Keadilan Bagi Kasat Sabhara Polres Blitar

Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Hendro Try Susetyo mengundurkan diri karena merasa dizalimi oleh atasannya Kapolres Blitar AKBP Ahmad Fanani.

DI LINGKUP Polri dan TNI yang mengedepankan hirarkis dan militeristis, kasus pengunduran diri seperti yang dilakukan oleh Kasat Sabhara Polres Blitar AKP Agus Hendro Tri Susetyo karena merasa dizolimi atasannya adalah peristiwa langka.

Kekerasan terhadap bawahan, baik fisik, psikis mau pun  verbal, bisa jadi bagaikan fenomena gunung es yang tak muncul di permukaan. Di tengah ketertutupan di balik garis komando dan hirarki kekuasaan, ekses-ekses kasus semacam itu siapa yang tahu?

Padahal, jika kasus-kasus semacam itu terus ditutup rapat-rapat, tak mustahil bisa berpotensi mengancam, minimal melunturkan semangat korsa yang sejatinya harus dijunjung tinggi oleh setiap anggota kedua institusi garda terdepan pengawal ketertiban dan keamanan itu.

Agus yang sudah berdinas selama 27 tahun sebagai polisi, melayangkan surat pengunduran dirinya ke Polda Jawa Timur dan tembusannya a.l.   kepada Kapolri, karena ia merasa diperlakukan kasar dan sewenang-wenang oleh atasannya, Kapolres Biltar, AKBP Ahmad Fanani.

Perwira pertama berpangkat AKP itu mengeluhkan atasannya sering memaki dengan sebutan “nama-nama penghuni kebon binatang” atau kata-kata kasar lainnya dan juga mengancam akan “mencopot”  dia atau bawahan lainnya jika menganggap ada tugas yang tidak dikerjakan sesuai perintah.

“Makian dan lontaran kata-kata tak pantas Kapolres juga dialami rekan-rekan saya lainnya, “ tutur Agus.

Selain kasar, Agus mengaku, atasannya itu juga jarang memberikan arahan mengenai tugas yang harus dilaksanakan, bahkan melakukan pembiaran pada kegiatan penambangan pasir liar dan judi sabung ayam di wilayah yang menjadi wewenang pengawasan Polres Blitar.

Agus di hadapan awak TV yang mewawancarainya, dengan lantang juga berharap agar pimpinan tertinggi negara dan kapolri bersedia mendapatkan informasi sesungguhnya tentang kinerja kepolisian di Blitar.

“Presiden dan Kapolri harus mengetahui persoalan ini, ” tandas Agus.

Sebaliknya, Fanani berkilah, Agus tidak terima ditegurnya karena membiarkan anak buahnya berambut gondrong, dan ia baru sekali menegurnya serta tidak pernah memaki-maki dengan kata-kata kasar seperti diutarakan Agus.

Mata Berkaca-kaca

Saat mendatangi Mapolda Jatim (1/10), Agus tampak dengan mata berkaca-kaca menahan tangis pamit dan meminta maaf pada rekan-rekannya serta menyatakan mengundurkan diri dari Polri tanpa menuntut apa-apa.

“Untuk isteri saya, jangan khawatir. Kita masih bisa makan dengan garam. “ serunya seperti ditayangkan oleh Kompas TV.

Pengunduran diri AKP Agus juga disorot Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni dan anggotanya, Arsul Sani dari F-PPP yang meminta Mabes Polri mengirimkan tim Profesi dan Pengamanan (Propam) dan Irwaskum (Inspektur Pengawas Umum) untuk mengusutnya.

Jika apa yang diungkapkan oleh Agus benar, tentunya melalui investigasi yan fair, selayaknya Agus selain diminta untuk berdinas lagi, juga dianugerahi penghargaan karena rela berkorban, menyatakan kebenaran, melawan atasannya.

Bisa jadi, kasus Agus bisa menjadi preseden positif, mendorong bawahan untuk berani melaporkan kesalahan dan kesewenang-wenangan atasan, khususnya di lingkup institusi Polri dan TNI.

Namun demikian, semuanya tentu harus terukur, karena ketegasan garis komando juga perlu dijaga di kedua institusi tersebut, karena bisa dibayangkan, jika anak buah begitu mudah protes atau melawan atasannya.

Disiplin dan loyalitas penting, tetapi atasan yang sewenang-wenang dan berbuat kesalahan juga penting untuk tak dibiarkan!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

khman.

Advertisement