
Dampak Serius terhadap Kesehatan Mental Anak
Dampak child grooming terhadap anak tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sangat dalam secara psikologis. Anak yang menjadi korban berisiko mengalami trauma berkepanjangan, termasuk gangguan kecemasan, depresi, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Dalam keseharian, korban dapat menunjukkan perubahan perilaku, seperti menarik diri dari lingkungan sosial, sulit tidur, menurunnya konsentrasi di sekolah, hingga perubahan emosi yang ekstrem. Banyak korban juga mengalami rasa bersalah dan malu, meskipun mereka sejatinya merupakan pihak yang dimanipulasi.
Jika tidak ditangani dengan tepat, luka psikologis ini dapat memengaruhi kemampuan anak membangun hubungan sehat di masa depan serta menurunkan kualitas hidupnya dalam jangka panjang.
Mengenali Tanda Bahaya Sejak Dini
Penting bagi orang tua dan orang dewasa di sekitar anak untuk peka terhadap perubahan perilaku yang tidak biasa. Kedekatan intens dengan orang dewasa tertentu, komunikasi rahasia, sering menerima hadiah tanpa alasan jelas, hingga menjauh dari keluarga dan teman sebaya dapat menjadi sinyal peringatan.
Meski tidak mudah, kewaspadaan dan intuisi orang tua menjadi benteng awal perlindungan. Pelaku child grooming tidak selalu orang asing, melainkan bisa berasal dari lingkungan terdekat atau bahkan figur yang dipercaya.
Pencegahan dan Peran Lingkungan Aman bagi Anak
Pencegahan child grooming membutuhkan peran bersama. Mulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat. Komunikasi terbuka dengan anak, edukasi tentang batasan tubuh dan relasi sehat, serta pendampingan dalam aktivitas online menjadi langkah krusial.
Jika anak berani bercerita tentang pengalaman yang tidak nyaman, orang tua dianjurkan merespons dengan tenang dan empatik. Anak perlu diyakinkan bahwa apa yang dialaminya bukan kesalahan mereka.
Dalam kasus dugaan child grooming, pendampingan profesional seperti psikolog atau terapis kesehatan mental sangat disarankan untuk membantu anak memulihkan diri dari trauma.





