KAIRO, KBKNews.id – Kompleks Katakombe Kom El Shoqafa, yang dibangun pada abad ke-2 Masehi, berdiri megah sebagai saksi bisu kejayaan Romawi kuno. Situs kuburan ini juga diakui secara global sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Abad Pertengahan.
Situs ini bukan sekadar area pekuburan massal biasa, melainkan sebuah struktur vertikal yang dipahat langsung menembus batuan dasar kapur hingga kedalaman puluhan meter.
Sebelum menjadi magnet bagi para arkeolog dan pelancong dunia, keberadaan labirin bawah tanah ini sempat terlupakan dan terkubur oleh waktu selama berabad-abad lamanya. Situs ini baru ditemukan kembali pada 28 September 1900.
Situs ditemukan kembali secara tidak sengaja akibat insiden seekor keledai penarik kereta yang tiba-tiba terperosok ke dalam poros tanah yang ambles. Upaya evakuasi hewan tersebut justru membuka tabir sebuah lubang poros vertikal kuno, yang memicu ekskavasi besar-besaran dan akhirnya menyingkap keberadaan jaringan kuburan terbesar di seluruh daratan Mesir kepada dunia modern.
KBKNews.id berkesempatan mengunjuni lokasi pada Rabu (20/5/2026). Ketika melangkah memasuki area museum terbuka di bagian atas kompleks, pengunjung akan disambut oleh hamparan halaman luas yang dihiasi oleh sisa-sisa pilar penyangga, potongan sarkofagus batu, dan fragmen patung Romawi yang tersebar estetis di bawah terik matahari Aleksandria.

Pintu masuk Katakombe Kom El Shoqafa berada di dalam sebuah bangunan pelindung yang dilengkapi papan informasi denah tiga tingkat bawah tanah. Untuk masuk ke area makam, pengunjung harus menuruni tangga batu spiral yang mengelilingi sebuah poros silinder besar.
Poros terbuka di tengah tangga ini dirancang sebagai ventilasi udara sekaligus jalur khusus untuk menurunkan jenazah dengan tali dan katrol, sehingga tidak mengganggu jalur pelayat yang berjalan kaki. Di lantai pertama, terdapat ruangan bernama Triclinium dengan tiga dipan batu berbentuk “U” tempat keluarga berkumpul untuk ritual perjamuan makan. Berdasarkan tradisi kuno, wadah makanan dari tanah liat harus dihancurkan di lokasi setelah digunakan karena dianggap membawa sial, yang lama-kelamaan menumpuk dan menjadi asal-usul nama “Kom El Shoqafa” (Bukit Pecahan Tembikar).

Di lantai kedua terdapat Ruang Pemakaman Utama yang menjadi inti dari seluruh kompleks ini. Pintu masuknya dihiasi tiang gaya Korintus dan relief ular bersayap, sementara bagian dalamnya menampilkan relief unik para dewa Mesir kuno seperti Anubis dan Osiris yang dipahat dengan gaya tubuh atletis Yunani serta pakaian zirah Romawi. Di dalam ruangan ini terdapat tiga peti sarkofagus berukuran besar yang dipahat langsung dari dinding kapur untuk keluarga bangsawan.
Keluar dari ruang utama, terdapat lorong-lorong labirin yang dipenuhi ratusan ceruk dinding bernama Loculi sebagai tempat pemakaman massal masyarakat umum, di mana beberapa penutup makamnya masih memuat coretan nama dalam bahasa Yunani Kuno.

Masih di lantai dua, terdapat area luas bernama Aula Caracalla yang memuat tumpukan tulang belulang masif. Meskipun sempat dianggap sebagai sisa korban pembantaian massal oleh Kaisar Romawi Caracalla, penelitian modern membuktikan bahwa tulang-tulang tersebut adalah kerangka kuda pacu yang dikorbankan untuk ritual.

Perjalanan wisata dan eksplorasi di katakombe ini harus berakhir di lantai dua, karena lantai ketiga atau tingkat paling bawah saat ini terendam sepenuhnya oleh air tanah akibat lokasinya yang dekat dengan Laut Mediterania. Rembesan air asin ini menjadi tantangan.





