Vaksin Bukan Lawan Pamungkas Covid-19

Lebai atau keliru jika menganggap kehadiran vaksin yang ditunggu-tunggu adalah solusi satu-satunya melawan pandemi Covid-19. Sekarang yang penting adalah mematuhi protokol kesehatan: pakai masker, sering cuci tangan dan jaga jarak.

PERNYATAAN berlebihan atau lebai para pejabat terkait kehadiran vaksin dalam waktu dekat bisa, malah bisa melemahkan upaya penanganan pandemi Covid-19 yang sedang dilakukan.

“Tidak satu pun pakar yang bisa menjamin vaksin pasti aman, juga untuk memastikan, uji klinis yang sedang dilakukan berhasil, “ kata Ahli Biologi Molekuler, Ahmad Rusdan Utomo dalam diskusi di stasiun TV (2/10).

Kerjasama pembuatan vaksin Covid-19 antara Sinovac, China dan PT (Persero) Biofarma sejauh ini sudah dalam uji klinis tahap III melibatkan 1.620 relawan  dan diharapkan rampung dan bisa   dirpoduksi massal paling cepat awal 2001.

PT Kimia Farma juga menggalang kerjasama dengan perusahaan China lainnya, Sinopharm bersama Uni Emirat Arab untuk memproduksi vaksin G-42 yang sejauh ini juga sudah memasuki uji klinis tahap III.

Selain itu, Indonesia saat ini juga berupaya mengembangkan sendiri vaksin di dalam negeri antara Kemristek, Badan Riset dan Inovasi Nasional serta Lembaga Eijkman.

Sementara Pengurus Pusat Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI)Hermawan Saputra juga mengingatkan agar pejabat pemerintah berhati-hati menyuarakan optimisme terkait kehadiran vaksin Covid-19 dalam waktu dekat ini.

“Pernyataan berlebihan bisa menjadi harapan semu sehingga masyarakat malah enggan mematuhi protokol kesehatan. Ini bisa menjadi bumerang, “ ujarnya dalam suatu diskusi daring.

Hermawan menyebut a.l pernyataan gegabah khasiat kalung kayu putih yang disampaikan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasir Limpo dan metode pengobatan tradisional Bali dengan minuman arak seperti disampaikan oleh Gubenur Bali Wayan Koster.

Jika vaksin sudah tersedia untuk disuntikkan ke publik, itu pun  butuh waktu, kesiapan SDM dan logistik untuk menjangkau paling tidak separuh dari 262 juta penduduk yang tersebar di ribuan pulau.

Prioritas pemberian vaksinasi juga dilakukan bertahap, mulai dari tenaga kesehatan yang paling rentan terinfeksi Covid-19, pekerja sektor layanan umum dan pendidikan, kaum lansia dan lainnya.

Bercermin pada keberhasilan Selandia Baru atau Taiwan mengendalikan pandemi Covid-19, menurut epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman, langkah yang penting yakni  peningkatan tes, pelacakan dan isolasi guna memutus rantai penularan.

Sementara DKI Jakarta yang memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dari 10 April sampai 3 Juni, dilanjutkan dengan lima kali perpanjangan PSBB Transisi sampai 14 September dan kini memasuki lagi masa PSBB diperketat sampai 28 September ternyata tidak efektif untuk mengendalikan penyebaran Covid-19.

Hal itu terjadi karena akumulasi persoalan, mulai dari minimnya sosialisasi, tidak konsistennya pengawasan dan juga pengenaan sanksi serta disiplin rakyat yang masih rendah mematuhi protokol kesehatan.

Jadi, jangan bermimpi, ketersediaan vaksin satu-satunya solusi menghentikan penyebaran virus SARS-Cov-2, karena yang tidak kalah pentingnya, kepatuhan pada protokol kesehatan.

Pakai masker, sering cuci tangan dan jaga jarak!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement